
Malam ini Ikram masuk ke dalam kamar lebih dulu karena merasa cukup dingin ketika berada di luar ruangan, maklum saja kondisinya belum sembuh benar, Ellia masih berbicara dengan beberapa orang bersama dengan Ifraz.
Ikram merebahkan tubuhnya di atas ranjang, hatinya benar-benar tidak tenang sekarang, tiba-tiba dadanya merasa sesak, namun ia tidak mungkin mengatakannya pada Ifraz.
"Dia pasti sangat heboh ketika mengetahui dadaku sakit," gumam air.
Laki-laki ini berusaha memejamkan matanya, namun saat sudah mulai masuk ke dalam alam mimpi derap langkah kaki seseorang membangunkannya.
Baru saja tangan itu hendak menyentuhnya, namun Ikram dengan sigap menariknya, "mas Ikram," ucap Ellia.
"Astaga Ellia, apa tidak apa-apa, maaf maaf aku akan membiasakan diri dengan mu saat aku tidur," ucap Ikram yang sangat khawatir jika terjadi apa-apa dengannya.
"Mas Ikram kenapa?"
"Aku baru saja tidur, begitu tau ada orang yang dagang semua indra ku sudah pasti waspada, ternyata dirimu," ucap Ikram.
"Maaf mas, sudah, sekarang tidur lagi,"
"Ellia bisa tolong ambilkan aku obat yang di atas sana,"
"Obat apa?"
"Aku harus tidur, tapi susah sekali untuk memulainya, aku butuh obat untuk tidur sebentar," ucapnya.
"Mas tidak baik minum obat-obatan begitu,"
"Tidak masalah, aku ingin tidur sebentar,"
"Aku tau apa yang bisa membuat mas Ikram tidur dengan nyenyak tanpa minum obat," ucap Ellia.
"Apa?"
Ellia mendekat Ikram, memberikan sebuah kecupan di bibir basah milik suaminya, "Ellia, Ellia kenapa?"
"Memberi obat tidur," ucap Ellia.
"Tunggu, tunggu Ellia," ucap Ikram menjauhkan Ellia darinya.
"Ada apa?"
"Kau yakin ingin melakukannya, maksudku, uhm aku tidak yakin bisa berhenti jika sudah," belum sempat Ikram menyelesaikan ucapannya, Ellia kembali memberikan sebuah kecupan di seluruh wajah Ikram.
"Aku tidak berniat untuk berhenti mas," ucap Ellia.
"Kalau begitu jangan menyesal," ucap Ikram yang sudah membalik tubuh Ellia yang kini sudah berada di bawahnya.
"Mas Ikram," ucapnya yang cukup kaget ketika Ikram membalikkan tubuhnya.
"Diam dan nikmati saja Ellia, aku tidak akan membiarkanmu bicara, aku sudah cukup lama menantikan malam ini," ucap Ikram memegang kendali.
Wajah Ellia sudah merah padam antara malu dan takut, namun bukan Ikram namanya jika tidak bisa mengendalikan situasi dengan baik.
Malam itu Ikram hampir tidak tidur hingga dini hari, ia tidak bisa berhenti, bahkan rasa sakit karena luka di tubuhnya juga tidak di rasakan lagi.
"Mas Ikram, ini sudah terlalu lama, rasanya sangat perih," ucap Ellia merintih.
Ikram melihat jam yang ada di atas meja tepat di sebelah tempat tidur, waktu sudah menunjukkan pukul 02.55, "Astaga ini sudah pagi," gumam Ikram.
Laki-laki ini melepaskan miliknya, menarik lembut Ellia ke dalam pelukannya, "aku minta maaf, aku terlalu bersemangat, maaf tidak memperhatikan mu dengan baik," ucapnya dengan sebuah kecupan singkat di dahi Ellia.
"Iya, aku sangat mengantuk mas Ikram,"
"Tidurlah dulu, aku harus ke kamar mandi," ucapnya.
***
Ellia bangun pukul 07.00 pagi ini, ia masih membuka matanya berkali-kali, berbeda dengannya, laki-laki yang berada di sampingnya ini bahkan masih tertidur pulsa dengan sebuah selimut yang masih menutup tubuhnya dengan sempurna, hanya kepala saja yang tidak tertutup oleh selimut.
Dengan berhati-hati Ellia bangun dari ranjang, "rasanya pedih sekali, ini baru pertama kali sejak beberapa hari, di tambah tenaga mas Ikram, huft sudah-sudah aku tidak mau memikirkannya lagi," gumamnya yang mulai berjalan pelan menuju kamar mandi.
Pagi ini ia ingin berendam, cukup lama ia berada di dalam kamar mandi, IKram terbangun tanpa Ellia di sisinya, laki-laki ini berjalan dengan kaki telanjang mencari keberadaan Ellia, "Ellia..Ellia.." panggilnya.
"Iya mas, aku sedang berada di dalam kamar mandi,"
"Aku sedang mandi, apalagi yang harus kulakukan ketika aku berada di dalam kamar mandi," ucap Ellia.
"Ada apa ?" teriaknya lagi.
Tidak ada jawaban apapun dari Ikram, namun pintu kamar mandi terbuka, terlihat Ikram di sana masih dengan wajah mengantuk khasnya, "aku juga ingin berendam," ucapnya yang langsung ikut masuk ke dalam bak mandi dengan Ellia di dalamnya.
"Bisa-bisa aku keluar dari kamar mandi dua jam lagi," batin Ellia,
Dan Benar saja, pukul 09.17 Ellia baru saja keluar dari kamar mandi, berbeda dengan Ellia yang bergegas keluar dari sana, Ikram masih bersenandung kecil di dalam sana merapikan rambutnya.
"Ah, rasanya tubuhku sudah sehat kembali, aku akan mulai berkuda hari ini," ucap Ikram.
"Tidak ada berkuda, pagi ini dokter Ifraz akan memeriksa mas Ikram lagi, aku takut kalau kalau ada yang terbuka, lukanya bahkan sudah terkena air,"
"Ini sudah tidak sakit sama sekali, sudah jelas tidak bahaya, jangan mengganggu Ifraz, dia harus menyelesaikan tugas dariku, jadi jangan mengganggunya dengan hal-hal seperti ini sekarang, oke sayang," teriak Ikram.
Tok tok tok.
"Siapa ?"
"Abang," panggil Ifraz.
"Abang sudah bangun ? kita harus berbicara sebentar," ucap Ifraz.
Pintu kamar dibukakan oleh Ellia, suaminya masih bersiap dan sejak tadi berada di depan cermin, ingin memastikan penampilannya benar-benar sempurna, "selamat pagi kakak ipar, bang Ikram dimana ?" tanya Ifraz.
"Di dalam, uhm dokter Ifraz, boleh aku menanyakan sesuatu,"
"Ada apa ?"
"Um begini, mas Ikram mengalami sulit tidur, apa ada masalah seperti ini sebelumnya, atau efek dari obat proses penyembuhannya," tanya Ellia.
"Tidak ada kakak ipar, bang Ikram memang sulit tidur jika sedang berfikir, Danial group hendak meluncurkan produk baru bersamaan dengan kembalinya CEO utama, karena ia dia banyak berfikir dan sulit tidur, tidak usah khawatir, aku akan meresepkan obat untuknya nanti,"
"Baiklah kalau begitu, tapi tolong lihat lukanya, tadi dia berendam cukup lama," ucap Ellia lagi.
"Wah, si abang ini emang cari mati ya," ucap Ifraz yang langsung masuk ke dalam tanpa permisi.
"Abang, abang kemari,"
"Ada apa ?"
"Aku akan mengganti perbannya,"
"Hah ? kenapa di ganti,"
"Sudah menurut saja, ini bukan di rumah sakit abang, jadi abang tidak bisa memerintah ku," ucap Ifraz yang membuka paksa kemeja yang baru dikenakan oleh Ikram.
Satu persatu balutan perban basah yang ada di tubuh Ikram dibuka perlahan oleh Ifraz, "lukanya sudah mulai kering, sepertinya dokter William menggunakan yang terbaik begitu tau siapa yang ia rawat, tapi jika aku tidak membuka perbannya, lukanya pasti akan bernanah, abang sangat nakal dan tidak memikirkan diri sendiri,"
"Siapa yang bisa mengendalikan diri jika sudah ada sebuah nikmat dari tuhan di depan mata,"
"Maksudnya ?"
"Sudahlah, nanti kau juga akan faham saat sudah waktunya," ucap Ikram.
"OKe,"
"Abang,"
"Apa," jawab Ikram yang saat ini sedang mengganti channel televisi dengan sebuah remote di tangannya.
Bukan menjawab, Ifraz justru memutar rekaman yang berhasil ia rekam semalam, Ikram memejamkan matanya, menelan ludahnya kasar, tubuhnya seperti mengalir lahar dingin hingga membuat orang-orang di sekelilingnya merinding.
Pyar
Belum selesai rekaman itu di putar, Ellia dengan sebuah gelas yang jatuh di sekeliling kakinya menjadi pusat perhatian kedua orang ini.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.