
"Jangan terlalu menuruti keinginannya," ucap Ginanjar mengingatkan Ikram.
"Dia hanya ingin memasak untukku, aku hanya ingin memberikan apresiasi untuk semua hal yang ingin ia lakukan selama itu baik," jawab Ikram yang masih melanjutkan mengunyah makanan di tangannya.
"Itu akan membuat mereka berdua bergantung padamu Ikram," tambah Ginanjar.
"Aku juga bergantung banyak hal pada paman, apakah juga tidak boleh?" tanya Ikram memutar balikkan pertanyaan.
"Itu dua hal yang berbeda nak," tambah Ginanjar yang juga kesulitan untuk menjawab.
"Hari ini Ifraz akan menginap di sini, besok aku ingin pergi bersama Ellia selama satu minggu, sampai aku kembali tolong bantu aku mengendalikan semuanya agar berjalan baik seperti biasanya," ucapnya sopan.
Ginanjar mengangguk mengikuti permintaan keponakannya ini, "jangan membuat keputusan gegabah, berfikir dengan kepala dingin oke ?"
"Pasti paman," jawab Ikram.
"Aku akan beristirahat dulu paman," ucapnya yang secara tidak langsung meminta Ginanjar untuk pergi.
Ikram meletakkan snack yang ia makan sejak tadi ke atas nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya, sebenarnya ia sangat pusing, kepalanya berat, di tambah rasa mual yang tak kunjung hilang, ia hanya bersikap baik-baik saja agar tidak membuat semua orang di sana khawatir, terlebih Ifraz, ia pasti sudah menghubungi Iriana, laki-laki ini tidak ingin menyulitkan semua orang yang ada di sekelilingnya.
Sebuah selimut yang menutup separuh tubuhnya kini mulai ia tarik ke atas sampai leher, Ikram memilih tidur agar sakitnya segera hilang, merasa tidak enak dengan posisi ia tidur saat ini, laki-laki ini mulai merubah posisi tidurnya dengan menghadap arah yang berlawanan dari sebelumnya.
Namun matanya menatap sebuah ponsel yang bukan miliknya di sana, "Ini milik Ifraz ?" ucapnya seorang diri.
Ikram menggerakkan tangannya, hendak membuka ponsel tersebut, "tidak terkunci ?" ucapnya.
Laki-laki ini tersenyum melihat gambar yang di jadikan wallpaper oleh adiknya, iya, itu adalah foto mereka bertiga yang sengaja di ambil beberapa bulan yang lalu, foto mereka bertiga. saat masih bersama-sama di dalam sebuah negara.
Saat ini Iriana sedang berada di negara lain karena suatu pekerjaan, "mungkin aku harus mengunjunginya bersama Ifraz nanti," ucap Ikram yang masih memandangi kedua adiknya itu dnegan tersenyum, ia masih melihat ke layar ponsel hingga tanpa sadar tertidur dengan ponsel yang masih ada di tangannya.
***
Ifraz sudah berada di dapur membereskan makanan-makanan yang masih ada di sana, laki-laki itu dengan telaten membersihkannya, memasukkan satu persatu ke dalam sebuah kotak makan plastik berwarna bening kemudian menyusunnya satu sama lain.
Ellia masih menatap laki-laki yang merupakan adik iparnya itu tanpa berani bertanya, cukup di lihat saja jarak di antara mereka cukup jauh, di tambah dengan ketampanan yang di miliki olehnya dan suaminya, mereka semua seperti bukan manusia.
"Dokter, anda sedang apa ?" tanya Ellia.
"Aku sedang membereskan makanan ini dan akan memasak makanan yang baru," ucapnya.
"Oh,"
"Kakak ipar," panggil Ifraz.
"Iya, ada yang bisa di bantu,'
"Oke baiklah," tambahnya.
Ginanjar masih melihat semua pergerakan mereka semua di sebuah sudut apartemen, ia masih ingat dengan jelas bagaimana mereka semua di usir karena sudah tidak memiliki hak waris sepeninggal ibu mereka, ibu mereka berasal dari keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh, perebutan kekuasaan dan warisan sudah mendarah daging di dalam keluarga ini.
Namun nasib mereka juga kurang beruntung karena ayahnya juga tidak mau menerima mereka lagi di rumah, ia sudah menikah dengan selingkuhannya dan akan memiliki anak yang lain, anak-anak yang di anggap tidak memiliki masa depan seperti mereka bertiga hanya akan menyulitkan pikirnya.
Karena itu Ikram menyembunyikan diri dari semua aset dan kekayaan yang ia miliki, begitu mereka semua tau apa yang sudah di miliki Ikram ,maka mereka akan berbondong-bondong menjodohkan Ikram dengan wanita lain yang bisa memberi keuntungan untuk mereka.
Berbeda dengan Ifraz dan Iriana yang memang sejak kecil tidak terlalu kenal dengan semua orang di keluarga mereka, Ikram saat itu sudah cukup dewasa hingga semua orang pasti akan mengenalinya ketika dia berada di puncak tertinggi kejayaan.
Ifraz dan Iriana hanya tau mereka menahan lapar karena Ikram belum bisa menghasilkan pekerjaan untuk memberi makan adik-adiknya, terkadang Ikram sampai pulang larut dengan wajah yang sudah babak belur agar bisa mendapatkan uang untuk membeli susu Iriana yang masih bayi, bayi kecil itu hingga saat ini selalu makan dari tangan Ikram, Ikram sudah terbiasa melayani adik-adiknya, mulai menyiapkan baju hingga makanan mereka,
Syukurnya, kedua adik itu benar-benar sangat menyayangi Ikram, bahkan teramat sangat, mereka tumbuh semakin kuat untuk menguatkan Ikram, mereka bertiga sama-sama berjuang hingga sampai di posisi saat ini, Ifraz sudah menjadi dokter hebat di usianya yang cukup muda, dan Iriana, bayi kecil yang selalu merengek itu kini sudah menjadi wanita tangguh dan berani yang siap menjadi perisai Ikram kapanpun.
"Langkah yang hebat Ikram menjadikan adik-adiknya sukses seperti sekarang, tidak ada yang tau apa yang sudah ia lalui saat itu hingga sampai di titik ini sekarang."
"Paman," panggil Ifraz yang melihat Ginanjar hanya berdiri di sudut ruangan.
Ginanjar dengan wajah berusia miliknya segera tersenyum dan mendekati keponakannya itu, "hendak memasak apa ?" tanya Ginanjar memegang bahu Ifraz lembut.
"Aku akan memasak makanan yang ada di kulkas saja, tidak banyak bahan makanan di rumah ini paman," ucapnya.
"Bagaimana pekerjaanmu ?" tanya Ginanjar.
"Hanya begitu-begitu saja, tidak ada yang menarik dengan itu paman," jawabnya singkat.
"Benarkah ? apa sudah memiliki kekasih ?" goda Ginanjar.
Ifraz hanya tersenyum pelan, "sangat di sayangkan bukan, dengan wajah yang aku miliki ini aku bahkan tidak memiliki kekasih," ucapnya kemudian tertawa.
Cukup lama mereka berbincang dan menikmati momen reuni yang sudah sangat jarang sekali terjadi beberapa bulan terakhir ini, hingga tanpa mereka sadari Ellia datang dan melihat keduanya.
Gadis ini kemudian meninggalkan mereka dan melihat Ikram di kamarnya, Ikram masih memegang ponsel milik Ifraz di genggamannya, Ellia tersenyum, ia mengambil ponsel itu dan meletakkannya di meja kecil tepat di sebelah ranjang Ikram.
Menaikan selimut yang Ikram kenakan dan memandang suaminya ini cukup lama, "apa aku membuka luka yang sudah lama anda simpan prof ?" ucapnya lirih.
Wajah itu masih terlihat pucat, Ellia menggerakkan tangannya menyentuh dahi Ikram, "masih panas," ucapnya sedih.
"Jujur, aku mengagumimu,tapi aku tidak pernah menyebut namamu di dalam doa ku, bukan anda yang saya inginkan," batin Ellia bimbang.
TO BE CONTINUE