Ellia's Husband

Ellia's Husband
Berkunjung



Yuda masih termenung di dalam kamarnya, kamar berukuran tiga kali tiga ini sangat jauh berbeda dengan kamar yang biasa ia tinggali sebelumnya, saat ini hanya tinggal dia dan ayahnya saja, semua istri ayahnya sudah pergi entah kemana saat tiba-tiba ayahnya hilang secara misterius dan menjadi tahanan pemerintah, semua aset mereka di sita, perusahaan habis tanpa sisa, bahkan tidak ada tabungan sama sekali.


Hanya Yuda, hanya dia yang masih mencari dimana ayahnya, hampir di setiap penjara di kota ini ia datangi, itu sebabnya ia hampir tidak terlihat selama beberapa hari.


Sekelebat ingatan tentang semua hal tentang Toga terputar kembali di otaknya, ia masih menerka-nerka, hatinya sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ifraz, namun semua memori yang ia miliki seolah mengisi potongan puzzle yang hilang, sebuah kenyataan yang sempat ia tepis dari otaknya.


"Mungkinkah uang sebanyak itu dia berikan padaku karena Ellia adalah orang yang dia cintai? tidak tidak, sudah pasti itu karena  aku, kita sudah berteman bertahun-tahun, tidak mungkin dia melakukan ini di belakangku," batin Yuda,.


Namun seberapa keras dia menolak, fakta yang sudah tersusun rapi di hadapannya benar-benar mengganggu dan tidak bisa di hilangkan begitu saja, ia sudah tidak bisa berfikir jernih.


"Ellia, kenapa dia menjadi magnet di antara semua orang, kenapa semua pusaran seolah berhenti di dirinya," batin Yuda lagi.


Tidak ingin beradu dengan pikirannya yang tidak pasti, akhirnya dia memutuskan untuk segera bersiap dan berangkat ke kampus, "Sudahlah aku berangkat saja, tidak ada gunanya terus berada di sini, aku harus bertanya padanya secara langsung,"


Di tempat lain, di sebuah rumah yang tidak kalah mewahnya, Dirgantara sedang menikmati buah apel di halaman depan rumahnya, hanya mengenakan sebuah kaos berkerah dan celana berwarna putih, terlihat sekali bahwa ia tengah bersantai menikmati kopi dan buah yang di sediakan oleh istrinya.


Tak lama Toga terlihat muncul dan berpamitan hendak berangkat ke kampus,


"Aku berangkat dulu," pamit Toga.


"Naik apa ?" tanyanya.


"Mobil saja,"


"Jangan mencolok dan menjadi tatapan mata semua orang, pakai motor saja," ucap Dirgantara tegas seolah tidak ingin di bantah.


"Ini hanya mobil, semua temanku bahkan sudah memilikinya, apanya yang mencolok," ucap Toga.


"Diam dan ikuti saja ucapan ayah, ini untuk kebaikanmu sendiri nanti," ucapnya.


"Terserahlah," ucapnya malas menanggapi.


"Jangan pernah mendekati istri Ikram, laki-laki itu sangat berbahaya, akan rumit saat berurusan dengannya," ucap Dirgantara.


"Aku tau,"


"Kau tau tapi tubuhmu sering tidak bisa mengontrol diri, sampai hilang kendali seperti kemaren dan membuat masalah, ayah tidak akan segan-segan lagi," ucapnya semakin memberi penekanan.


"Sudah yah, dia juga kan baru sembuh jangan terlalu di paksa," ucap bu Dirgantara menengahi.


"Aku tidak memaksa, tapi perusahaan dan bisnis kita memang harus punya orang yang hebat dan bisa di andalkan, bukan pengecut sepertinya," ucap Dirgantara lagi.


Laki-laki dingin yang biasanya seperti kulkas tujuh pintu itu tidak bergeming sama sekali, hanya diam menatap Dirgantara dengan bara api di kedua bola matanya, namun mulutnya seakan terkunci, tidak bisa bicara sama sekali.


"Sudah, berangkat pakai motor, motormu bahkan harganya juga fantastis, jangan pernah bermimpi untuk dekat dengan wanita itu, atau aku akan benar-benar membunuhmu," ucap Dirgantara lagi.


"Iya," ucapnya yang langsung pergi begitu saja.


Dirgantara adalah orang kedua terhebat di negara ini setelah Ikram dalam dunia bisnis, anak perusahaanya tidak banyak, bisnisnya juga hanya satu, namun karena usia perusaahan yang juga sudah lebih tua dari milik Ikram sehingga membuat perusahaan ini masih tetap bertahan hingga detik ini di pasar bisnis.


Dirgantara memang bukan mafia, dia tidak pernah terjun secara langsung di dunia bawah, tapi selalu menjadi investor yang merupakan suntikan dana terbesar bagi sebagian mafia, salah satunya Hassel yang sekarang sudah di ambil alih Ikram.


"Apakah dia menakutkan seperti itu ?" tanya Bu Dirgantara.


"Sangat, tidak hanya Hassel yang mati, semua keluarga yang berhubungan darah dengan Hassel juga mati,"


"Ya tuhan," ucap bu Dirgantara sedikit terkejut.


"Dia bahkan tidak bisa mati dengan ledakan sebesar itu, kau pikir dia manusia ?" tanya Dirgantara lagi.


"Rumahnya bahkan lebih besar dari istana presiden, penjaganya di mana-mana, kerajaan bisnisnya sangat besar, pilarnya juga tidak mudah di robohkan," jelasnya.


"Kita memang hebat, aku mungkin dengan mudah bisa membunuh mereka jika aku mau,"


"Lalu ?"


"Aku khawatir kau, dan keluarga kita yang nanti akan menjadi korbannya, dia juga punya beberapa hewan buas di dalam hutan buatan miliknya, pemerintah bahkan tunduk patuh padanya, bisa lari kemana kita nanti jika musuh kita adalah negara, dan yang paling penting, semua orang yang ada di sisinya semuanya berbahaya, tidak bisa di sogok, tidak bisa di kendalikan dan tidak bisa di ancam dalam bentuk apapun." tambah Dirgantara.


"Lalu apa yang harus kita lakukan ? bagaimana bisa ada orang sepertinya bisa hidup di dunia ini ?" tanyanya panik.


"Ellia, gadis itu sepertinya adalah sebuah kunci, kunci kelemahan Ikram Al Zaidan," ucap Dirgantara.


"Tapi dia adalah perempuan yang sangat di cintai oleh Toga, kita tidak mungkin melakukan sesuatu padanya,"


"Aku tidak perduli siapapun yang dia cintai, selama orang itu menghalangi jalanku maka aku harus menyingkirkannya," ucap Dirgantara lagi.


"Wah aku sangat takut," ucap suara namun orangnya masih belum juga muncul.


Dirgantara sangat jelas mengenal suara ini, suara yang baru saja tadi malam bertatap muka dengannya. "Ikram, Ikram Al Zaidan ada di sini ?" gumam Dirgantara pelan namun terdengar oleh istrinya.


"Kau dimana ? jangan hanya bersembunyi, ini wilayah kekuasaan ku," ucapnya dengan berani.


"Aku bahkan bisa masuk dnegan mudah di wilayah kekuasaancmu ? sepertinya rumah ini sangat aman dan damai sampai melonggarkan penjagaan seperti ini," ucap Ikram lagi.


"Kau dimana ?"


"Aku di sini," jawab Ikram yang sudah berada di belakang Dirgantara.


"Kau,"


"Sudah kubilang jangan bermain-main denganku bukan ? akan sangat merepotkan kalau aku sudah marah," ucap Ikram lagi yang melonggarkan dasinya dan memberikannya pada Andara.


"Dia, bukankah dia yang selalu ikut rapat bersama kalian ?" tanya bu Dirgantara saat melihat Andara.


"Kenapa ? masih ingin bermain denganku bersama suami anda nyonya Dirgantara ?" ucap Andara pedas yang mana membuat wanita paruh baya itu melotot sempurna.


"Sudah mengerti sekarang ?" ucap Ikram mengintimidasi.