
Pyar
Belum selesai rekaman itu di putar, Ellia dengan sebuah gelas yang jatuh di sekeliling kakinya menjadi pusat perhatian kedua orang ini.
"Kakak ipar,"
"Ellia, diam di sana jangan bergerak,"
Ikram mendekat menyingkirkan beberapa pecahan gelas yang hampir mengenai kaki istrinya, karena Ellia masih mematung di sana, akhirnya dengan sigap Ikram menggendong Ellia dan mendudukkannya di sebuah sofa.
"Ifraz kunci saja pintunya dulu," ucap Ikram.
"Mas, benarkah Ana?"
Ikram hanya memberikan sebuah senyum, menatap mata cantik di depannya, "jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya,"
"Kenapa Logan jahat sekali," ucapnya kesal campur sedih.
"Cinta memang seperti itu, bukankah kau dulu juga begitu," ucap Ikram.
"Itu beda konteks mas, aku juga tidak sampai hati meninggalkan mas Ikram saat itu," ucap Ellia sedikit merasa bersalah.
"Sudah tidak ada orang bang, jadi bagaimana ceritanya?" ucap Ifraz yang langsung ikut bergabung dengan kedua saudaranya itu.
"Ya sudah, semuanya seperti rekaman tadi, aku tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi," ucap Ikram.
"Jadi semua luka setiap abang kembali itu karena dia?"
"Tidak semua, tapi tujuh puluh lima persen memang karena dia," jelas Ikram.
"Kenapa tidak bilang dari awal, bagaimana bisa Iriana berhubungan dengan orang yang sudah berulang kali berniat membunuh abang, dia juga pasti akan terpukul setelah mengetahui semua ini bang," ucap Ifraz.
"Abang yang akan selesaikan semuanya, kalian berdua pura-pura tidak tau saja dan jangan terlalu di pikirkan," ucap Ikram berusaha tenang.
"Mas Ikram, jika dia sudah mencoba membunuh mas Ikram beberapa kali, bukankah sangat mungkin dia juga akan melakukan hal buruk pada Iriana," ucap Ellia.
"Bersama kak Zelin yang sangat mati-matian dia cintai saja berani bicara sampai seperti itu, bagaimana dengan Iriana yang sama sekali tidak di cintai nya," tambah Ifraz.
"Astaga, kalian berdua benar-benar, kenapa tidak diam, nikmati dan biarkan aku menyelesaikannya, sudah, jangan berfikir yang macam-macam," ucap Ikram yang mulai pusing dengan apa yang di katakan dua orang di depannya ini.
"Tidak bisa dong bang, dia sudah keterlaluan, menjadikan Iriana sebagai alat untuk menjatuhkan abang,"
"Kalau mau menjatuhkan ku ya jatuhkan saja, bahkan jika aku kehilangan semua pilar ku, aku masih bisa menghidupi kalian semua, karena semuanya ada di sini," ucap Ikram mengetuk kepalanya pelan.
"Otakku lebih berharga dari semua aset yang ku miliki,"
"Lalu Iriana?"
Plak
"Kan abang sudah bilang kemaren malam, kau masih belum faham saja, dan lagi, kau pikir persaudaraan kita serapuh itu sampai kau tidak percaya dengan Iriana, dia juga pasti bisa menilai sendiri mana yang baik dan tidak,"
"Sebagai dokter, lakukan saja tugasmu dengan baik agar siapapun yang ingin menghancurkan ku tidak bisa lolos dari jalur mu," ucap Ikram.
"Sudahlah bang, aku akan menghidupi abang dengan baik bahkan jika Danial group sudah tidak ada, aku kan juragan tanah bang," ucap Ifraz sedikit sombong.
"Benarkah? dengarkan Ellia, hidup kita sudah di jamin, kita tinggal duduk diam dan meminta uang saja, nanti juragan tanah ini yang akan menghidupi kita," ucap Ikram menggoda, tapi memang selain profesinya sebagai dokter, Ifraz memang sangat hobi membeli tanah dan bangunan, bisnis nya juga bergerak di bidang properti.
"Abang selalu kayak gini, nggak pernah serius tapi ujung-ujungnya sesak nafas, mikir keras sendiri, nggak bisa tidur," ucap Ifraz terhenti menatap Ellia.
"Jangan-jangan?" ucap kedua orang itu bersamaan.
"Jangan-jangan apa?" tanya Ikram.
"Mas Ikram sudah tau semua ini dan merasakan semuanya sendiri, mangkanya kemaren nggak bisa tidur, iya kan ?" tebak Ellia.
"Hanya aku yang di suruh keluar, kakak ipar tidak?"
"Dia masih harus menyiapkan bajuku yang kau buang itu," ucap Ikram yang baru sadar jika dirinya masih telanjang dada sejak tadi.
"Ah iya, oke deh," ucap Ifraz sebelum pergi.
Setelah Ifraz beranjak dan menutup pintu, suasana hening berada di kamar yang di tempati Ikram dan Ellia kini.
"Kemari," ucap Ikram yang sudah mengulurkan kedua tangannya.
"Kenapa tidak jujur saja kalau mas Ikram sempat hendak di jodohkan dengan Zelin," ucap Ellia.
"Tapi kan aku tidak suka padanya sayang," ucap Ikram yang menarik lembut tubuh Ellia ke dalam pelukannya.
"Tapi tetap saja kalian di jodohkan,"
"Kan aku menikah nya denganmu, apalagi yang harus di permasalahkan?" tanya Ikram.
"Tetap saja, mas Ikram penerus Alexander, artinya juga orang yang akan menikah dengan Zelin,"
"Ellia dengarkan aku, tau kenapa aku sampai mengambil alih benteng hitam tanpa menunggu di tunjuknya penerus?" tanya Ikram dengan Ellia yang hanya diam saja dengan kebisuan nya.
"Kenapa?"
"Karena mu, karena kamu ingin bersama Yuda dan aku sadar aku harus pergi, karena itu aku ke sana, dan ada sebuah kejadian yang aku tidak bisa duga sehingga menjadikanku penerus Alexander."
"Sudah ya, jangan berfikir macam-macam sayang, kan kamu orang yang kucintai sampai akhir, karena itu jangan lama-lama ngambeknya."
"Sini sini peluk dulu," ucap Ikram semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan menikah lagi ya mas, aku nggak mau punya musuh banyak, mereka pasti berebut tidur dengan mas Ikram, ini semua punyaku," ucap Ellia yang sepertinya tidak seratus persen sadar dengan apa yang di katakan.
"Iya, siapa yang hendak menikah lagi, tidak mungkin lah, ibuku sampai gantung diri karena Adams menikah lagi, kau pikir aku akan membuat anak-anakku besar tanpa ibu seperti yang ku alami? no Ellia, aku tidak bodoh," ucap Ikram cukup menyayat hati, seolah membuka sebuah luka lama di hatinya.
"Mas Ikram maaf," ucap Ellia.
"Tidak masalah selama kau tenang," ucap Ikram.
"Tapi El, aku sangat lapar, bisakah membantu Ifraz agar makanannya cepat datang, tenagaku sudah habis semalam," ucap Ikram.
"Mereka bahkan tidak menyisakan satu makanan pun untukku, bagaimana aku mengambilnya mas?" ucapnya sedih.
"Ada sebuah dapur di ujung tempat ini, mereka pekerja di mansion kita, kau bisa mengambil makanan dari mereka," ucap Ikram.
"Benarkah, ah akhirnya aku bisa bertemu mereka lagi," ucap Ellia meninggalkan sebuah kecupan di pipi Ikram kemudian berlari dengan malu.
"Dia bahkan sudah mulai kemaren malam, tapi hanya sebuah kecupan di pagi hari saja membuatnya malu seperti itu," ucap Ikram.
Sepeninggal Ellia, Ikram langsung mengambil laptop yang ada di meja kerjanya yang juga berada di dalam kamar ini.
Cukup lama dia berada di depan sana, sebelum kemudian sebuah panggilan telfon mulai menariknya, "tuan muda," panggil seseorang di sana."
"Bagaimana?"
"Sudah, sesuai perintah anda," ucap orang itu.
"Oke, aku tidak ingin kata gagal atau tidak sesuai rencana,"
"Siap tuan muda,"
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.