
"Aku sedang tidak dalam keadaan baik," tambah Ellia terisak.
"Aku bahkan tidak ingin melewati ini, tanpamu," tambah Ellia lagi.
Ikram yang sudah duduk di hadapan Ellia kini semakin menatap wajah Ellia yang semakin bengkak karena banyak menangis, butiran bening kembali mengalir dari kelopak mata Ikram.
"Maaf tidak menjaga, aku yang salah karena tidak menjagamu sendiri," ucap Ikram sembari memeluk Ellia pelan.
Cukup lama keduanya saling bersandar dan saling menguatkan, kehilangan ini tidak hanya dirasakan Ikram seorang diri, Ellia juga merasakan sakit yang sama karena harus kehilangan bayi, "aku yang harusnya minta maaf tidak bisa menjaga bayi ini dengan baik, aku tidak merasakan apapun sebelumnya, aku bahkan tidak tau jika aku hamil," tambah Ellia di pelukan Ikram.
Ikram hanya diam mendengar Ellia berbicara, mengelus lembut rambut Ellia sebelum kemudian melepaskan pelukannya, "karena aku mas Ikram juga terluka," ucapnya menatap Ikram yang juga tengah menunduk setelah melepaskan Ellia dari pelukannya.
"Maafkan aku mas, aku terlambat untuk memintamu tetap tinggal," ucap Ellia jujur dari hatinya yang paling dalam.
Ikram mengangkat kepalanya, menatap wajah Ellia yang masih banyak luka dan bengkak di sana sini, "sudah, jangan menangis lagi, lihatlah wajahmu ini, bagaimana bisa wajahmu jadi seperti ini, ini sangat parah, sudah jangan menangis lagi, aku memaafkan mu," ucapnya dengan jari mengusap pelan air mata Ellia agar tidak mengenai lukanya.
"Ah," ucapnya pelan ketika jemari Ikram tidak sengaja menyentuh luka di wajah Ellia.
"Sakit ya, maaf maaf," ucap Ikram merasa nyeri sendiri melihatnya.
"Ifraz ?" panggil Ikram dengan setengah berteriak.
"Iya bang," teriaknya balik dan segera datang.
"Tolong ambil kembali ranjang pasiennya," perintahnya.
"Siap abang," ucap Ifraz yang langsung keluar dan di sambut oleh Iriana.
"Gimana gimana ?" tanyanya penasaran bagaimana kondisi di dalam.
"Sudah aman, bisa di atur," ucap Ifraz memberi tanda ok dengan tangan kanannya.
Iriana akhirnya bisa bernafas lega ketika dua orang itu sudah bisa lebih tenang, pasalnya ia yang lebih merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Ellia dengan baik, karena ia ada di sana saat itu.
"Iriana," panggil Ikram.
"Ah, iya bang," ucapnya yang bergegas masuk.
"Iya bang, ada apa," ucapnya lagi ketika sudah masuk di dalam.
"Kemari duduklah di sini, kau tidak memperkenalkan dirimu dengan baik padanya kan ?"
"Hehe," senyumnya menggaruk belakang telinga.
"Seharusnya aku sudah sadar ketika Ana memiliki senyum yang sama indahnya dengan mas Ikram," ucap Ellia dengan jujur.
"Benarkah dia berbicara seperti itu ?" tanyanya pada Iriana.
"Ranjang datang," ucap Ifraz yang seorang diri mendorong ranjang pasien.
"Kenapa lama ?" tanya Ikram.
"Aku hanya ingin mengganti ranjangnya dengan yang lebih besar, aku tidak ingin di ganggu pada saat malam hari ketika bang Ikram tidak ingin tidur di sofa," ucap Ifraz.
"Ye, mana ada, abang akan tidur di sofa nanti,"
"Yakin ?" tanyanya.
"Yakin,"
"Abang udah nggak ketemu kakak ipar dua minggu loh, siapa tau ada yang mau di peluk-peluk gitu," goda Ifraz.
"Ifraz," ucap Ikram lagi ketika melihat wajah Ellia semakin memerah.
"Tapi aku tidak ingin tidur di rumah sakit mas, kita pulang saja, dokter Ifraz bolehkah ? disini tidak nyaman," ucap Ellia memohon.
"Kakak ipar, panggil saja Ifraz, dia tidak perlu di panggil dokter, kita saudara," ucap Iriana.
"Ya sudah kita pulang saja," ucap Ikram seenaknya tanpa meminta persetujuan dari Ifraz.
"Abang, siapa dokternya di sini ? kenapa abang yang jawab,"
"Lalu kenapa abang yang memutuskan ?" ucap Ifraz.
"Siapa yang punya rumah sakit ini ?" tanya Ikram lagi.
"Abang," jawabnya spontan.
"Lalu kenapa seorang dokter sepertimu mengaturku," ucap Ikram yang hanya di respon tawa tanpa ujung oleh Iriana.
"Haha haha sampai akhir nggak akan ada yang bisa ngalahin bang Ikram Iraz, ini sudah takdir," godanya yang menari berputar-putar mengitari Ifraz yang semakin kesal.
"Tuan muda," panggil Ginanjar yang baru saja masuk.
"Hah ?"
"Ada yang harus anda lihat," ucapnya yang kemudian menyalakan sebuah televisi di sana.
Seorang laki-laki yang sebelumnya berjanji akan menyelesaikan masalah ini kini sedang melakukan klarifikasi dan pernyataan di depan banyak sekali awak media.
"Bersamaan dengan ini, saya menyatakan bahwa Ikram Al Zaidan adalah salah satu orang yang harus di lindungi oleh negara, setiap bulan hampir lima puluh persen anggaran yang di biayai negara adalah dana yang di donasikan oleh Ikram Al Zaidan secara pribadi, selain itu, mulai tahun ini setelah peluncuran senjata model terbaru, persediaan senjata militer dan keamanan negara juga donasi yang sama untuk negara dari Ikram Al zaidan, maka dari itu, menyerangnya dan keluarganya adalah sebuah tindakan kriminal yang harus segera di tindak lanjuti dan di berikan hukuman seadil-adilnya,"
"Baru-baru ini terjadi penyerangan yang mengakibatkan istrinya harus mengalami keguguran dan kehilangan calon bayi karena di seret paksa dalam keadaan terluka, maka saya memberi surat terbuka kepada masyarakat untuk bahu membahu menemukan orang yang sudah menyakiti keluarga donatur terbesar negara kita," ucapnya dengan nada serius dan berapi-api.
Foto Maheza kini sudah terlihat di banyak media, presiden negara ini benar-benar menghargai Ikram dan menjaganya dari ancaman orang luar.
Ikram mematikan televisi dengan sebuah remote di tangannya, "ini yang seharusnya ia lakukan sejak awal, hanya menerima uangku saja cukup tidak sopan kan," ucapnya.
"Mas Ikram,"
"Hm,"
"Seberapa besar kekayaan mas Ikram sampai mampu memberikan uang sebanyak itu untuk negara,"
"Aku kan sudah bilang, aku kesusahan menghabiskan uangku, kau kuberi uang tidak mau, Ifraz dan Iriana saja tidak mampu menghabiskan nya," ucapnya.
"Mas Ikram korupsi ?" tanyanya polos.
"Itu tidak mungkin lagi, bagaimana bisa aku korupsi di perusahaan milikku sendiri," tambahnya.
"Iya juga," pikir Ellia.
"Lalu kenapa mas Ikram sangat kaya,"
"Kau tidak melihat Ifraz ? siapa dia ?"
"Dokter,'
"Lalu keuntungan rumah sakit sebesar ini kau anggap apa Ellia ?" tanya IKram.
"Dan ini bukan satu-satunya rumah sakit milik bang Ikram kakak ipar, masih ada beberapa lagi hampir di setiap negara," tambah Ifraz.
"Wah ? aku sedang tidak bermimpi kan ? tapi bagaimana bisa seseorang sekaya itu hanya dari rumah sakit,"
"Kakak ipar tidak melihatku ?" tanya Iriana.
Iriana mengambil tangan Ikram dan memperlihatkan sebuah jam tangan mewah yang ia dengar dari Rara adalah custom khusus dengan harga yang sangat fantastis, "kakak ipar lihat jam tangan ini ?" ucap Iriana.
Ellia mengangguk, "itu jam langka yang hanya bisa di miliki satu orang, karena di desain khusus hanya untuk satu orang saja, dan harganya sangat mahal,"
"Jam ini bisa mendeteksi apa detak jantung dan tekanan darah di tubuh pemiliknya baik-baik saja, kita bisa langsung mengetahui bagaimana kondisi tubuh seseorang dengan jam tangan ini, bukan karena desainnya yang membuat mahal, tapi fungsi yang ada di dalamnya,"
"Lalu apa hubungannya ?"
"Itu aku yang membuatnya kakak ipar," ucap Iriana yang membuat mulut Ellia terbuka lebar-lebar.
"Tu tunggu, bukankah aku hanya lebih muda darinya beberapa tahun, tapi tunggu tunggu, bagaimana bisa di usia itu sudah bisa menciptakan hal-hal semacam ini,"
Ellia menatap semua orang yang ada di sana, "suami milyader, adik ipar dokter, adik ipar ilmuwan, kenapa aku yang terlihat paling bodoh di keluarga ini," batin Ellia menatap semua orang yang ada di sana satu persatu.
TO BE CONTINUED