Ellia's Husband

Ellia's Husband
show up



Setelah perseteruan hari itu, Adams masih belum mengusiknya sampai sekarang, mungkin karena luka yang terjadi saat itu, pasalnya peluru yang masuk ke dalam tubuhnya bukan jenis peluru biasa, memang tidak akan berakibat fatal, intinya tidak sampai membunuh, namun cukup membuat tubuh yang terkena bernanah bahkan bisa busuk, ada obat khusus yang bisa menjadi penawar, dan itu hanya ada pada Ifraz, pemiliknya.


Ini adalah kemampuan kombinasi antara Ifraz dan Iriana, keduanya sama-sama banyak melakukan riset untuk perkembangan bisnis Ikram dari sisi manapun, dan hebatnya mereka tidak pernah memiliki keinginan untuk memperkaya diri sendiri atau apapun itu, keduanya hanya ingin membantu Ikram terlepas dari apa yang akan ia dapatkan ketika ia melakukan ini.


"Tuan muda, semua sudah siap," ucap Nando ketika menemui Ikram di ruang kerja yang mana sudah ada Ifraz, Iriana dan juga Ginanjar.


"Zelin ?" tanyanya.


"Nona Zelin sedang dalam perjalanan menuju kesini, beliau sudah memastikan akan tiba di lokasi tepat waktu," tambah Nando sangat yakin.


"Minta agar tidak terlambat, kita berangkat sekarang," ucap Ikram pada semua orang yang ada di sana.


Hari ini adalah hari dimana Ikram akan muncul di semua media, memperkenalkan siapa saja yang akan menjadi wakilnya di semua kerajaan bisnis yang ia miliki, bersama dengan semua tim sekaligus keluarga, ia berjalan keluar rumah dengan sebuah mobil mewah yang cukup langka.


"Silahkan tuan muda," ucapnya mempersilahkan Ikram agar masuk terlebih dahulu.


Laki-laki dengan setelah kemeja berwarna hitam semakin membuatnya terlihat menawan, tentu dengan aroma khas Ikram yang selalu tidak bisa di lupakan.


"Abang, aku dulu," ucap Iriana begitu Ikram hendak memasukkan sebelah kakinya ke dalam mobil.


"Baiklah, Iriana dulu," ucapnya mengalah.


"Hey bocah, bilang aja nggak mau duduk di tengah kan lu," teriak Ifraz yang menarik baju Iriana agar adiknya itu tidak bisa masuk ke dalam mobil.


"Iraz lepas, kita udah di tunggu tau," ucapnya yang berusaha segera masuk ke dalam mobil agar Ifraz tidak menghalanginya.


"Abang, aku nggak mau duduk tengah," ucapnya yang juga tidak mau mengalah, namun bukan Iriana namanya jika ia tidak bisa memenangkan pertikaiannya dengan Ifraz, gadis itu segera melesat masuk begitu Ifraz mulai melonggarkan genggaman pada baju yang ia kenakan.


"Yes,"


"Abang, dia terlalu nakal, sangat nakal," ucapnya pada Ikram dengan mulut cemberut.


"Abang yang di tengah, puas ?" ucapnya yang kemudian masuk dan berada di tengah tepat di antara Iriana dan Ifraz.


"Kenapa tidak membawa mobil sendiri-sendiri saja jika berebut seperti ini," tambahnya ketika hendak masuk mobil.


"Ye nggak mau lah, ngapain pake mobil sendiri, mending gini rame-rame," ujarnya tidak menghiraukan ucapan Ikram dan masih tetap berdiri menunggu Ikram masuk ke dalam mobil.


Tanpa berlama-lama karena sudah tau bagaimana sikap adiknya ini, Ikram segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sisi Iriana yang langsung diikuti oleh Ifraz yang juga duduk di sampingnya.


"Kita berangkat sekarang," ucapnya.


"Tuan muda, apa tidak sebaiknya kita membeli mobil yang lebih besar yang bisa cukup untuk menampung kita semua tanpa berdesakan," ucap Nando.


"Bukankah aku sudah punya mobil yang lebih besar dari ini ?" tanya Ikram lagi.


"Apakah kita memakai itu saja tuan muda ?" tanya Nando.


"Tidak perlu, ini saja, Iriana selalu tidur ketika sudah masuk ke dalam mobil itu," tambahnya.


"Baik tuan muda,"


Cukup lama keheningan terjadi di antara semua manusia yang berada di mobil itu, hingga Ikram mulai membuka mulutnya dan berbicara, "sudah lihat perkembangan lengan Adams saat ini ?" tanyanya yang entah pada siapa.


"Ada apa memangnya ?" tanya Ifraz tanpa dosa.


"Bukankah semakin lama tanpa penawar tangan itu harus membusuk dan harus di amputasi ?" tanya Ikram yang seharusnya sudah tau dan faham mengenai semua persenjataan yang ada di bawah kendalinya.


"Urusannya adalah, mungkin seluruh tubuhnya akan membusuk jika kita tidak segera memberikan penawarnya, karena dunia kesehatan juga pasti akan kesulitan mendiagnosa penyakit dan virus apa yang saat ini di tubuhnya,"


"Ya sudah biarkan saja," ucap Iriana.


"Dunia akan berterimakasih kepada kami karena sudah membuat salah satu orang yang merusak bumi meninggalkan dunia ini," tambah Ifraz yang masih bersikap angkuh.


"Sudah cukup, abang yang buat keputusan sekarang, Nando berikan saja penawar yang ada di ruang pribadiku padanya,"


"Abang,"


"Jangan mempersulit orang lain Ifraz, abang yang seharusnya sakit hati dan kesal dengan mereka, dan ini bukan cara balas dendam pada orang sepertinya," tambah Ikram.


"Lalu dengan cara apa ?" ketus Ifraz.


"Sekarang, tunggu dan lihat saja," jawabnya dengan tegas, dengan tatapan aneh dari kedua adiknya.


"Tung tunggu,"


"Setelah ini dunia akan tau seberapa hebat kekuasaan dan kerajaan bisnis kita, dunia di bawah kekuasaan ku tidak hanya bergerak di dunia yang saat ini kita tinggali, tapi juga yang terhebat di dunia bawah tepat diantara mafia dan juga dunia kelas atas yang berhubungan dengan pejabat dan orang penting negeri ini, semua berada di genggaman tanganku," ucap Ikram.


"Tidak perlu melumuri tangan kita dengan darah untuk membalas dendam, cara itu tidak elegan, pusat penelitian yang akan kita bangun hanya akan mendapatkan banyak kecurigaan dari semua orang, mengerti sampai di sini?" tanya Ikram pada kedua adiknya.


Cukup lama tidak ada yang berani menjawab ucapan Ikram, keheningan terjadi di antara mereka dengan suasana yang cukup canggung.


"Kakak ipar?"


"Setelah menyelesaikan satu semester mata kuliahku aku akan berhenti mengajar, sampai saat itu dia hanya mahasiswa biasa,"


"Aku akan tetap mengajarkan kepribadian dan cara anggun menjadi istri abang pada kakak ipar," tambah Iriana.


"Paman, semester berapa dia sekarang?" tanyanya pada Ginanjar yang saat ini tengah duduk di depan.


"Delapan,"


"Artinya semester depan dia harus menyelesaikan kuliahnya," gumam Ikram dengan sebuah senyum seolah sudah lama menanti saat ini.


***


Di sebuah lokasi mewah tempat pertemuan Ikram kali ini sudah di penuhi oleh banyak sekali orang, termasuk wartawan yang sudah memenuhi pintu masuk dan menyerbu mobil Ikram ketika terlihat mulai memasuki lokasi acara.


"Tuan Ikram, itu tuan Ikram," teriak satu sama lain bersahutan dengan posisi langsung berlari.


Sebuah pintu terbuka, Ifraz keluar dari mobil terlebih dahulu karena dia berada di tepi, tak lama Ikram muncul dengan kaki kanan keluar terlebih dahulu.


"Tuan Ikram, bagaimana bisa Anda membangun bisnis ini dengan usia yang masih sangat muda?"


"Tuan Ikram apakah dia istri anda?" ucapnya begitu Iriana keluar dari mobil.


"Saya akan menjawab semua pertanyaan sesuai prosedur di dalam, tunggu dan lihat saja, Terima kasih sudah datang," ucapnya meninggalkan semua orang di bantu oleh beberapa pengawal untuk meninggalkan kerumunan.


TO BE CONTINUE


***