
Ambil alatnya dan bawa kemari," perintahnya.
"Laksanakan tuan muda," jawab beberapa orang bersamaan.
Tidak berselang lama, ada beberapa orang yang sudah datang di lab milik Ifraz dengan beberapa kamera kecil di tangannya.
"Ini tuan muda,"
"Berikan pada Iriana, dia akan memeriksanya, kalian bisa pergi," ucapnya lagi.
Iriana hanya melihat sekilas benda itu, "dia hanya menang di ukurannya yang kecil, kualitasnya seperti yang ada di pasaran, antara pemiliknya yang tidak tau atau memang bodoh," tambahnya bahkan tidak memegang benda ini sama sekali.
Ifraz mendekat hendak memegangnya, "aah," ucapnya merintih kesakitan.
"Itu alasan aku hanya melihatnya, bahan yang di gunakan memang mudah terkena aliran listrik,"
"Tapi dia sedang tidak terhubung listrik,"
"Lalu semua alat di tempatmu ini apa Iraz ?" ucap Iriana lagi.
"Sudah kita balik tidur dulu saja," ucap Ifraz yang sudah faham dengan arah pembicaraan ini.
"Oke, kita lanjut rapat pagi ini, jangan sampai kesiangan," ucap mereka sedikit lega.
Pukul 08.30
Iriana mengumpulkan semua orang di meja makan kali ini, pak Ginanjar bahkan masih sibuk menguap dari tadi, mata Ellia bahkan masih bengkak.
"Terlihat sekali kakak ipar menangis hingga tertidur, matanya sampai seperti itu," ucap Iriana dalam hati.
"Ada apa Iriana, ini masih terlalu pagi, aku sedang tidak ada kelas pagi ini,"
"Ini lebih penting dari pada kelas kakak ipar," jawab Iriana.
"Sambungkan ke Zelin," perintah Ifraz.
"Zelin? wanita itu lagi,'' batin Ellia dalam hati.
"Kenapa tiba-tiba ingin bicara seperti ini," ucap sosok bernama Zelin di balik layar kaca.
"Oke, langsung saja, aku dan Iriana sudah melakukan beberapa pengamatan, hasil kesimpulan kami, pertama orang yang membawa bang Ikram adalah orang yang tidak cukup pintar, bisa di bilang sedikit bodoh, kedua aku sudah mengirimkan bahan dasar pembuatan alat-alat militer yang mereka gunakan, setelah ini akan kami verifikasi organisasi mana yang bisa membuat senjata semacam ini,"
"Tidak perlu berbelit-belit, dia sudah pasti ada di rumah Hassel, aku akan langsung serbu ke sana saja sekarang,"
"Orang ku sudah mencarinya kak, sudah kosong," ucap Iriana.
"Jejaknya?"
"Tidak ada,"
"Artinya, Ikram tidak bergerak karena dia butuh waktu untuk memulihkan diri setelah ledakan itu, dan jika dia memang bodoh seperti yang kalian katakan, berarti hanya menunggu waktu Ikram kembali, paman yakin dia pasti baik-baik saja," ucap Ginanjar dengan kantuk yang benar-benar tidak bisa dia tahan.
"Tuan muda," panggil salah seorang pengawal.
"Seseorang yang terkena luka bakar beserta seluruh peralatannya sudah datang, hendak di letakkan dimana?"
"Itu untuk siapa dokter Ifraz ?" tanya Ellia sedikit ragu.
"Pengganti bang Ikram,"
Semua orang cukup bingung namun tidak ada yang berani bertanya, Ellia bahkan hanya menatap tanpa arah, terlebih dengan adanya Zelin yang semakin membuat pikirannya tidak beraturan.
"Masukkan di kamar sebelah kamar bang Ikram, Next, kita lanjut langkah berikutnya,"
***
Keesokan harinya
Berita Danial group kembali mengguncang semua orang, berita bahwa Ikram Al Zaidan sudah di temukan dengan luka yang cukup parah sehingga butuh melakukan perawatan lebih intensif dan siapa saja orang-orang di balik nama besar Ikram Al Zaidan kini menjadi topik hangat di masyarakat berbagai kalangan.
Empat pilar sumber kekuatan Danial Group sudah di ketahui oleh media, tentunya semua hal ini merupakan hasil pemikiran dari Ifraz.
Tak hanya itu, Iriana bahkan berhasil menemukan beberapa video lama yang bisa digunakan untuk mengisi kelas Ikram sementara, agar semua bisa teratasi dengan baik.
"Anda berhasil mendidik mereka dengan baik,"
"Astaga, kenapa kau mengagetkan ku Aro," ucap Ikram yang tidak tau jika Aro sudah berada di belakangnya.
"Ini Andara bos, dia sekertaris pribadi tuan Hassel sebelumnya,"
"Pagi bos," ucap Andara penuh hormat.
Ikram hanya mengamati wanita di depannya dari atas hingga bawah, "kenapa semua orang di tempat ini selalu menggunakan baju ketat, sesak sekali aku melihatnya," ucapnya yang kembali melihat ke layar televisi.
Andara menatap tubuhnya, "saya minta maaf bos, kedepannya saya akan berpakaian lebih baik lagi,"
"Tidak hanya kau, semua pekerja perempuan di sini harus memperbaiki pakaiannya, tempat ini seperti sarang wanita malam, pantas saja bau ****** dimana-mana,"
"Maaf bos, ada beberapa hal yang harus di sesuaikan, bos besar dan bos Hassel sebelumnya memang haus meminta mereka semua memakai pakaian seperti,"
"Dia laki-laki atau bukan, bagaimana bisa tidak tertarik dengan tubuh wanita, dulu Hassel selalu memakai kami setiap malam, kenapa dia berbeda," gumam Andara dalam hati.
"Kumpulkan semua orang dalam waktu dua lima menit di ring pelatihan, semuanya termasuk Andara dan semua orang yang ada di sini," perintah Ikram.
"Kondisi anda belum terlihat baik bos, anda istirahat saja terlebih dahulu,"
"Menjadikanku ketua artinya mengikuti semua aturan ku, jika tidak mau kau cukup mampu untuk mengurus semua ini sendiri dan aku aku kembali Aro, aku bukan boneka yang bisa di perintah," jelas Ikram.
"Baik bos,"
Ikram berusaha memakai baju dengan balutan putih di tubuhnya, hampir semua tubuhnya terluka, tulangnya patah, lebam bahkan sayatan ada di mana-mana, tapi tidak menyurutkan keinginannya untuk segera beranjak pergi dari tempat ini dan pulang, karena itu semangatnya untuk bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat tidak bisa surut.
"Ellia," gumam Ikram pelan dengan sebuah senyum terukir di sana.
***
Hari ini waktunya kelas Ikram, beberapa mahasiswa riuh dengan siapa pengganti Ikram untuk sementara, namun Iriana benar-benar sangat pintar dan canggih, dalam satu malam ia berhasil mengamati sampai mana kelas yang di ajar oleh abangnya itu, ia juga mengumpulkan potongan video dan menjadikan nya satu untuk di jadikan materi ajar via video.
"Ellia, lu masih nangis aja,"
"Kelihatan banget ya?"
"Lu jadi kayak nggak ada gairah gini El, liat tuh muka," ucap Vania.
"Oke pulang kelas ini, kita harus ke klinik kecantikan, seharusnya lu perawatan biar profesor Ikram nggak berpaling dari lu, orang setampan itu akan selalu ada banyak rubah betina di sekelilingnya," tambah Rara.
"Gua coba bilang Iriana dulu deh," tambahnya.
"Oke,"
"Ellia," panggil salah seorang dengan suara yang cukup Ellia kenal.
"Kita bisa bicara sebentar," ucap Yuda dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dari biasanya.
"Ini masih kelas," ucap Ellia.
"Kau bahkan tau jika Profesor Ikram tidak ada di sini, kita bisa pergi sebentar, hanya sepuluh menit," ucapnya.
Cukup lama akhirnya Ellia menganggukkan kepalanya, "baiklah,"
Ellia mengikuti kemana Yuda pergi hingga keduanya sampai di taman yang cukup sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk di sana.
"Ada apa?"
Yuda sedikit ragu mengatakannya, "ayahku, bisakah minta tolong melepaskannya, hukuman moral dari masyarakat terhadap kami ku rasa sudah cukup, karena itu... " bibir Yuda berhenti.
"Aku tau dia sangat tidak baik padamu El, tapi tolong pertimbangkan hubungan kita, tolong lepaskan dia, aku berjanji akan menjaganya agar tidak membuat masalah lagi," tambahnya kali ini Yuda bahkan berlutut di kaki Ellia.
"Yuda tunggu, jangan seperti ini, kita bisa bicara seperti biasanya saja, jangan seperti ini, semua orang melihat kita," ucap Ellia khawatir, karena mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian.
"Tolong kembalikan ayahku El, aku sudah tidak memiliki siapapun selain dia," ucapnya penuh permohonan, Yuda yang biasanya percaya diri saat ini sangat jauh dari kata itu.
"Aku akan berusaha bicara dengan mereka nanti, tapi aku tidak bisa lama-lama berada di sini," ucap Ellia khawatir.
"Kenapa, takut tuan muda yang lu layani cemburu? hah ?" ucap Toga yang baru saja datang.