
Ikram tidak menjawab, tapi jarinya menunjuk pada sebuah setelan baju pengantin yang sudah menggantung di lemari miliknya.
"Abang tunggu di bawah lima menit, lebih lama dari itu Nando yang akan menikah dengannya,"
Pagi itu Ifraz panik bukan main, laki-laki dengan hidup teratur dan paling higenis di antara yang lain itu bahkan hanya mencuci muka dan sikat gigi tanpa mandi, ia terburu-buru, bahkan hanya mengenakan sebuah kemeja belum di kancing, dengan tangan membawa setelan baju pengantinnya segera berlari menuruni anak tangga.
"iriana, Iriana," panggilnya yang tidak berhenti saat berusaha menuruni anak tangga.
"Ya tuhan abang," ucap iriana menggeleng.
"Kenapa kau turun dengan keadaan masih begini ?" tanya Iriana heran.
"Bantu aku mengancingkan kemejanya, sudah jangan banyak bertanya," ucapnya pada Iriana.
"Masuk ke mobil sekarang, Iriana akan membantumu di sana" ucap Ikram kemudian.
Begitu masuk mobil, Ifraz lebih tenang dari sebelumnya, membuat Iriana lebih mudah mengancingkan satu persatu kancing baju pada kemeja kakak laki-lakinya ini, "sudah, kau sudah tampan,"
"Rambutku ? aku lupa tidak membawa gel nya," ucapnya pada Iriana.
"Ini, ini punya mas Ikram, aku selalu membawanya," ucap Ellia siaga.
"Wah terimakasih kakak ipar," ucap Ifraz yang langsung mengambil gel dari tangan Ellia.
Mobil berukuran besar ini cukup lega dengan enam orang berada di dalam, bahkan masih banyak space kosong di dalamnya.
"Abang, bagaimana bisa abang melakukan ini ?" tanya Ifraz.
"Makan dulu," ucap Ellia memberikan sebuah roti isi dan sebuah susu kemasan agar lebih nyaman di minum di perjalanan.
"Aku mau juga kak," ucap Iriana.
"Ini," ucapnya seraya memberikan sebuah susu yang lain pada Iriana.
"Abang bagaimana ...." ucap Ifraz tidak menyelesaikan ucapannya karena tatapan tajam Ikam.
Ikram tidak menjawab, laki-laki ini malah menatap tajam wajah adiknya ini, "habiskan makananmu dan jangan banyak bertanya, kau akan tau sendiri nanti, fokus untuk pernikahan mu saja dulu hari ini," ucap Ikram yang kembali fokus dengan tablet di tangannya.
Ellia menatap suaminya yang mulai emosi di waktu yang masih pagi seperti ini, mengelus pelan punggung Ikram agar lebih tenang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, rombongan Ikram baru saja datang, tidak ada banyak tamu, pernikahan ini memang sudah di rancang sangat sederhana, meskipun sudah jelas untuk menu makanan dan hampers para tamu undangan isinya bukan main lagi.
Ellia hendak turun, namun tangan Ikram menghentikannya, "saat kau keluar dari sini, artinya kau juga sudah siap untuk semua orang tau tentang pernikahan kita, tidak menutup kemungkinan akan ada beberapa orang yang menyebarkan beritanya," ucap Ikram.
Sangat jelas terlihat bahwa Ellia cukup ragu, pasalnya ia masih sekolah, hubungan terakhirnya dengan Ifraz saja sudah membuat kehebohan, apalagi yang ini, terlebih fans Ikram tentu saja bukan hanya di kalangan mahasiswa, tentu akan ada banyak sekali orang yang siap untuk menyerbunya kapanpun setelah ini.
Melihat muka bimbang Ellia, Iriana berniat membantunya, "Kakak ipar akan datang sebagai temanku hari ini, tidak akan ada orang yang curiga," ucap Iriana.
"Menjadi istriku juga tidak apa-apa, dunia memang sudah seharusnya tahu," ucap Ikram.
"Tapi, aku masih sekolah, bagaimana denganku nanti, pasti juga akan ada berita buruk dengan mas Ikram nanti mengenai ini, seorang dosen menikah dengan mahasiswanya," ucap Ellia lagi.
"Sudah, untuk hari ini kakak ipar akan ikut bersamaku," ucap Iriana lagi.
"Abang sebaiknya keluar dulu," ucap Ifraz.
"Semangat Iraz," ucap Iriana memberi semangat pada abangnya.
Ifraz keluar dari dalam mobil setelah Ikram, beberapa orang sudah menunggu, "silahkan, mereka sudah menunggu," ucap semuanya.
Hari ini acara berlangsung dengan baik dan lancar, Nadin belum keluar dari tempatnya bahkan setelah acara selesai, Ratih menghampiri Ikram, "bukankah kau yang sudah menyatukan mereka? seharusnya kau juga yang mempertemukan dia dengan Ifraz," ucap Ratih.
Tak lama setelah itu, Ellia dan Iriana memanggil Nadin yang masih berada di kamarnya. begitu keluar Nadin langsung memeluk ibunya dengan bahagia setelah acara ijab qabul itu berlangsung, segera setelah itu ia berlari ke arah Ikram, memeluknya sebentar, "abang, terimakasih sudah membantuku terlepas dari laki-laki bajingan itu," ucapnya.
Ifraz berjalan menuju istrinya, mendekati abangnya, "terimakasih karena terlepas dari bajingan itu atau terimakasih karena menikahkan mu dengan ku?" tanyanya yang sudah berada di belakang Nadin.
"Tentu saja karena memisahkan aku dengannya, bagaimana mungkin berterima kasih karena menikahkan mu dengan aku, yang benar saja," ucapnya berpura-pura.
"Wah, aku suamimu tapi kau langsung menemui abang begitu keluar, tidak romantis sekali," gerutu Ifraz tiada henti.
"Terserah aku dong," ucapnya.
"Sudah, kalian temui para tamu dulu, jangan bertengkar di sini, bertengkar nya di dalam kamar saja, kalian bisa bergerak lebih bebas dan melihat satu sama lain," ucap Ikram ambigu.
"Melihat bagaimana? aku sudah melihat semua yang ada di dalam dirinya," ucap Nadin.
"Sekarang ikut aku dulu," ucap Ifraz.
"Mereka lucu, mungkin ini serangan balik Nadin, dia terlihat cuek tapi Ifraz terlihat sekali sangat mencintainya," ucap Ellia senang.
"Biarkan saja kakak ipar, dia harus mendapatkan karma," ucap Iriana.
"Kalian jangan kemana-mana ya, ada beberapa orang di luar, akan berbahaya jika bertemu orang asing, aku dan paman Ginanjar menemui wartawan dulu,"
"Ada wartawan mas ?" tanya Ellia.
"Iya,"
Pernikahan ini memanglah pernikahan sederhana, sangat berbeda konsep dengan pernikahan Ikram dan Ellia dulu, memang orangnya hanya semua karyawan Ikram, tapi jumlah mereka memang sangat banyak.
Tapi desain elegan minimalis kali ini juga tetap membuat suasana di tempat ini menjadi semakin cantik dan tenang, mungkin karena di desain oleh orang yang sudah profesional pikir Ellia.
Di atas pelaminan, kedua orang manusia yang seharusnya berbahagia itu masih saja berdebat satu sama lain.
"Kau tau abang merencanakan ini?"
"Tidak tau sampai sejauh ini, tapi abang bisa ke sini tiga kali dalam sehari untuk menyelesaikan masalah ini sendiri, bahkan kakak ipar dan paman Ginanjar juga ikut untuk membujuk ibu,"
"Benarkah, kok aku tidak tau,"
"Lu sih, galau aja," ucap Nadin.
"Yang sopan mulutnya sayang, kita sudah menikah," ucap Ifraz yang membuat pipi Nadin semakin merah karena ini pertama kalinya Ifraz memanggilnya seperti ini.
Melihat itu, mode jahil Ifraz berubah menjadi mode aktif, "sudah siap tidak hanya tidur di sampingku malam ini ?" tanya Ifraz.
"Memangnya apa lagi yang harus di lakukan kalau tidak tidur ?"
"Bergerak dan melihat satu sama lain seperti kata bang Ikram," bisik Ifraz menggoda istrinya.
"Ha ha ha ha ha,"
***
Wah author beneran seneng banget kalau ada banyak sekali komentar puas yang reader tulis setelah baca cerita ini.
Terimakasih banyak untuk semua dukungan yang selalu kalian sampaikan hingga detik ini.
Selamat membaca.