
"Ini apa?" ucapnya ketika melihat sebuah benda berukuran cukup besar berwarna kuning berkilauan tergelatak di sebelah kakinya.
"Emas ?" tanya yang lain yang cukup membuat kehebohan.
"Dia memberi kita emas sebesar ini ?" ucap persiden yang tengah mengambil emas yang masih tergeletak di sana.
"Ini lebih dari satu milyar dolar, apakah yakin ini asli ?" ucapnya.
"Dia benar-benar sangat dermawan, istananya bahkan lebih indah dan megah dari istana kepresidenan," ucap yang lain yang kini mulai membuka kotaknya masing-masing.
"Ini memang emas sungguhan, aku yakin seratus persen ini asli, ada nomornya, ini bisa di cek keasliannya," ucap yang lain tak kalah semangat.
"Aku bisa hidup tanpa bekerja dengan emas ini," ucap mereka sangat senang.
Akhirnya ketiga orang itu tengah terbang dengan bahagia dan suka cita karena vitamin yang baru saja di berikan Ikram, vitamin yang cukup berguna dan membantu mereka untuk bertahan hidup kedepannya.
FLASHBACK ON
Saat itu Ellia, Ifraz dan Iriana sedang berada di dalam kamar Ikram, Ellia yang baru saja duduk di ranjang kamarnya hanya melihat ponsel dengan banyak sekali chat grup dari sahabat-sahabatnya Vania dan Rara, namun kegiatannya berhenti begitu Iriana mengucapkan sesuatu.
"Ada yang melewati sistem keamanan digital yang ku pasang di udara sekitar mansion, ada yang akan masuk, Iraz cepat terbangkan drone nya," ucapnya.
"Oke," ucapnya yang sudah menerbangkan sebuah drone yang sebelumnya ia ambil di lemari kaca milik Ikram.
"Kau bisa lihat wajahnya An ?" tanya Ifraz lagi.
"Kurang dekat ?" aku masih mendeteksinya,"
Drone itu bergerak cukup cepat, berpacu dengan kecepatan sebuah helikopter yang hendak menuju mansion nya, "wajah terdeteksi,"
"Siapa mereka ? siapa yang bisa datang kesini dan lewat udara ?" tanya Ellia penasaran.
Sebuah senyum terlihat cukup jelas di wajah Iriana, "bayangan bang Ikram akan datang,''
"Siapa ?" tanya Ellia penasaran.
"Presiden ? dia datang sendiri ? ini pertama kalinya dia datang ?" tanya Ifraz.
"Bersama menteri kehakiman dan salah satu dewan petinggi kejaksaan,"
Ellia melongo tidak percaya akan ada banyak sekali orang penting yang akan berkunjung ke sini, terlebih presiden kembali datang setelah semua perlakuan Ikram padanya di rumah sakit.
"Kakak ipar kemari, aku akan mendandani mu," ucap Iriana semangat.
"Untuk apa ?"
"Sebentar lagi akan ada orang yang mengetuk pintu dan meminta kita keluar untuk menyambut mereka, jadi kita harus bersiap-siap,"
"Oh,"
"Kakak ipar, Ifraz akan menjelaskan apa yang harus kakak ipar lakukan, aku akan mendandani kakak ipar dengan baik,"
"Kakak ipar jangan terlihat manja dan lemah,istri Ikram Al Zaidan harus kuat dan mendominasi, jangan sampai kakak ipar terlihat sebagai kelemahan abang, sampai sini faham,"
"Bisa di atur, aku pandai berperan, aku hanya harus menjadi nyonya rumah ini bukan ?"
"Selebihnya serahkan pada abang, dan ingat untuk tidak terlalu banyak bicara," ucap Ifraz lagi.
"Siap bos, aman terkendali deh," ucapnya sangat yakin dan percaya diri.
FLASHBACK OFF
Sebuah kamar luas kembali menjadi tujuan Ikram saat ini, "maaf karena harus memintamu keluar dengan kakimu yang seperti ini,"
"Ini sudah tidak sakit, lagi pula aku harus datang sebagai nyonya rumah," ucapnya senang.
"Iya kah ? Iriana yang memakaikan make up nya ?" tanya Ikram sekali lagi.
"Terlalu tebal ya ?" tanya Ellia khawatir terlihat seperti badut.
Wajah itu memerah, ia selalu tersipu dengan semua pujian yang di lontarkan Ikram padanya, "kenapa sangat suka menggodaku ?" tanyanya pada Ikram yang masih tidak beralih padanya.
"Pasti sangat banyak orang yang menyukaimu dengan wajah ini, kenapa kau terlahir sangat cantik dengan kedua lesung pipi itu," tambah Ikram.
"Mas Ikram sudah sudah, aku akan tidur dan berisitirahat saja,"
"Berisitirahat saja, aku kan hanya melihatmu," ucapnya.
"Aku tidak akan bisa tidur jika mas Ikram melihatku ketika tidur," ucapnya.
"Benarkah ? yasudah aku pergi saja," ucapnya yang hendak beranjak dari ranjang.
"Hey hey, tidak, tidak, jangan pergi, di sini saja mas," ucapnya menahan Ikram pergi.
"Katanya tidak bisa tidur jika ada aku ?"
"Tidak tidak, sudah di sini saja," ucapnya yang mulai memindahkan kepalanya di pangkuan IKram.
"Jangan bergerak seperti itu, itu akan membuat lehermu sakit,"
"Tidak akan, ini nyaman," ucapnya lagi yang masih tidak ingin di tinggal pergi oleh Ikram.
"Sudah tidak sakit kah ?'
"Masih, hehe, tapi lagi nggak pengen di tinggal mas Ikram," ucapnya dengan memejamkan mata.
"Tidurlah, aku akan menemanimu di sini," tambah laki-laki itu mengelus lembut rambut kepala Ellia agar nyaman.
"Mas Ikram,"
"Hm,"
"Inikah kamu sebenarnya ?" tanya Ellia spontan.
Ikram masih menatap lembut Ellia di pangkuannya, "seperti apa yang kau maksud ?"
"Mas Ikam selalu lembut padaku, pada Ifraz dan juga Iriana, bahkan kepada pelayan di rumah ini juga mas Ikram sangat sopan sebelumnya, tapi akhir-akhir ini aku melihat sesuatu yang lain, seperti bukan mas Ikram," tambahnya lagi dengan hati-hati khawatir suaminya ini tersinggung.
"Ini karena aku mulai merasa tidak tenang dengan apa yang terjadi, aku bisa menjadi apapun sesuai dengan konteks yang aku jalani saat itu, air tidak akan selamanya tenang Ellia, jika kau mengusiknya, maka air itu juga bisa jadi bencana,"
"Mas Ikram juga membunuh orang ?" tanya Ellia.
"Ingin aku jawab jujur atau tidak ?" tanya Ikram khawatir Ellia tidak kuat dengan jawaban yang akan ia berikan nanti.
Cukup lama Ellia mempertimbangkan semua hal, hingga akhirnya mulut itu bergerak,"jujur saja, aku ingin tau sendiri dari mas Ikram,"
"Membunuh adalah keahlian ku yang lain," jawabnya yang membuat mata Ellia hampir keluar.
"Mas Ikram bagaimana jika semua orang tau jika anda seorang pembunuh, mereka akan mengucilkan anda dari masyarakat," ucapnya panik.
"Aku membunuh mereka yang menjadi sampah masyarakat, perusak, peneror, aku pernah bergabung menjadi salah satu intelejen negera ini dengan sebuah organisasi mafia yang paling di takuti dengan kekuasaan wilayah terluas, aku tidak akan mengarahkan senjataku pada mereka jika mereka tidak mengusikku terlebih dahulu,"
"Maheza,"
"Aku ingin kedua tangan dan kakinya," tambahnya tanpa basa-basi.
Ellia menghela nafasnya berat, "sini mas, sini tidur di sini," ucap Ellia yang sudah berpindah ke posisi tidur yang benar kemudian menepuk sebuah bantal di sampingnya.
Tanpa di minta lebih jauh Ikram menuruti keinginan istrinya, "ada apa ? kau ingin meninggalkanku sekarang ?" tanya Ikram yang sudah siap, masa lalu dan kehidupannya sangat jauh dari kata normal.
"Nanti tolong lebih sabar ya mas, jangan mudah marah dan mencekik orang seperti sebelumnya," ucap Ellia yang kini memeluk Ikram dengan lembut, mengelus dadanya pelan hingga meninggalkan rasa nyaman di diri Ikram.
Sebuah senyum tanpa sadar kembali menghiasi bibir Ikram, "bagaimana bisa menolak jika dia memintaku dengan cara ini," batinnya senang.
TO BE CONTINUE