
Toga memukul dinding kampus dengan kasar, "Ahhh," teriak nya tidak terkendali.
"Dari pada lu emosi sama orang nggak tepat di sini, mending lu pulang dan lihat kondisi mereka langsung," ucap Ellia.
Darah Toga rasanya mendidih mendengar perkataan Ellia, yang di katakan Ellia memang benar, tapi seperti menyiram bensin di atas bara api, itulah yang terjadi sekarang, "orang yang nggak tepat? justru lu orangnya, lu sumber masalah ini tau nggak? lu penyebab semuanya jadi kacau kagak gini," ucapnya meracau.
Yuda mengamati teman baiknya itu, ia tidak tau jika Toga memiliki tempramen seperti ini, laki-laki itu bahkan sudah menaikkan tangannya hendak menampar Ellia, namun di hadang oleh Yuda.
"Dia wanita yang kita cintai," ucap Yuda.
"Persetan dengan cinta, dia penghancur," ucapnya semakin tidak terkendali.
Toga mendorong tubuh Yuda dan hendak melayangkan tangannya di wajah Ellia, namun sebuah tangan menghentikannya.
"Aku sudah bilang jangan menyentuh kakak ku," ucap Iriana yang baru saja datang dan tidak sengaja melihat kejadian ini.
"Iriana?"
Terlihat wanita cantik saat ini menghadang Toga dengan tubuhnya, "Lu siapa ? jangan ikut campur dan pergi dari sini," ucap Toga yang hendak mendorong tubuh Iriana.
Namun gadis itu tidak bergerak sama sekali, bahkan tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya.
"Apakah peringatan Ikram dan Ifraz masih tidak bisa kau dengarkan ? harus kah membakar mu hidup-hidup baru kau bisa tenang," ucap Iriana lagi.
"Lu siapa ?"
"Nggak penting gua siapa, yang jelas orang yang akan mengakhiri nyawa lu, kalau sampai terjadi apa-apa padanya," ucap Iriana.
"Cukup An, kita pergi sekarang," ucapnya pada Iriana.
"Jika kakakku tidak baik mungkin kalian sudah menjadi babi panggang," ucap Iriana lagi sebelum pergi.
"Sudah ayo, ayo kita pergi saja," ucap Ellia menarik tangan adik iparnya ini, membiarkannya di sana akan menghebohkan seisi kampus pikirnya.
"Kenapa seorang diri datang ke sini ?" tanya Ellia.
"Aku ingin makan es krim, tapi ada berita abang sedang menggila dan membuat lautan api di atas lahan kebun milik Dirgantara, karena aku khawatir aku langsung saja berbelok kesini dan melihat kakak ipar, ternyata benar kan dugaan ku ?" tambah Iriana.
"Sudah, karena aku juga di keluarkan dari kelas, ayo kita makan es krim saja, aku sedang ingin makan yang besar, mood ku juga tidak cukup baik, aku ingin makan makanan manis yang banyak sekali," ucap Ellia yang berjalan menuju mobil dengan tangan membulat di udara, seolah menggambarkan betapa dia ingin makan es krim besar.
"Kakak, pakai mobilku saja," ucap Iriana.
"Oke," ucapnya.
"Aku bersama Iriana saja ya pak," ucapnya berpamitan pada sopir yang biasa membawanya.
"Baik Nyonya, saya akan tetap berada di belakang mobil nona muda ketiga," ucap sopir itu sopan.
"Oke," ucap keduanya yang langsung melesat dengan mobil sport berwarna putih milik Iriana.
"Kenapa memakai mobil ini ? ini terlalu menarik perhatian," ucap Ellia ragu.
"Tidak apa, aku bisa mengatakan kalau kakak temanku, setelah ini tidak ada siapapun yang bisa mengganggu kakak dengan identitas ku ini," ucap Iriana,
"Oke baiklah," ucapnya dengan sebuah senyum.
"Mudah sekali kakak ipar melupakan apa yang baru saja terjadi di depan matanya, terlalu baik, kalau aku jadi dia, dia akan ku bawa ke gua momo mochi atau memasang alat listrik di tubuhnya," pikir Iriana.
"Mau cari es krim dimana ?" tanya Ellia.
"Aku tau tempat yang bagus,"
"Rasanya enak nggak ? " tanyanya lagi.
"Kalian berdua selama menikah hanya di mansion saja, tidak pernah berkencan, dinner romantis atau pergi ke pasar malam, abang benar-benar sudah tua, tidak tau selera anak muda seperti kita kak,"
"Sudah biarkan saja,"
"Kakak nanti bilang saja pada abang tentang semua yang kakak ipar inginkan, abang pasti akan langsung menurutinya, jangan biarkan saja terus, abang memang peka, tapi harus ada inisiatif dari kita dulu untuk bilang padanya, baru sesuai permintaan kita," ucap Iriana lagi.
Cukup lama mereka berbincang di dalam mobil, hingga tidak terasa keduanya sudah sampai di depan sebuah rumah makan khusus es krim, ini benar-benar mewah, Ellia juga tau tempat ini, tapi melihatnya saja sangat takut untuk masuk.
"Tau tempat ini kan ?" tanya Iriana.
"Tau, tapi bermimpi untuk datang saja tidak berani, jangankan bermimpi untuk datang, melihatnya saja sudah merasa kecil," ucap Ellia jujur.
"Sekarang sudah ada mesin atm berjalan di samping kakak ipar, lain kali langsung beli saja dan habiskan uang abang, hahaha," ucapnya tertawa puas.
"Betul juga," jawab Ellia.
Keduanya memasuki sebuah pintu yang sudah di sambut oleh beberapa orang pelayan, "selamat datang nona Iriana, kami sudah menerima reservasi atas nama anda,"
"Aku belum memesan,"
"Asisten tuan muda Ikram yang memesan atas nama anda," ucapnya.
"Ah, Nando ?"
"Iya nona," ucap pelayan itu.
Iriana menarik Ellia yang berjalan tidak jauh darinya, "lihat kan? mesin atm berjalan sedang bekerja, sebelumnya dia bingung bagaimana cara menghabiskan uang yang tidak pernah bisa habis," ucap Iriana.
"Benarkah ? itu bukan ucapan sombong mas Ikram saja,"
"Tentu saja benar kakak ipar, karena uangnya banyak, akhirnya abang membuat banyak sekali rumah sakit, itu untuk menghabiskan uang, eh malah untungnya makin banyak, lucu kan ?" ucap Iriana lagi yang hanya di jawab gelak tawa oleh keduanya.
***
Mansion
Zelin mulai mengemasi barang miliknya yang berada di kamar tamu, sebelumnya kamar ini memang sudah di berikan Ikram untuknya, ia sempat meletakkan baju dan segala hal yang ia butuhkan di dalam kamar ini, karena khawatir terjadi sesuatu mendadak yang mengharuskan dia untuk tinggal sementara di sini.
Namun, karena hubungan dirinya dengan keluarga ini sudah berakhir, ia juga tau diri dan membawa pergi semua barang miliknya.
Setelah semua siap, beberapa orang membantunya turun dan memasukkan barang ke dalam mobil.
"Hati-hati nona, sampai bertemu kembali nanti," ucap pelayanan pada Zelin.
"Mungkinkah ada waktu bertemu kembali nanti, rasanya aku sudah malu untuk bertemu mereka semua nanti," batinnya.
"Sampaikan salam ku untuk semuanya ya, aku pamit pergi dulu," ucap Zelin.
Zelin menatap mansion besar di hadapannya, ia baru beberapa kali tinggal di tempat ini, sebelumnya ia berfikir rumah sebesar ini pasti akan terasa dingin, namun di dalamnya benar-benar hangat, sangat hangat, entah rumahnya yang hangat, atau orang-orang yang tinggal di dalamnya yang membuat hangat.
Namun ia tersenyum, "aku pergi, aku akan meninggalkan cintaku di dalam rumah ini, semoga bahagia Ikram," ucapnya dalam hati dengan sebuah senyum terukir di bibirnya.
Baru saja ia hendak masuk, seseorang menghentikan gerakannya.
"Tunggu kak,"
***
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak semua