
Ellia masih termenung di tempatnya hingga tidak sadar jika Ikram sudah berdiri di belakangnya, "Ifraz sudah pergi, ingin berjalan-jalan keluar tidak ?"
Mata cantik itu berbinar-binar menatap Ikram, "jalan-jalan ?"
Ikram mengangguk, "Asik," ucapnya senang dengan menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri.
"Kau sangat senang seperti itu ?" tanya Ikram yang juga senang melihat senyum keceriaan di wajah Ellia.
Hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban gadis kecil ini, "mas Ikram sudah mandi belum ? aku akan bersiap-siap, kita akan pergi sekarang ?" tanyanya dengan penuh antusias.
"Kenapa kau jadi sangat senang seperti itu ? aku yakin kau membicarakan ku dalam hati tadi, kenapa sekarang jadi sangat senang begini?," tambah Ikram menebak.
"Aku tidak senang, siapa juga yang membicarakan mas Ikram dalam hati, nggak ada kok," jawabnya menjulurkan lidah.
"Matamu bahkan memancarkan bunga ke sana-kemari , masih bilang tidak senang ?" ucap Ikram.
"Haha bagaimana bisa pak bos, mata kok memancarkan bunga ke sana-kemari, ayo jadi berangkat kan ?"
"Bagaimana jika kau mandikan aku dulu," ucapnya tanpa respon dari Ellia, gadis ini masih dia di tempatnya dengan alis sling bertautan, "memandikan ? memandikan yang bagaimana pikirnya ?" batin Ellia cukup shock dengan ucapan Ikram.
"Mas mandi saja sendiri, aku akan menyiapkan airnya," ucapnya masih dengan senyum manis itu.
"Lalu bagaimana aku mandi dengan tangan ini," ucapnya dengan menyodorkan tangan yang melepuh dan wajah memelas.
"Aku tidak akan bisa menggosok seluruh tubuhku dengan tangan ini Ellia, bagaimana jika terkena air, ini akan semakin parah dan kita tidak akan pergi jalan-jalan," tambahnya.
"Tunggu, tapi,"
"Ah seharusnya aku meminta bantuan Ifraz dulu tadi, apa aku mengejarnya saja," ucap Ikram berpura-pura hendak mengejar Ifraz.
"Eh, iya iya, aku yang akan mandikan, ingat jangan macam-macam, mas Ikram sedang sakit," ucap Ellia tidak ada pilihan lain.
"Aku janji tidak akan macam-macam," ucapnya mengangkat kedua jari tangannya membentuk huruf V ke udara.
"Tangan kananku tidak akan macam-macam, tapi anggota tubuhku yang lain aku tidak berjanji," batin Ikram senang.
Beginilah kehidupan mereka setiap hari, Ikram dengan semua sikap manja dan modus yang ia tunjukkan kepada Ellia mengukir banyak kenangan dan memberi ingatan dengan bekas mendalam, keduanya saling berbagi banyak hal, saling mengisi kekurangan, saling belajar membantu dan bekerja sama dalam sebuah tim, karena mereka hanya berdua di tempat ini, Ellia bahkan membuatkan jadwal pekerjaan harian yang akan mereka lakukan bersama dalam waktu satu minggu.
Dalam waktu satu minggu ini Ikram meninggalkan kemewahan yang mengelilinginya hanya untuk mewujudkan keinginan Ellia, memiliki kehidupan yang tenang dan sederhana dengan orang yang ia cintai.
Semua hal tentang mereka kini benar-benar menjadi sesuatu yang sangat berarti dengan ukiran yang sangat jelas sudah di sadari oleh Ikram, namun tidak dengan Ellia, gadis ini masih belum faham jika Ikram sudah menjebaknya untuk berbagi kehidupan satu sama lain.
Mulai dari hal sederhana, tubuh Ikram sudah menjadi candu bagi Ellia sebelum tidur, kini parfum mahal itu benar-benar sangat bermanfaat, karena Ellia tidak akan bisa tidur jika Ikram tidak di samping nya, kancing baju tidur Ikram akan menjadi objek mainan Ellia menjelang tidur, jarinya akan bergerak memutari kancing baju beraroma khas tubuh suaminya hingga tertidur, tentunya dengan beberapa cerita Ikram untuk mengantar tidurnya.
Seperti malam ini yang bertepatan di hari ke lima keduanya berada di sini, Ikram tengah membantu salah seorang tetangga yang membutuhkan bantuannya untuk memperbaiki saluran airnya yang bocor di malam hari, yang mana Ikram meninggalkan Ellia seorang diri di rumah.
Ellia kebingungan karena sampai sekarang Ikram belum juga datang, "ini sudah lebih dari satu jam, kemana dia pergi, kenapa lama sekali, apa kakek itu tidak memiliki anak sampai harus meminta bantuan kesini di malam hari," ucapnya yang tengah mondar-mandir di dalam kamarnya.
Gadis ini berusaha tidur dengan tenang di kamar, namun ia hanya merubah posisi tubuhnya tanpa bisa tertidur, "ah....ini menjengkelkan, kenapa mas Ikram belum pulang juga," gerutunya tanpa henti.
Dengan bantal yang ia bawa kemana-mana, ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Ikram suaminya, namun hanya suara operator yang menjawab panggilannya, entah kemana perginya suaminya ini, kenapa bahkan panggilan telfonnya juga tidak di jawab.
"Ah mas Ikram mas Ikram," panggilnya cukup kesal dengan beberapa kali memukuli bantal yang ada di pelukannya.
"Kenapa aku jadi tidak nyaman begini sih ? ya udahlah nunggu di ruang tamu aja sambil nonton drama korea dan nunggu mas Ikram datang," pikirnya.
Ellia dengan kaki di atas sofa menunggu Ikram, selama satu minggu ini Ikram tidak memperbolehkan Ellia berhubungan dengan orang lain yang Ikram tidak tau, baik itu teman kuliahnya, saudaranya, rekan kerja atau yang lainnya, terlebih dengan Yuda, ia tau ketika semua temannya menanyakan keberadaannya dimana sekarang dan alasan ia tidak bisa masuk selama beberapa hari, namun karena tidak ingin beralasan pesan itu hanya menumpuk di aplikasi pesan di ponselnya, ia tidak menghiraukan semuanya, hanya cukup tau dan membalik layar ponselnya di atas meja.
"Hah ? mereka bahkan tidak bisa sehari tidak menelfon ku, aku juga bingung harus menjawab apa," batinnya.
Cukup lama ia menonton drama korea di laptop milik Ikram yang ia letakkan di meja ruang tamu, cukup lama hingga Ellia tertidur tanpa sadar, selang beberapa waktu masih sepi tanpa ada suara apapun sehingga semakin membuat Ellia tertidur semakin pulas.
Pintu rumah ini terbuka, Ikram datang dengan kaos yang sebelumnya ia pakai, namun langkah laki-laki ini terhenti ketika melihat Ellia tengah menunggunya dengan laptop dan sebuah drama yang masih menyala.
"Dia tertidur ketika menungguku dengan drama ini?" tanyanya pada diri sendiri namun sebuah senyuman terlihat cukup jelas di wajah Ikram.
Ikram masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya mengambil bantal yang ada di pelukan Ellia dengan pelan kemudian memindahkan Ellia yang masih terlelap ke pelukannya, laki-laki ini menggendong dan me indahkan Ellia ke kamarnya.
"Cukup mengejutkan dia menungguku di sana dengan menonton drama korea," gumam Ikram pelan.
"Ah lelahnya, sudah lama sekali aku tidak melakukan pekerjaan kasar, otot ku perlu di latih lebih keras lagi sepertinya,"
Ikram bergegas ke kamar mandi setelah meninggalkan kecupan selamat malam di kening Ellia, "selamat malam Ellia, bagaiman aku tanpamu nanti," ucapnya saat itu menatap dengan raut wajah takut kehilangan.
TO BE CONTINUED