Ellia's Husband

Ellia's Husband
Jagung bakar 3



"Bukan tiga sayang, aku adalah kartu as utama nya, memilikiku sama dengan memiliki semua kartu as sekaligus," ucap Ikram yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang kecil Ellia.


"Sudah dengar suamiku bilang apa?" ucap Ellia yang tidak di jawab oleh semua orang yang ada di sana.


"Bos,"


"Andara," panggil Ikram.


"I, iya bos,"


"Kudengar kau masih memiliki seorang adik laki-laki di kota lain, hanya mau memberitahu mu, rumah sakit tempat dia di rawat adalah salah satu aset milik ku, tau maksud ku bukan?"


Wajah Andara semakin pucat, "seharusnya bersyukur aku masih menerimamu menjadi sekertaris pribadi di tempat ini, tidak semua orang seberuntung dirimu, jangan buat aku mengambil keputusan yang akan merugikan mu nanti," ucap Ikram.


"Dan kalian, hobi banget kayaknya jadi pengacau hidup orang, siapa tau mau jadi korban, aku siap mengacaukan hidup kalian," tambah Ikram masih dengan sebuah senyum di wajahnya, namun justru terlihat semakin mengerikan.


"Ma... maaf bos, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"


"Wah, rasanya tidak mudah, dia belum tentu bisa memaafkan mu," ucap Ikram menunjuk pada Ifraz yang sudah menatap tajam pada mereka saat ini.


"Matilah Andara, bos kedua bahkan sangat sulit di hadapi dari pada bos Ikram," batin Andara.


"Kita pergi saja mas," ucap Ellia mengajak suaminya.


"Ku serahkan semuanya padamu Aro, aku tidak ingin hal ini terjadi lagi," ucap Ikram yang sudah berjalan membelakangi Aro.


"Siap bos," ucap Aro.


"Kakak ipar kemari," ucap Iriana.


Baru saja Iriana mengangkat tangannya, sebuah panggilan telfon menggerakkan tangannya untuk mengambil sebuah ponsel di saku jaket yang ia kenakan, namun sebuah nama membuatnya cukup ragu untuk menerima telfonnya.


"Minta dia datang kesini, membawamu seharusnya berpamitan dulu padaku," ucap Ikram seolah tau siapa yang tengah menghubungi adiknya ini.


"Iya bang,"


"An makan jagung bakar yang rasa apa?" tanya Ellia agar tidak kikuk.


"Aku yang pedas manis kakak ipar,"


"Uhm, aku yang apa ya," pikir Ellia.


"Ambil saja dua-duanya," ucap Ikram yang melihat Ellia bingung memilih dua pilihan rasa yang ada di depannya.


"Nanti tidak habis,"


"Memangnya ada yang tidak bisa di habiskan oleh Ellia," ucap Ikram.


"Ada," jawab Ellia singkat.


"Apa,"


"Mas Ikram," jawabnya pelan.


"Malam ini mau di habiskan tidak?" ucap Ikram lagi tapi hanya di jawab pelototan mata Ellia.


"Aku hanya akan menghabiskan jagung malam ini," ucap Ellia.


"Habiskan saja, habiskan sampai puas, agar bisa tidur nyenyak malam ini," ucap Ikram dengan belaian lembut di kepala Ellia.


"Ikram," panggil seseorang.


Sebuah senyum mulai memudar dari bibir Ikram begitu mendengar seseorang memanggilnya.


"Dia hanya memanggil abang dengan sebutan Ikram, hanya Ikram, artinya mereka cukup dekat, tapi kenapa abang tidak begitu suka jika dia dengan Iriana," batin Ifraz yang masih mengamati sosok laki-laki di depannya.


Logan, laki-laki dengan postur tinggi dengan rambut kecoklatan itu memang cukup tampan di bandingkan dengan beberapa laki-laki lain, meskipun Ikram memang tetap lebih unggul.


"Dia siapa?"


"Ah perkenalkan, saya Logan," ucapnya memperkenalkan diri.


"Ah, iya, ikut duduk kemari makan dulu jagungnya, aku akan mengambil jagung yang lain," ucap Ellia ramah dan berlari mengambil jagung yang di bakar tidak jauh dari sana.


Ikram kini membalikkan badannya dengan sebuah senyum yang cukup terpaksa, "duduklah, kau datang kemari sendiri?" tanya Ikram yang sudah duduk tepat di sebelah Iriana.


"Kenapa menunggu aku yang memintamu datang baru datang kesini, kau cukup membuat Iriana dalam kesulitan karena aku mengetahui hubungan yang kalian rahasiakan," ucap Ikram.


"Maaf, aku hanya tidak ingin membuat kehebohan,"


"Pergilah," ucapnya.


"Abang," ucap Iriana.


"Pergilah bersamanya Na, bukankah kalian tadi hendak memakan jagung bersama?" ucap Ikram lagi.


"Benarkah aku boleh pergi?" tanya Iriana senang.


"Pergilah,"


"Ahh terimakasih abang," ucapnya yang memeluk Ikram dan mencium pipi abangnya dengan sayang.


"Hati-hati, ingat pesan abang," teriak Ikram.


"Dia orangnya ?" tanya Ifraz.


Tidak menjawab, hanya sebuah senyuman getir yang terlihat di wajah Ikram.


"Abang, dia yang buat mobil abang meledak waktu itu?" tanya Ifraz lagi.


"Hanya sebuah insiden kecil Iraz, jangan berlebihan,"


"Astaga, kalau dokter William saat itu salah langkah sekali saja, sudah hilang nyawa abang tau nggak, abang masih bilang hanya sebuah insiden kecil?"


"Ifraz tenang, tenang," ucapnya.


"Ada apa sebenarnya ini,"


"Saat itu dia hanya cemburu, semuanya sudah berubah sekarang," ucap Ikram.


"Sudahlah terserah abang saja, aku akan membantu kakak ipar saja," ucap Ifraz meninggalkan Ikram dalam wisata masa lalu.


***


"Dokter Ifraz, bagaimana tadi? ada apa dengan mereka sebenarnya?"


"Entahlah, sepertinya bang Ikram tidak menyukai pilihan Iriana, aku jadi bingung kakak ipar," ucap Ifraz.


"Kenapa memangnya, salahnya Logan apa memangnya,"


"Sepertinya Logan adalah orang di balik kecelakaan yang menyebabkan mobil bang Ikram meledak beberapa tahun lalu,"


"Hah?"


"Tunggu, tapi mereka sekarang berada di kubu yang sama, bagaimana bisa dulunya musuh," tanya Ellia.


"Sebelum Ikram datang, Logan adalah kandidat terkuat yang akan menjadi suamiku, penerus Alexander, ayahku," ucap Zelin.


"Logan tidak pernah tertarik dengan kekuasaan Alexander dan benteng hitam, obsesinya hanya aku, hanya ingin memilikiku dan menikah denganku, segala macam cara ia lakukan, bukan hanya meledakkan mobil, dia juga pernah melempar Ikram dari tebing dan memasukkan Ikram dalam kandang buaya," jelas Zelin yang mana membuat Ellia dan Ifraz terdiam di tempatnya.


"Jadi setiap abang kembali dengan semua luka itu? hasil perbuatannya?" tanya Ifraz dalam hati.


"Menjadi penerus Alexander artinya harus menjadi suamiku, itu yang selalu ayah katakan, jika Ikram penerusnya, artinya dia juga harus menikah denganku,"


"Tunggu, artinya mas Ikram dan anda,"


"Ikram berbeda, dia mengambil benteng hitam dengan cara yang tidak sama seperti penobatan ketua pada umumnya, dan dia juga bilang begini kalau aku tidak salah ingat, aku akan menjaga Zelin tapi tidak untuk menikahinya," ucapnya menirukan cara Ikram berbicara saat itu.


"Lalu Logan?"


"Ikram memintanya menjadi asisten ku, dalam artian menjagaku yang bermaksud menjaga semua hal yang ada di benteng hitam selama Ikram tidak ada di sana, kau tau aset Ikram sangat banyak,"


"Itukah alasan dia tidak setuju jika Logan dengan Iriana?" tanya Ifraz.


Ellia terdiam, "dia bukan tidak setuju, tapi sedang bimbang, ia tidak percaya cinta yang begitu besar untuk Zelin sampai harus mencelakainya kini berpindah pada adiknya, mungkinkah cinta bisa berpindah secepat itu? atau ada maksud lain yang Logan rencanakan?" ucap Ellia berfikir.


***


Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.