
Ellia hampir tertidur sepanjang perjalanan d dalam pesawat yang mana membuat Ikram hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istrinya, ketika beberapa pramugari dan seorang pilot menemui mereka, Ellia bangun dengan mata masih enggan terbuka.
"Apa kita sudah sampai prof ?" tanya Ellia pada wajah tampan di depannya ini, tentunya tanpa menghiraukan beberapa pramugari yang juga berdiri di dekatnya.
"Belum. tidur dan bangun tujuh bulan lagi," ucap Ikram yang langsung bangkit dari duduknya dan keluar menuju pintu.
"Ah, profesor, profesor," teriaknya pada Ikram yang tetap tidak menghiraukannya, gadis ini menoleh kepada beberapa pramugari di sisi kanan dan kirinya, hingga kemudian merasa malu karena sudah berteriak sebelum memutuskan untuk pergi mengikuti Ikram.
"Maaf kak," ucapnya.
Ikram ternyata berada tepat di bawah tangga pesawat. sedang berbincang dengan beberapa orang yang di duga Ellia adlah seorang pilot, gadis itu dengan perlahan berjalan pelan menuruni anak tangga, ia sengaja hendak mengagetkan Ikram yang sudah meninggalkannya.
"Hayo, profesor nakal ya, mau ninggalin," teriaknya yang langsung naik di punggung Ikram seperti bocah, yang mana mengundang guratan tawa beberapa orang di sekitarnya.
"Turun Ellia," ucap Ikram yang juga kaget dengan apa yang di lakukan oleh istrinya ini.
"Nggak mau nggak mau," ucap Ellia yang tetap tidak ingin melepaskan tubuhnya dari tubuh Ikram.
"Ellia,"
"Nanti di tinggal, kan saya nggak tau ini dimana prof, gimana nanti pulangnya dong," ucap Ellia lagi.
"Turun nggak ?" ucap Ikram yang cukup malu karena di lihat oleh banyak orang.
"Nggak," jawab Ellia.
"Ellia ayo turun, aku akan melepaskan mu sekarang," tambah Ikram setengah berbisik.
Ikram mulai melepaskan tangan yang menyangga tubuh Ellia, namun gadis ini tetap bersikeras di punggung Ikram, ia tidak goyah sedikitpun, tangan dan kakinya benar-benar sangat kuat memegang tubuh Ikram agar tidak jatuh.
IKram menghela nafasnya pelan, "aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, turun sekarang oke ?" ucap Ikram lagi.
"Janji ?"
"Janji," ucap Ikram memberikan jari kelingkingnya pada Ellia.
Ellia yang sudah turun dari tubuh IKram kini mulai berdiri, ia memegang tangan Ikram seperti anak ayam takut kehilangan induknya, Ikram terlihat tersenyum menatap semua orang di sana, "terimakasih untuk penerbangan hari ini, sukses dan sampai bertemu di pertemuan berikutnya,"
"Selamat jalan tuan muda, semoga liburan anda menyenangkan," ucap seluruh awak pesawat serentak dengan menundukkan badan penuh hormat.
Ikram dan Ellia mulai keluar dari bandara, keduanya berjalan beriringan hingga sebuah sopir beserta mobil sudah siap untuk menjemput mereka di depan sana, "silahkan nona," ucapnya pada Ellia, Ellia menatap Ikram kemudian masuk ke dalam mobil.
Ikram yang juga masuk dari pintu mobil di sisi yang lain kini juga tengah berada di dalam sana, "hendak tidur lagi ?" ucap Ikram yang sedari tadi melihat Ellia menguap tiada henti.
"Tidak, siapa yang mengantuk ? aku tidak tidur, lihat prof, mataku bahkan masih terbuka lebar, lihat lah lihat saja," tanya Ellia mengelak sembari melebarkan tangannya dengan kedua jari agar tetap terbuka.
"Pantes nilainya D, tidur mulu sih," goda Ikram.
"Hey hey bapak profesor Ikram Al Zaidan yang super tampan," ucap Ellia keceplosan.
"Aku tampan ?" sela Ikram senang.
"Hah ? enggak." jawab Ellia sambil menganggukkan kepala.
"Nggak tampan ?" tanya Ikram lagi.
"Iya tampan," ucapnya dengan menggeleng kepala.
Pikiran dan mulut Ellia tidak bisa di ajak bekerja sama, bagaimana tidak gerakan tubuh dan jawaban yang keluar dari mulutnya berbeda.
"Jadi tampan tidak ?" tanya Ikram.
Wajah di depannya ini sungguh membuat orang tidak terkendali, "dia memang tampan," batin Ellia.
"Jadi bagaimana kelanjutan ceritamu tadi,"
"Tampan," sebuah jawaban yang benar-benar tidak di inginkan Ellia keluar lagi dari mulutnya.
"Hahahaha," sebuah gelak tawa keluar dari bibir Ikram, ia ingin menanyakan bagaimana klarifikasinya bisa mendapat nilai D di ujian awal yang ia berikan pada Ellia waktu itu, ia tidak menyangka akan mendapat jawaban tampan.
"Sudah puas tertawanya prof ? sudah puas ?" ucap Ellia menahan malu sembari memukul pelan mulutnya.
***
Ikram dan Ellia kini sudah berada di sebuah pantai dengan pemukiman beberapa penduduk, suasana dan desa tujuan mereka saat ini sungguh indah, ini sangat berbeda dengan semua hal tentang Ikram yang ia tau.
Mobil mereka turun di sebuah rumah bergaya amerika, namun cantik di pandang mata, " ini ?" tanya Ellia.
"Kita akan tinggal di sini selama satu minggu," jawab Ikram.
"Benarkah ?' ucap Ellia senang.
"Masuk, aku akan menjelaskan semuanya," tambahnya.
"Mobilnya?" tanya Ellia ketika melihat mobil yang membawanya dan Ikram pergi dari sana.
"Masuk dulu, aku akan menjelaskan semuanya di dalam," tambah Ikram.
Ellia menurut saja apa yang di katakan oleh suaminya, ia tidak berfikiran aneh sedikitpun, gadis itu masuk dan melihat seluruh isi rumah, hingga kemudian Ikram memintanya untuk duduk di sebuah meja taman dengan wajah serius.
Begitu Ellia sudah duduk di hadapan Ikram, Ikram mengeluarkan sebuah perjanjian pernikahan yang sebelumnya mereka tanda tangani.
"Ini ?"
"Coba baca lagi Ellia," perintah Ikram masih dengan senyum di bibirnya, meskipun senyum itu tidak seperti biasanya.
Ellia menatap Ikram cukup lama setelah membaca surat tersebut, "ada apa prof? jika ini tentang pertemuan saya dengan Yuda di belakang,"
"Kau sudah membawa uang tiga puluh milyar itu?" tanyanya pada Ellia sebelum istrinya menyelesaikan ucapannya.
Ellia menggeleng, "kenapa?" tanya Ikram yang tidak di jawab oleh Ellia.
"Tau kenapa aku tidak menceraikan mu meskipun tau apa yang kalian berdua lakukan di belakangku?"
Ellia masih menunduk, ia tidak percaya Ikram akan berbicara seperti ini padanya sekarang, "Ellia jawab aku," tambahnya.
Ellia hanya menggeleng, Ellia tidak tau harus apa.
"Ellia lihat aku," ucapnya mengangkat dagu istrinya.
"Aku tidak menceraikan mu untuk menjagamu, Maheza tidak akan membiarkanmu bebas begitu saja, dia bisa melakukan hal buruk yang aku sendiri tidak bisa membayangkan, aku mempertahankan pernikahan ini karena dengan bersamaku aku yakin kamu aman,"
Hati Ellia seolah teriris mendengar penuturan Ikram, ia merasa sangat bersalah, ia merasa banyak melakukan kesalahan, ia tidak bersyukur di miliki oleh orang yang begitu baik dan memperhatikan nya.
Ikram menarik kertas itu, menyobek nya menjadi beberapa bagian, "prof,"
"Satu minggu, hanya satu minggu Ellia, aku ingin hak ku sebagai suami,"
Ellia menatap laki-laki di depannya, "setelah ini kembali padanya, kembali pada laki-laki yang kau cintai selama ini, hutang tiga milyar ini sudah ku anggap lunas, kembalikan cek tiga puluh milyar itu pada Yuda agar kau tidak memiliki tanggungan hutang, untuk biaya hidup mu setelah ini gunakan 5% saham dari mahar yang aku berikan kepadamu, itu lebih dari cukup memenuhi kebutuhanmu."
TO BE CONTINUED