
Ikram tersedak, ia terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh adiknya, Ellia juga tertegun mendengar apa yang baru saja ia dengar, "aku minta maaf, aku akan membuatkannya," ucap Ellia yang sudah bangkit dari duduknya.
"Aku akan membuat sendiri saja kakak ipar," ucap Ifraz mulai tidak nyaman.
"Duduk Ifraz, abang yang buat," ucapnya.
"Mas tangannya," ucap Ellia yang semakin merasa tidak ingin, ia tadi hanya tertawa karena bagi gadis seusianya minum susu adalah untuk anak-anak, ia tidak tau jika ada arti khusus di baliknya.
"Aku bisa Ellia," ucap Ikram seolah tidak ingin di bantah.
Ikram berjalan ke arah dapur meninggalkan Ellia yang berdua dengan Ifraz, "dokter Ifraz saya minta maaf, saya tidak tau jika"
"Sudahlah, memilihmu adalah pilihan abang, aku nggak bisa berkomentar, kau sudah memiliki kartu as di tanganmu, apalagi yang kau khawatirkan," ucapnya tidak ingin menatap Ellia.
Perkataan yang singkat namun cukup membuat Ellia merasa tidak nyaman, dia tidak tau jika Ifraz akan sangat sensitif dengan sebuah susu, "Aish lu salah lagi Ellia, gimana dong ?" batin Ellia benar-benar merasa tidak nyaman.
Tak lama Ikram sudah datang bersama dengan susu hangat di tangan kirinya, "minumlah dulu selagi hangat, jangan hanya cemberut aja, siang ini ada operasi tidak ?" ucap Ikram yang memberikan susu itu tepat di depan Ifraz.
"Operasi mulu bang, kapan punya pacarnya dong, tadi di suruh nyari,"
"Ya udah nyari makanya, ganteng doang nggak punya pacar" tambah Ikram
"Lah gimana bisa, orang abang tiap ketemu yang di tanya itu mulu itu mulu," jawabnya.
"Yang paling penting dari dokter bedah adalah pengalaman, paling tidak kau harus ikut di operasi-operasi penting dengan para senior yang lebih handal, itu akan sangat banyak membantu meningkatkan kualitas dalam dirimu," tambah Ikram.
"Iya abang sok tau," tambah Ifraz.
"Wah, udah mulai berani nih ngatain sok tau,"
"Abang sendiri gimana ? kapan mulai show up ? ganteng doang tapi nggak berani muncul, malu dong sama semut-semut di dinding," ejeknya dengan masih meminum susu putih itu perlahan.
"Kepo ya ?" tanya Ikram.
"Ya nggak juga, udah waktunya aja," jawab Ifraz.
"Tunggu sampai semua urusan di kampus terselesaikan, baru show up," jawab Ikram.
"Mas Ikram akan berhenti dari kampus ?" tanya Ellia yang tidak faham dengan arah pembicaraan kedua kakak beradik ini.
Ikram mengangguk, "mungkin tidak akan sampai satu semester Ellia, toh sebenarnya aku juga bukan dosen, kebetulan aku suka dan aku di percaya, jadi aku hanya membantu sementara,"
Ekspresi kecewa terlihat jelas di wajah Ellia, "padahal semua orang sangat menyukai kelas mas Ikram," gumamnya cukup keras hingga terdengar oleh Ikram dan Ifraz.
"Menyukai kelasnya atau dosennya," tanya Ifraz.
"Kelasnya dong," jawab Ellia.
"Dia orang pertama yang tidak berusaha duduk di bangku depan ketika berada di kelasku, hebat kan ?" tambah Ikram.
"Wah kakak ipar, sepertinya aku harus menunduk hormat kepadamu karena tidak tertarik dengan abang," tambahnya menunduk kemudian.
"Laki-laki ini cepat banget berubah, tadi dia kesal, tapi sekarang kenapa jadi kayak biasa aja, punya gangguan apa gimana," batin Ellia heran.
"Ah, kenyang nya, bang aku balik dulu deh," ucap Ifraz yang sudah bangkit dari duduknya.
"Nggak nginep aja ?" tanya Ikram basa basi.
"Tidur dimana ? ogah kalo tidur di sofa mah," tambahnya yang tau jika rumah ini hanya berisi satu kamar.
"Ya udah sono, pergi,"
"Ngusir nih,"
"Udah sono,"
"Aish," ucapnya sambil menadahkan tangannya di depan Ikram.
"Biaya pengobatan dan uang sakunya ?" ucap Ifraz.
"Astaga bocah, kau bahkan tidak membayar makanan ku," ucap Ikram geleng-geleng kepala.
"Cepat bang," tambahnya.
"Ellia tolong ambilkan cek yang ku simpan di dalam laci sebelah tempat tidur," ucapnya menatap Ellia.
Ellia segera berdiri dan berlari ke dalam kamar agar suaminya tidak menunggu, "kenapa meminta uang seperti aku tidak pernah memberimu uang saja," tambahnya.
"Ayolah bang, ada apartemen yang ingin Ifraz beli,"
"Lagi ?"
"Hehe,"
"Ingin bersaing bisnis properti denganku ? lama-lama aku bisa kalah denganmu tau nggak ?" ucap Ikram lagi.
"Sudah sudah cepat ayo jangan berdebat,"
"Ini mas,"
"Berapa ?" tanya Ikram.
"200 Milyar," ucapnya dengan santai yang seketika mendapat mata yang melotot sempurna dari Ikram dan Ellia.
"Nanti aku akan merawat mas Ikram sendiri saja, bagaimana perawatan luka bakar bisa semahal itu," ucap Ellia yang kaget dengan nominal yang Ifraz ucapkan.
"Apartemen apa yang di jual dengan harga segitu,"
"Aku janji akan membeli dua unit dengan Iriana," ucapnya.
"Tidak tidak, aku akan menambahnya, ini hanya untukmu, Iriana aku kuberi jatah sendiri nanti, apartemen model apa yang ingin kau beli dengan angka dua ratus milyar, beli sekalian yang besar untuk jangka panjang," ucapnya.
Ellia semakin tidak percaya seberapa kaya Ikram, ia bahkan menulis angka itu di dalam sebuah cek tanpa berfikir panjang, "pantas saja hutangku tidak berarti apa-apa untuknya, nominal sebesar ini bahkan tidak memiliki nilai apapun untuk Ikram Al Zaidan," batin Ellia yang masih menatap angka nol yang sangat panjang di sana.
"Thanks abang," ucapnya mencium tangan Ikram dengan lembut sebelum kemudian berlari keluar dengan senang.
"Jangan boros dan bermain wanita," teriaknya memberi petuah.
"Siap bos,"
"Mas, kenapa memanjakan mereka dengan uang sebanyak itu, maksudku itu nominal yang sangat banyak,"
"Tidak lebih berharga dari kebahagiaan di mata mereka,"
"Tapi ini berlebihan mas," ucapnya.
"Tidak ada yang berlebihan Ellia, aku bekerja keras untuk mereka, lalu untuk apa semua ini jika mereka berdua tidak menikmatinya, kau bahkan tidak menyentuh seujung kuku uangku, aku berusaha membagikannya di sana sini tapi tidak juga habis, jadi aku sangat bersyukur jika Ifraz mau membantuku menghabiskannya,"
"Ah atau kau mau juga, aku juga akan memberimu dengan nominal yang sama, sebentar," ucapnya yang sudah bersiap dengan sebuah bolpoin di tangannya.
"Tidak, tidak, tidak jangan di teruskan, aku tidak menginginkannya, aku akan mengembalikannya saja, sudah jangan di tulis, uang jajanku sudah lebih dari cukup," ucap Ellia yang dengan segera menarik cek itu dan mengembalikannya di laci kamar.
"Apa-apaan mas Ikram, bagaimana bisa sampai kebingungan menghabiskan uang, aku baru pertama kali bertemu dengan orang sepertinya, apa hartanya sangat banyak sekali, kenapa tidak habis-habis," gumamnya seorang diri.
Ellia masih termenung di tempatnya hingga tidak sadar jika Ikram sudah berdiri di belakangnya, "Ifraz sudah pergi, ingin berjalan-jalan keluar tidak ?"
Mata cantik itu berbinar-binar menatap Ikram, "jalan-jalan ?"
Ikram mengangguk, "Asik,"ucapnya senang dengan menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri.
TO BE CONTINUED