Ellia's Husband

Ellia's Husband
Tidak Pulang



"Aku tidak bisa berada di lingkungan baru tanpa kalian, aku sulit beradaptasi," ucapnya sedih.


Ikram berpindah tempat duduk, saat ini ia berlutut tepat di depan adiknya, "kalian semua sempurna, berhenti perduli bagaimana pendapat orang lain tentang diri kalian, yang terpenting adalah menjadi diri sendiri dan melakukan versi terbaik dari dirimu, bibi Ratih juga pasti akan tau jika kau merasakan tidak nyaman, sudah ada Nadin juga, apalagi yang kau takutkan,"


"Abang menginap saja di sini satu hari, aku pasti akan terbiasa setelahnya,"


"Hanya satu hari, setelah itu kita bisa bersama lagi, apa yang kau takutkan," ucap Ikram.


"Tidak tau," ucap ifraz gelisah.


"Aku tidak tenang saja," ucapnya lagi.


"Ada paman Ginanjar yang akan menginap di sini, dan membawamu kembali besok, apakah masih belum cukup, abang tidak bisa berada selamanya di sisi kalian," ucap Ikram.


"Abang jangan berkata seperti itu terus, aku benci mendengar nya," ucap Ifraz yang semakin merajuk.


Klik


Pintu mobil terbuka, ketiga orang itu sudah masuk bergantian, mereka terkejut dengan Ikram yang sudah duduk di bawah mobil dengan Ifraz yang sedang menunduk.


"Ada apa?" tanya Ellia cukup kaget dengan apa yang dia lihat.


"Kita menginap saja di hotel dekat sini malam ini," ucap Ikram


"Benarkah?" ucap Ifraz senang, sebuah senyum terlihat jelas terukir di wajah copy an Ifraz itu.


"Abang," teriak Iriana tidak suka dengan keputusan abangnya ini.


"Abang kenapa tidak di sini saja? di rumah ini masih banyak kamar kosong," ucap Nadin.


"Lihat dia, dia hanya akan sibuk dengan dunianya setiap hari, bukankah akan merepotkan jika harus membawa semua hal yang dia sukai ke tempat ini, bibi pasti tidak nyaman Nadin, abang di hotel saja, Iriana bisa bebas bergerak di sana," ucap Ikram memberi pengertian.


Iriana hanya diam dengan cemberut, ia tidak suka, ia belum menyelesaikan proyeknya, semua peralatannya berada di mansion sekarang, karena itu dia kesal dan meminta segera pulang untuk kembali mengerjakannya, tapi Ifraz di sini malah bersikap kekanakan dan nakal seperti ini.


"Sekarang turun dan temui semua keluarga barumu, abang harus pergi, masih ada rapat dengan Dirgantara sore ini," ucap Ikram.


"Baik, aku pergi dulu," ucap Ifraz senang, meninggalkan mobil dengan menggandeng tangan Nadin.


Iriana duduk di tempatnya, begitu juga Ellia, "Nando jalankan mobilnya,"


"Siap tuan muda,"


Ellia hanya melihat Iriana dan suaminya yang hanya diam tanpa suara, ia juga tidak berani untuk berkata apapun khawatir semakin membuat semua orang menjadi tidak baik.


Hampir sepuluh menit, namun mereka masih betah berdiam dan asik dengan ponselnya masing-masing.


"Iriana,"


"Hm,"


"Bukankah Ifraz selalu bersama mu saat abang tidak ada?" tanya Ikram.


Kedua wanita yang sangat dia cintai itu menatap ke arahnya. "hari ini dia bilang apakah ada orang yang bisa menerima keanehannya," ucap Ikram.


"Sejak kapan dia aneh?" tanya Iriana.


"Dia sulit beradaptasi di tempat baru tanpa abang dan kamu, dia merasa tidak aman untuk tinggal di manapun di mana kita tidak ada di sana, dan dia menganggap dirinya aneh karena hal itu," ucap Ikram.


Iriana tertegun, dia memang tidak pernah meninggalkan Ifraz, mungkin pernah beberapa kali, itu pun saat Ifraz harus terbang menemui Ikram, Ifraz memang tidak pernah berada di suatu tempat seorang diri tanpa dirinya atau Ikram.


"Dia masih kesulitan?" tanya Iriana.


"Bukan, sepertinya beberapa kali mimpinya muncul, dia di tinggalkan sejak kecil dengan mu berada di gendongannya, perasaan takut dan khawatir ketika di tinggalkan masih menggerogoti hatinya," ucap Ikram.


Iriana terdiam, setelah itu tidak ada kejadian apapun yang terjadi, bahkan sebuah perbincangan juga tidak terdengar di dalam mobil.


"Sudah sampai tuan muda," ucap Nando.


Iriana sudah sampai di sebuah hotel yang paling mewah di kota ini, Ikram baru saja memberikan sebuah kunci kamarnya, "semua project yang harus kau selesaikan sudah ada di dalam, kau bisa tenang dan mengerjakan semuanya dengan baik, kalau ada apa-apa bisa bilang pada Nando, dia berada tepat di sebelah kamarmu," ucap Ifraz.


"Kamar abang nomor berapa ?"


"Oke bang, makasih banyak," ucapnya memeberikan sebuah pelukan singkat untuk Ikram dan segera masuk ke kamarnya.


"Aku minta maaf ya," ucapnya merasa bersalah.


Ikram mengelus lembut rambut adiknya, "Oke, pasti selalu memaafkan mu," ucap Ikram lembut.


"Sampai ketemu nanti kakak ipar," ucapnya sebelum menutup pintu.


"Nando," panggil Ikram.


"Iya tuan muda,"


"Panggil dokter wanita untuk Ellia, dia terlihat aneh belakangan ini," ucap Ikram.


"Aku tidak apa-apa, kenapa sampai memanggil dokter,"


"Sadar atau tidak, kau terlalu memaksakan dirimu, bahkan di tempat dingin seperti ini kau bisa berkeringat, artinya ada yang tidak beres, nafsu makan mu juga berkurang, tidak sebanyak biasanya," ucap Ikram.


"Anda bisa menunggu di dalam tuan muda, dokter akan segera datang dalam waktu dekat," ucap Nando.


"Oke,"


"Ayo masuk,"


Kedua manusia itu sudah masuk ke dalam kamarnya, "mas, aku kan tidak apa-apa, tapi aku memang hanya bisa makan makanan yang manis saja," ucap Ellia pada Ikram.


Di sisi lain, Iriana tengah menatap layar ponselnya, mengirim pesan kepada seseorang.


***


Ifraz berada di kamar sederhana dengan ranjang berukuran queen yang cukup menyita banyak space ruangan di kamar ini.


"Ini tidak senyaman kamarmu yang ada di mansion, tolong sabar untuk satu hari ya," ucap Nadin.


Ting


Sebuah pesan masuk di ponsel Ifraz, "siapa?"


"Tidak tau," ucap Ifraz yang langsung mengambil ponsel di saku jasnya.


"Iraz are you okay?" tanya Iriana.


"Okay," send.


"Memangnya ada apa?"


"Tidak ada, lu temenin gua tidur sini,"


"Kok masih lu gua,"


"Oh, oke oke, temenin tidur yuk sayang,"


Wajah Nadin memerah, "ini masih siang,"


"Justru itu, kan namanya tidur siang,"


"Ku buatkan susu dulu ya," ucapnya.


Ini memang kebiasaan Ifraz sebelum tidur, segelas susu hangat sebelum tidur memang sebuah hal wajib yang tidak pernah ia tinggalkan.


Baru saja hendak beranjak dari sana, tapi tangan Ifraz mencegahnya, "aku ingin yang lain, aku sedang tidak ingin itu sekarang,"


"Apa, apa yang kau inginkan," tanya Nadin, ia tau betul Ifraz sedang tidak nyaman dan merasa terancam di lingkungan baru seperti sekarang, sekalipun suaminya itu tidak bilang.


"Kemari, temani aku tidur," ucap Ifraz yang sudah menarik Nadin di atas ranjang.


"Iraz, aku tidak bisa memulainya sekarang, bagaimana caranya?" ucapnya panik.


"Apakah kita harus menonton sesuatu dulu sebagai contoh, untuk referensi gaya dan bagaimana cara melakukannya," ucap Ifraz terlampau polos.