
"Iraz, nanti kamu cukup jadi dokter yang berkompeten saja, sisanya biar abang yang selesaikan," ucap Ikram mengacak pelan rambut di depannya.
"Iya bang," ucapnya seperti kelinci yang penurut.
"Menjadi abang beberapa hari saja aku sudah tau seberapa berat beban yang ia tanggung setiap hari, tapi dia tetap tidak mengeluh sedikitpun, perbuatan baik apa yang kulakukan padanya dulu, sampai dia berkorban sebanyak ini padaku dan Iriana," batin Ifraz.
Laki-laki ini bukannya memeriksa malah merebahkan tubuhnya di samping Ikram.
"Hey apa yang sedang kau lakukan ?" tanya Ikram.
"Tidur saja, ini masih pagi," ucapnya yang sudah memeluk Ikram seperti guling.
Ikram hanya menarik nafas berat, "kalau nanti hal seperti ini terjadi lagi, ambil apa yang kalian inginkan dan lepaskan yang lain, jangan menyulitkan diri sendiri dengan menjadi gila karena semua harta itu," jelas Ikram menepuk lembut adiknya seperti bayi.
"Iya," jawabnya dengan mata yang mulai terpejam.
"Kita turun saja, kita makan di bawah," ajak Ikram.
"Lah tadi ngapain nyuruh kakak ipar ngambil dong bang, ah abang mah,"
"Ya siapa juga yang nyuruh,"
"Mas, yang masak nggak ada, katanya sudah mas larang memakai pakaian seksi, jadi semua orang pergi dari tempat ini," jelas Ellia yang membuat Ifraz langsung bangun dari tidurnya, menatap Ikram tak percaya.
"Beneran ini tempat seperti itu bang?" tanya Ifraz memastikan.
"Lebih parah dari yang kau pikirkan,"
Ifraz langsung terbangun, "ada apa? mau kemana? "
"Kakak ipar di mana Iriana," tanyanya sangat panik.
"Dia masih tidur di kamarnya,"
"Beneran ada di kamarnya kan?" tanya Ifraz semakin panik.
"Ada apa memangnya?" tanya Ikram.
"Kenapa aku tidak tidur di kamarnya semalam, aish," gerutunya menyesal.
"Siapa yang berani menyentuh kalian semua selama ada aku, kau mengkhawatirkan apa?"
"Abang, Iriana sangat cantik, kita harus menjaganya dengan baik, kita bahkan tidak pernah melukainya,"
"Astaga Ifraz, jangan terlalu over thinking," ucap Ikram geleng-geleng kepala, Ellia hanya terkekeh melihat adik ipar yang sangat lucu ini.
Ifraz hanya menggaruk lehernya karena malu, "Oke deh, kita pesan online aja makanan pagi ini, kita turun sekarang," ucap Ifraz yang sedang memesan sangat banyak makanan untuk semua orang.
"Abang ingin makan apa?" tanyanya.
"Ellia,"
"Hah ?" ucap Ifraz yang tidak faham dengan maksud Ikram.
"Astaga mas Ikram benar-benar," gumam Ellia dalam hati.
"Uhm, aku ingin makan apa salad sayur saja," ucap Ikram yang masih menatap lekat istri kecilnya ini.
"Kakak ipar?"
"Aku ingin apa saja, aku lapar sekali," ucapnya dengan sebuah lesung pipi terlihat di wajahnya.
"Oke,"
"Pagi bos," ucap Andara yang muncul tiba-tiba.
"Astaga, mengganggu saja," gumam Ifraz sekeras mungkin, laki-laki ini sangat peka dengan seorang pengganggu dan seseorang yang berniat menggoda.
"Makanan anda sudah kami siapkan di meja utama," jelas Andara.
"Makanan yang mana, aku barusan melihatnya tidak ada," tanya Ellia.
"Makanan itu hanya dibuat secara khusus untuk bos kami, agar bisa kembali sehat dan pulih seperti sebelumnya,"
"Siapa dokternya? sejak kapan orang biasa sepertimu bisa tau makanan apa yang boleh dan tidak boleh di makan oleh pasien?" tanya Ifraz tidak suka.
"Aku bahkan mencari ke seluruh dapur, tapi semua orang bilang tidak ada makanan," batin Ellia gelisah.
Andara terdiam tidak berani menjawab, "saya hanya melakukan ini sebagai asisten pribadi anda di sini bos," ucapnya.
"Belajar lebih baik untuk melayani ku sebagai asisten pribadi ku Andara, kau juga harus tau batasan," ucap Ikram.
"Baik bos, kami menunggu anda di bawah," ucapnya langsung pergi begitu saja.
"Wah, dia benar-benar," ucap Ifraz yang langsung mengeluarkan ponselnya, kemudian menghubungi seseorang.
"Paman, aku ingin membeli semua tanah di sekitar ini, bangunkan aku sebuah rumah yang cukup untuk di tinggali seratus orang, sekarang, semuanya harus lengkap bersama semua pelayan," ucapnya yang kemudian segera menutup panggilan ponsel itu, meninggalkan Ellia yang melongo tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Ifraz.
"Ah, dokter Ifraz apa ini tidak berlebihan? umm maksudnya langsung membangun sebuah rumah itu bukankah terburu-buru, mas Ikram dia?" ucap Ellia yang tidak bisa berfikir lagi dengan respon Ifraz.
"Biarkan saja, jika aku menjadi dia aku juga pasti akan melakukan hal yang sama, anggap saja investasi," jawab Ikram singkat yang cukup membuat bibir Ellia membulat sempurna.
"Kemari, aku akan menutup mulutmu," ucap Ikram yang hanya di jawab oleh pelototan mata Ellia, ia sudah faham arah pembicaraan Ikram saat ini.
***
"Bos bagaimana ini, tempat ini seperti sudah di kuasai oleh anak buah bos Ikram, ini sangat sesak bos,"
"Sudah diam, aku bahkan tidak berani mendekati nya sekarang," ucap Aro yang ketar-ketir dengan bagaimana nasibnya setelah ini.
Beberapa orang sudah babak belur di hajar oleh orang-orang Zelin hingga pagi ini, "bos, kita minta bos Ikram yang mengajar kita saja," ucap yang lain yang baru datang.
"Sudah diam, kita semua sedang berada dalam kesulitan,"
***
Ikram di bantu oleh Ellia di sampingnya kini mulai turun dari tangga, laki-laki ini masih sakit saja masih sangat berambisi menggoda Ellia, bagaimana jika dia sembuh nanti.
"Mas Ikram, diem dong tangannya, kita sedang di luar ini," ucap Ellia yang merasa geli dan tidak nyaman ketika tangan Ikram masih bergerak bebas di tubuhnya.
"Baiklah, ayo kita kembali ke kamar,"
"Astaga mas Ikram, ini bukan waktunya untuk ini,"
"Ayolah, kali ini kau yang akan mengambil kendali, kau bisa melakukan apapun padaku, aku hanya akan diam dan menikmatinya," ucap Ikram benar-benar tidak malu sama sekali, sangat berbeda dengan Ellia yang sudah seperti kepiting rebus.
"Mas Ikram, jangan berbicara terlalu keras," bisik nya ketika begitu banyak sekali orang melihatnya dengan Ikram.
Tempat ini seperti basecamp, banyak sekali anggotanya dan semua laki-laki, "pagi bos,"
"pagi bos,"
"Pagi bos,"
Kening Ikram mengkerut melihat semua orang di sana, "kenapa wajah kalian semua seperti itu, bertarung dengan siapa ?" tanya Ikram heran.
"Aku,"
"Zelin?"
"Ini yang kau ajarkan pada mereka semua selama di sini? ini hasil karya sepuluh orang terbaikku," ucapnya pada Ikram penuh kesombongan, wajar saja karena mereka sebelumnya memang rival.
"Satu pergi ganti satu lagi, tidak ada Andara, Zelin pun datang," batin Ellia menghela nafas.
Ikram memijit kepalanya yang tak pusing, "kau bukan melatihnya, kalo bentukan mereka jadi seperti itu sudah pasti di hajar, bukan di ajar," jelas Ikram.
"Cih, bagaimana kondisi mu?"
"Mas Ikram kita duduk dulu," ucap Ellia.
"Ah, Oke oke," ucap Ikram berjalan pelan di sebuah bangku yang tak jauh dari sana.
"Baik, aku sudah lebih baik, bagaimana di sana?"
"Tentu saja baik, tidak ada yang perlu di khawatirkan," ucapnya.
Gadis bernama Zelin dengan sepatu boots di kakinya kini mendekati Ikram, "kau yakin baik? kurasa istrimu sedang tidak baik,"
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.