
Ikram masih menatap Ellia yang tengah tertidur dengan pulas selepas apa yang sudah mereka lakukan. perempuan dengan lesung di kedua pipinya ini masih sangat cantik bahkan saat tidur, Ikram menatap keseluruhan wajah itu, ada sedikit keinginan untuk mempertahankan Ellia dan memaksanya untuk tetap tinggal di sisinya.
Namun laki-laki ini mengingat semua perkataan Ellia di balkon kampus bersama temannya, hatinya terasa bimbang, wajah ini terlihat frustasi melihat sosok yang tengah terpejam di depan matanya, perlahan tangan Ikram bergerak menelusuri wajah itu, wajah yang selama beberapa hari ini mengelilingi hidupnya.
Merasa tidak kuat, Ikram segera bangkit dari atas ranjang, ia menenangkan dirinya di luar kamar, namun semua ingatan tentang apa yang ia lakukan bersama Ellia di semua sudut rumah ini kembali teringat, Ikram menghela nafas kasar kemudian mengambil ponsel sebelumnya ia bawa.
Ginanjar.
Nama ini adalah orang pertama yang Ikram cari pertama kali di kontaknya, "paman," ucapnya begitu panggilan tut tut terhenti dan panggilan sudah diterima oleh Ginanjar.
"Ada apa tuan muda," jawab Ginanjar dari sana.
"Panggil Ikram saja, aku sedang tidak ingin di panggil tuan muda," tambahnya.
"Ada apa ? sampai menelfon di tengah malam begini," tanya Ginanjar lagi.
"Bagaimana berkas perceraian ku dan Ellia ?" tanyanya.
"Sudah selesai, tinggal menunggu persetujuan untuk pengajuan," jawabnya.
Ikram masih tidak menyahut, "ada apa ? ingin berubah pikiran ?" tanya Ginanjar memastikan sebelum berkas pengajuan ini masih di tangannya dan belum di serahkan ke pengadilan.
"Lakukan saja, ingat untuk tidak melakukan apapun pada Maheza paman,"
"Iya iya, kami tidak akan mengusiknya,"
"Aku memegang kata-kata paman," ucapnya.
"Iya, dasar ponakan nakal, menelfon di tengah malam tanpa alasan yang jelas,"
"Hehe maaf paman, lagi nggak bisa tidur ini," jawab Ikram.
"Ikram,"
"Apa paman,"
"Paman berkata sebagai orang yang terlahir lebih dulu boleh?" tanyanya.
"Silahkan saja paman, paman sudah ku anggap sebagai orang tua," tambah Ikram yang memang butuh sebuah nasehat saat ini.
"Lepaskan dia, semisal ia kembali berarti dia milikmu," ucapnya sebelum mengakhiri panggilan Ikram.
Setelah melakukan panggilan telfon dengan Ginanjar, Ikram saat ini tengah membuat kopi di dapur kemudian membawanya di ruang kerja yang ada di area belakang rumah ini, Ikram mengambil sebuah alat untuk menyamarkan suaranya dan sebuah ponsel dengan nomor sekali pakai.
Sebuah nomor tanpa nama menjadi target telfon Ikram berikutnya.
***
"Ellia, bangun dong, ini sudah pagi, kenapa kau masih tertidur seperti bayi dengan pipi gembul itu,"
"Ah mas Ikram," ucap Ellia enggan, matanya sangat berat untuk di buka.
Ellia kini perlahan mulai menjadi dirinya sendiri, jika dulu Ellia bangun pagi dan sedikit berusaha terlihat baik di depan Ikram, ia berangsur-angsur seperti gadis remaja pada umumnya, kadang malas, kadang susah bangun tidur, yang mana semakin membuat Ikram gemas ingin mencubit pipinya.
Terkadang Ikram sampai mencium seluruh wajah gadis itu agar terbangun, "bangun sayang," tambahnya.
"Iya, lima menit lagi mas,"
"Yakin?"
"Mas, aku jarang sekali tidur sampai siang, kali ini boleh ya," ucapnya yang malah mencari posisi ternyaman di tubuh Ikram.
"Kau selalu bangun siang ketika bersamaku,"
"Benarkah?"
"Iya, aku selalu bangun lebih dulu darimu, ayo sekarang cepat bangunlah,"
"Mungkin karena nyaman," tambahnya yang semakin meringkuk di dada Ikram.
Bagaimana tidak nyaman, Ikram membangunkannya dengan sebuah pijitan lembut di punggung Ellia, dan itu hampir setiap hari.
"Ini hari terakhir loh, yakin hanya ingin tidur sepanjang hari," bisik Ikram pelan di telinga Ellia yang langsung membuat mata Ellia terbuka begitu saja.
"Sudah waktunya ya?" tanya Ellia dan dengan segera di jawab Ikram.
"Iya,"
"Mas Ikram,"
"Apa ? ada apa?" tanya Ikram menatap lembut Ellia yang ada di depannya, tak lupa tangan yang merapikan rambut Ellia yang baru bangun tidur.
"Dan aku, aku tidak ingin merampas kebebasan mu untuk mengenali hatimu, cintamu dan masa depanmu," tambahnya dengan sebuah senyum tulus.
"Lalu anda profesor?"
"Profesor?" ulang Ikram, jelas sekali senyum getir di sana, ia kembali mendengar panggilan ini dari mulut Ellia.
"Aku akan kembali ke duniaku,"
"Dunia yang mana?"
"Duniaku yang sebenarnya,"
"Apa kita bisa bertemu lagi nanti?"
"Aku akan memikirkannya," pikir Ikram serius.
"Anda sudah tidak ingin bertemu dengan saya prof,"
"Aku kan masih mengajar nanti, kau masih bisa bertemu dengan ku, tenang saja," ucap Ikram.
"Benarkah?" tanya Ellia senang.
"Yeay asik," ucapnya senang.
Ellia masih dengan perasaan yang belum ia fahami maknanya hanya menikmati detik-detik terakhir kebersamaan nya dengan Ikram.
Selama satu hari ini keduanya masih tertawa bersama menonton sebuah acara TV yang mereka sukai, bercerita, berdiskusi dan bertukar pikiran adalah apa yang mereka lakukan di hari terakhir ini.
Hingga malam semakin larut, Ellia kembali tertidur setelah Ikram menceritakan sebuah cerita sejarah yang sangat ia sukai.
"Good night Ellia," ucap Ikram mencium kening Ellia lembut.
***
Matahari sudah meninggi dan masuk ke dalam kamar Ellia melalui celah-celah jendela kamarnya, "mas Ikram, mas Ikram," panggil nya namun tidak ada jawaban dari suaminya itu.
Ellia mengambil ponsel dan melihat jam yang menunjukkan angka 06.30.
"Ini masih pagi, kemana mas Ikram pergi, ah profesor Ellia, profesor," ucapnya yang terlupa.
Ellia beranjak dari ranjang, ia hendak melipat selimut namun sebuah nampan berisi makanan dan sebuah surat menghentikan gerakannya.
Ellia mendekat dan mengambil surat itu.
Ellia
ini sudah lebih dari waktu yang aku janjikan padamu, sejujurnya aku juga ingin mempertahankan kamu dan pernikahan ini, tapi aku harus menepati janjiku sebagai laki-laki dan suamimu.
Setelah ini tetap tinggal di apartemen yang kita tempati sebelumnya, itu adalah salah satu properti yang aku miliki, aku sudah merubahnya menjadi atas namamu.
Seperti Ifraz dan Iriana yang selalu ku berikan uang saku, ini ada sedikit uang saku dengan nominal yang sama seperti yang biasa aku berikan kepada mereka.
Bahagia seperti yang kau inginkan Ellia, maaf aku tidak bisa memberi banyak hal untukmu, aku pergi tanpa pamit karena takut semakin enggan pergi begitu melihatmu.
Jangan lupa makan
Ikram Al Zaidan
Tetes demi tetes air mata itu kini sudah tidak bisa berhenti lagi, perasaannya kacau, ia sangat yakin dirinya baik baik saja semalam, namun kenapa ketika saatnya tiba hatinya merasa sakit dan kehilangan yang teramat sangat, ia mencari dan meneriakkan nama Ikram di seluruh sudut rumah.
"Mas Ikram, mas Ikram," teriaknya dengan isak tangis yang sudah tidak bisa di tahan.
Ellia berlari, rumah ini tidak besar namun cukup membuat Ellia berkeringat karena panik bercampur takut mengetahui Ikram benar-benar pergi.
Bruk
Ellia berlutut, kakinya sudah lemas karena tidak menemukan Ikram di mana-mana, "bagaimana ini?" gumamnya dalam hati yang masih terduduk lemas.
Tok tok tok
"Ellia,"
"Mas Ikram," ucapnya yang bergegas membukakan pintu, namun Ellia kecewa begitu sosok yang ada di depannya bukan Ikram.
"Yuda? bagaimana bisa tau alamat ku?"
"Suamimu, dia meminta ku datang menjemput ku," jawabnya yang membuat Ellia faham.
"Dia sudah menyiapkan semuanya sejak awal," batin Ellia