Ellia's Husband

Ellia's Husband
Perlahan-lahan Mundur



"Yakin tidak ada apa-apa ?" tanya Ikram lagi.


"Hehe, mas Ikram sudah tau kan ? ini mas Ikram yang ganti tasnya kan ?" ucap Ellia lagi


"Lain kali tidak perlu menyembunyikan apapun dariku oke," ucap Ikram.


"Siapa yang memberi tahu mas Ikram, aku sudah bilang pada pak sopir untuk merahasiakannya dari kalian semua,"


"Kau pikir benda di telingamu itu tidak bisa bicara ?"


"Hah ?" ucap Ellia kaget yang reflek memegang telinganya.


"Ini ?" ucap Ellia memegang benda yang tidak pernah lupa di pasang Ikram di telinganya setiap hari.


"Itu merekam dengan jelas semua hal yang kakak ipar kerjakan, saat kakak ipar menekannya, artinya lokasi dan semua hal yang terjadi di sana akan tersimpan otomatis, setelah itu tidak akan sulit bagi Iriana untuk mengetahui apa yang terjadi pada kakak ipar, berbohong pun tidak ada gunanya,"


"Secanggih itu ?" tanya Ellia tidak percaya.


"Ingat hewan kecil yang kakak ipar tangkap waktu kelas bang Ikram ?" ucap Nadin.


"Nyamuk ?"


"Hahaha, itu anak-anak Iriana yang tersebar di sekeliling kita di mansion ini, tepat saat itu Iriana meminta mereka ikut dengan kakak ipar,"


"Hah ? benarkah ? sampai seperti itu ?" ucapnya takut menatap Ikram, kalau kalau apa yang ia lakukan di dalam kamar juga ikut terekam.


"Jangan khawatir, kamarku memiliki sistem khusus, semua benda elektronik yang masuk ke dalam tanpa izin akses akan mengalami kerusakan sistem, dia juga tidak akan berani memata-matai aku," ucap Ikram.


"Syukurlah," ucap Ellia bernafas lega.


"Lain kali beritahu kita, jangan menyimpan sesuatu yang menyulitkan sendiri, yang mereka lakukan sudah keterlaluan," ucap Ikram.


"Iya," ucapnya seperti anak kelinci, benar-benar penurut.


"Makasih mas," ucap Ellia yang langsung memeluk Ikram.


"Masalah anak-anak nakal itu aku akan mengurusnya,"


"Sudah jangan di urus, biarkan saja, aku tidak mau bercerita karena takut mas Ikram akan berbicara seperti ini, sudah biarkan saja ya, aku kan tidak apa-apa," ucapnya pada Ikram memelas.


"Baiklah terserah padamu saja," ucap Ikram pasrah.


"Dimana yang lain ?" tanya Ellia.


"Iriana masih tidur ?" tanya Ikram.


"Aku sudah bangun abang," ucap Iriana yang memeluk singkat Ikram sebelum duduk di kursinya.


"Kakak ipar baik-baik saja ?" tanya Iriana.


"Baik, aku baik-baik saja," ucapnya gembira.


"Aku sangat menyukai kakak ipar yang hilang kendali seperti kemaren," ucap iriana lagi.


"Itu, yang mana ?"


"Yang kakak ipar bersama penggemar Ifraz itu,"


"Heh, kalo ngomong nggak usah ngawur, penggemar apanya, itu sudah level anarkis," ucap Ifraz tidak terima.


"Tapi memang boleh hilang kendali seperi itu kakak ipar, lain kali aku akan mengajari kakak ipar sedikit jurus untuk membantai mereka di tempat,"


"Ah sudahlah, aku bahkan harus terkunci di kamar mandi, benar-benar menggelikan, istri Ikram Al Zaidan sampai terkunci di kamar mandi, ah bodoh sekali aku," ucap Ellia tidak ingin mengingat kembali momen itu.


"Tapi itu sangat bagus kakak, kalah di awal tidak apa, di belakang kakak ipar sudah ada abang yang sehebat ini, nanti kakak juga akan sama hebatnya," ucap Iriana.


Zelin datang dari arah depan, "dari mana ?" tanya Ikram.


"Melihatnya," ucapnya singkat.


"Nadin,"


"Ah iya kak," ucap Nadin gugup karena tau siapa wanita di hadapannya ini.


"Terimakasih sudah membantuku menjaganya," ucap Zelin.


"Hah ? bang Ikram yang," ucap Nadin yang langsung di hentikan oleh Ifraz.


"Makan dan duduklah dulu, pagi-pagi sudah menguras emosi dan tenaga mu untuk hal yang tidak berguna, membuat mood berantakan saja, makanlah dulu," ucap Ikram.


"Kau membiarkannya hidup sampai sekarang, ini seperti bukan kamu," ucap Zelin yang sudah duduk.


"Yah, akhir-akhir ini aku terlalu berperasaan, tapi aku memang sedang malas mengurusnya sekarang," ucap Ikram yang menyambut makanan dari tangan Ellia.


"Iriana ?"


"Maaf sudah melibatkan mu dalam permainan konyol kami," ucap Zelin.


"Tidak masalah, aku senang bermain dengannya," ucapnya masih riang seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Cukup lama diam, semua orang seolah tidak ada yang berani bicara, "aku membawanya kembali boleh tidak ?" tanya Zelin cukup ragu dengan nada suara bergetar yang di sambut dengan tatapan aneh semua orang.


"Karena dia masih suamiku," ucap Zelin.


"Tidak boleh," jawab Iriana tanpa berfikir.


"Aku juga tidak setuju," jawa Ifraz ikut memberi pendapat.


Ikram hanya melihat Zelin yang menarik nafasnya perlahan, "bawa saja," ucap Ikram.


"Abang," ucap Ifraz dan iriana tidak terima.


"Bawa dan pergi dari sini," ucap Ikram lagi.


"Abang, dia akan membawa bencana dan masalah untuk kita lagi,"


"Dia pasti akan membalas dendam dan terus menyakiti abang dengan segala caranya,"


"Biarkan saja, sampai dia puas, sampai dia lelah dan berhenti," ucap Ikram.


"Abang, kita tidak bisa bersikap terlalu baik terhadap orang lain," ucap Iriana lagi.


"Iriana sehat dan bisa ada di sini bersama kita, abang udah sangat bersyukur, dia membalas dendam, kemudian kita membalas dendam, dia membalas dendam lagi, lingkaran setan ini tidak akan pernah berakhir, bahkan bisa sampai ke anak cucu kita nanti," jelas Ikram.


"Karena itu Iriana, bukan abang tidak menghargai semua usaha yang kalian lakukan, abang sangat berterimakasih karena kalian sangat menyayangi abang sampai sebesar ini, tapi keputusan ini bukan karena hal itu, abang memilih berhenti terlepas seberapa banyak kali dia ingin membalas dendam di masa depan, terserah, abang sudah tidak perduli lagi, terserah dia mau berapa kali berusaha membunuh, memanipulasi atau bahkan menghancurkan abang tanpa sisa, karena satu, Anak-anak kita nanti juga harus bahagia, mereka tidak perlu mengurus dendam ayahnya, dendam keluarganya." ucap Ikram.


Semuanya menunduk, memang benar yang di katakan abangnya, jika ini tidak di putus, maka sampai anak cucu mereka nanti juga hanya akan sibuk membalas dendam keluarga.


"Mengerti sampai di sini dek?" tanya Ikram menggenggam lembut jemari Iriana.


Iriana menatap Ikram, "abang pasti punya pertimbangan sendiri, semua yang dia lakukan, semua keputusan yang dia ambil selalu mempertimbangkan keselamatan kami," batin Iriana.


Iriana mengangguk, "kakak bawa saja dan pergi," ucap Iriana kemudian.


"Aku akan menyerahkan benteng hitam padamu dan memulai hidupku sendiri," ucap Zelin.


"Dengan laki-laki yang sama sekali tidak kakak cintai?" tanya Ifraz.


"Aku bisa belajar, aku berjanji dia tidak akan bisa mengganggu kalian lagi," ucap Zelin.


"Andara," panggil Ikram.


"Iya tuan muda,"


"Urus surat atas nama ku, tentang pemindahan tanggung jawab bisnis di bidang senjata militer, paman Ginanjar akan menjadi penanggung jawabnya mulai sekarang, dan benteng hitam ku kembalikan pada Zelin Alexander,"


Deg, ini adalah sebuah hal yang bahkan Zelin sangat takut untuk bermimpi.