Ellia's Husband

Ellia's Husband
Cinta Toga



"Permen ku," ucap Ellia kecewa.


"Wah, Ellia," teriak yang lain saat sadar ada sosok tampan lain yang kini berada tepat di depan meja Ellia.


Ifraz masih menatap wajah kecewa Ellia, mendekati wajah kakak iparnya itu, "aku sudah menyiapkan banyak sekali permen caramel di kamar kakak ipar, tapi jika kakak ipar mengambil satu yang ku makan tadi, lihatlah wajah menyeramkan abang, aku tidak ingin Hari-hariku berantakan karena moodnya yang tidak bagus, dia masih ada pertemuan dengan para orang penting malam ini," bisik Ifraz tepat di telinga Ellia.


Semua orang melihat iri dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Ifraz pada Ellia, Ellia melihat wajah suaminya yang tertutup tubuh Ifraz, terlihat sekali aura menyeramkan pada dirinya.


"Siapa suruh membuatku malu di kelas, biarkan saja dia cemburu," ucapnya pelan yang membuat tawa Ifraz tidak bisa berhenti.


"Dokter Ifraz bisakah kami meminta tanda tangan dan nomor anda, saya khawatir ada salah seorang keluarga yang sakit dan membutuhkan bantuan anda," ucap salah seorang mahasiswa yang dengan berani berucap dan mendekati Ifraz.


"Ah, untuk tanda tangan saya bukan artis, kedua tanda tangan saya sangat berharga untuk pengelolaan perusahaan, jadi tidak bisa memberikan tanda tangan sesukanya, masalah keluarga yang membutuhkan bantuan dokter, bisa langsung datang ke rumah sakit kami, semua dokter di rumah sakit kami sangat hebat dan bertanggungjawab, ini nomor UGD rumah sakit kami yang ada di kota ini, kalian bisa menghubungi mereka jika terjadi sesuatu," ucap Ifraz yang mana membuat semua orang yang ada di sana cukup tercengang dengan jawaban yang keluar dari laki-laki berwajah tampan itu.


Berbeda dengan semua orang, Toga bergetar hebat di kursinya, keringat keluar satu demi satu, kejadian saat itu bersama Ifraz cukup membuatnya shock hebat sampai orang tuanya memanggil dokter khusus dan melakukan terapi padanya.


Sudah beberapa minggu sejak kejadian itu ia bisa mengalahkan ketakutan dalam dirinya, namun hari ini begitu melihat Ifraz lagi, semua hal yang terjadi di rumah ini kembali terlintas di pikirannya.


"Toga lu kenapa? lu nggak kumat lagi kan?" tanya Yuda panik.


Yuda dengan segera mengambilkan air untuk Toga dan menutupi tubuhnya agar tidak melihat Ifraz yang masih berdiri di sana.


"Ifraz, ada apa? kenapa sampai turun kesini," tanya Ikram saat beberapa orang mulai ramai dengan kedatangan Ifraz.


"Melihatnya dari dekat , dia sangat cantik abang," ucap Ifraz sekenanya yang langsung di sambut beberapa teriakan oleh semua orang yang ada di sana.


"Naik dan jangan membuat gaduh di kelasku," ucap Ikram dengan wajah datar.


"Oke cantik, aku naik ke atas dulu," ucap Ifraz sebelum beranjak dari sana dengan sebuah kedipan mata yang terlihat sangat jelas oleh semua orang yang ada di sana.


Pandangan iri benar-benar tidak lepas dari Ellia, Ellia menatap Ikram yang juga tengah menatapnya, namun tidak mau terlalu lama ada di sana, Ellia berdiri dari kursinya dan mengambil makanan yang tidak jauh di sana.


"Beneran enak banget jadi Ellia, nggak perlu bersusah payah semua cowok hebat selalu dateng deketin dia," ucap salah seorang lain yang tidak sengaja terdengar oleh telinga Ikram.


"Ya udah lah, Ellia emang cantiknya kebangetan, nggak banyak tingkah juga, wajar aja dong banyak yang deketin" ucap Vania yang menjawab begitu saja ucapan teman-temannya.


"Dia marah padaku?" gumam Ikram.


"Profesor anda tidak makan?"


Pyar


Suara keributan membuat Ikram berpaling tanpa sempat menjawab pertanyaan mahasiswa nya, "ada apa?" tanyanya yang langsung mendekati Toga dan Yuda.


"Ada apa?" tanya Ikram.


"Tidak masalah prof, dia memang seperti ini," jawab Yuda.


"Apa masalahnya, bawa saja masuk ke dalam, adik saya yang akan mengobatinya," ucapnya pada Yuda ketika melihat kondisi Toga yang semakin bergetar hebat.


"Dia memang sering seperti ini Profesor, anda tidak perlu khawatir," ucap Yuda lagi.


"Ada apa Yud, kok mendadak Toga jadi kayak gini?" tanya temannya yang lain yang kini mulai berkerumun.


"Bawa masuk ke dalam atau kau ingin semua orang di sini tau tentang apa yang terjadi padanya," bisik Ikram di telinga Yuda.


"Ba, baik Profesor,"


"Kalian semua bisa lanjutkan, anggap saja rumah sendiri," ucap Ikram yang langsung masuk mengikuti beberapa orang yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mansion.


Ellia hanya menatap beberapa orang yang ada di sana, "El, lu nggak masuk ?"


"Udah males ketemu mereka, udah terlanjur sakit hati gua,"


"Hey nggak boleh gitu non, gimanapun dia tetep temen kita, lu masuk gih, lihat kondisinya gimana, kan lu juga tuan rumah," ucap Vania.


"Oke deh," ucap Ellia yang melihat beberapa orang sedang menatap ke arahnya.


"Uhm, mbak kamar mandi dimana ya ?" tanya Ellia berpura-pura.


"Silahkan, saya akan mengantarkan anda," ucap orang tersebut sopan.


Ellia mengikuti orang yang berjalan lebih dulu di depannya, hingga sudah mulai memasuki mansion, pelayan itu berkata, "teman anda ada di kamar tamu nyonya, sudah ada tuan muda pertama dan tuan muda kedua di sana," ucapnya seolah faham dengan apa yang di inginkan Ellia.


"Kamar tamu yang mana," tanyanya, karena memang sangat banyak sekali kamar tamu di rumah ini.


"Saya akan mengantarkan anda,"


Beberapa orang sudah ada di sana, Ellia masuk perlahan, Toga menunjukkan gejala tidak ingin di dekati, ia terus menolak semua orang yang hendak mendekati nya.


"Dia tau siapa aku yang bagaimana sampai bisa ketakutan seperti ini?" tanya Ikram tiba-tiba.


"Anda tau Profesor?"


"Kau pikir ayahnya bisa mencari tau tentang ku dan adikku saat aku tidak menginginkan dia untuk tau?"


"Ini rencana anda?"


"Bukan rencana, kalian mencari tau, aku hanya membuka informasi seluas-luasnya, apakah aku salah?" tanya Ikram.


"Aku sudah memberikan obat penenang padanya, sementara dia bisa lebih rileks dan cukup bisa menerima kenyataan," ucap Ifraz.


"Menerima kenyataan?" ulang Yuda.


"Bukankah sangat jelas sekali kalau dia mencintai kakak ipar ku? ku kira kalian faham," ucap Ifraz.


"Mencintai ku?" tanya Ellia.


"Ellia," panggil Yuda begitu mendengar suara Ellia.


"Tidak mungkin, dia selalu berkata buruk tentang ku, mengatai aku pelacur, dan semua hal buruk yang lain, tidak mungkin dia mencintai ku," ucap Ellia lagi.


"Ellia, Ellia," panggil Toga lirih yang sudah mulai berangsur-angsur masuk ke dalam alam bawah sadar nya.


***


Khusus hari ini dan besok, author hanya bisa up 1 chapter setiap harinya, karena ada kegiatan lain yang tidak memungkinkan untuk menulis.


Sampai ketemu 2 chapter di hari senin.


Happy weekend