Ellia's Husband

Ellia's Husband
Godaan Ifraz



"Nadin, ayo kita makan malam bersama, aku masih tidak minat bermain dengannya," ucap Ikram yang meninggalkan Logan dengan suara teriakan karena Momo Mochi yang semakin mendekatinya.


Nadin enggan untuk pergi dari sana, sebenarnya cukup khawatir dengan keadaan Logan yang baru saja pulih, memang hanya satu tusukan, tapi luka yang di bahu cukup membuat kondisinya tidak stabil.


"Abang, tapi dia," ucapnya pada Ikram.


"Sudah ada penjaga kan,"


"Iya tapi kondisinya belum baik," jawab Nadin lagi.


"Lebih tertarik dengan dia dari pada bertemu denganku?" ucap Ifraz yang sejak tadi menunggu di luar.


Mendengar suara yang ada tidak asing di telinganya membuat Nadin yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya dari pintu segera menoleh, "Iraz," teriaknya yang langsung menyerbu laki-laki copy an Ikram ini dengan sebuah pelukan.


Ifraz hanya tersenyum, mengelus pelan punggung gadis yang ada di depannya ini, "kapan datang? kenapa tidak memberitahu aku?"


"Baru saja datang, bagaimana dia ?" tanya Ifraz.


"Kacau, organ dalamnya kacau," ucap Nadin.


Ketiganya bercerita sambil berjalan, Nadin bercerita panjang sekali dengan dua orang laki-laki yang dengan setia mendengar setiap celotehan yang keluar dari mulutnya.


"Lalu bagaimana hubungan kalian?" tanya Ikram.


"Aku baru saja menyatakan perasaan ku padanya tiga hari yang lalu, tapi lihat adik abang ini, benar-benar merasa tidak terjadi apa-apa dan diam saja," ucap Nadin.


Nadin memanglah anak yang selalu menjadi teman bermain Ifraz sejak sekolah dasar, Nadin sering main ke rumah dan membantu menjaga Iriana, ia bahkan selalu bercerita pada Ikram tentang apa saja yang di lakukan dengan Ifraz di sekolah.


Untuk cinta, sejak awal Nadin sudah mencintainya, bukan sebagai teman, bukan sebagai sahabat ataupun saudara, tapi cinta antara laki-laki dan perempuan.


Sayangnya Ifraz tak pernah sekalipun menanggapi, hanya teman, tidak pernah lebih.


"Abang menikahkan mu dengan orang lain mau tidak?"


"Benarkah? yang setampan dia ?" tanya Nadin lagi.


"Yang kayak gua mah unlimited, lu mau cari ke ujung dunia juga nggak bakalan ada yang punya spek kayak gua," jawab Ifraz.


Nadin hanya terkekeh menatap Ifraz dengan wajah itu, "sudah lihat? dia cemburu bukan? sabarlah sedikit," ucap Ikram setengah berbisik.


Tidak terasa perbincangan random membuat mereka sudah sampai di mansion, rumah megah itu cukup sepi malam ini, semua orang sudah masuk dan berada di posnya masing-masing.


"Ellia, Ellia," panggil Ikram.


Semua orang baru saja sampai di meja makan saat Ikram datang, "aku ada di sini mas, kenapa?" tanyanya.


"Ayo kita makan dulu Nadin," ajaknya.


"Hai semua," ucap Nadin yang baru saja melihat beberapa orang yang terlihat asing di sana.


"Hai kak," ucap Iriana yang langsung mendekat dan memberi sebuah pelukan singkat untuk Nadin.


"Dia," tanya Nadin.


"Ah perkenalkan, dia Istriku, Ellia," ucap Ikram memperkenalkan.


"Selamat malam kakak ipar," ucapnya menjabat tangan Ellia sopan.


Ellia melihat gadis cantik di depannya, memang tidak secantik Ellia, namun Nadin memang memiliki pesonanya sendiri, dia terlihat sangat keren dengan jas dokter dan sepatu kets yang ia kenakan.


"Duduk, ayo kita makan dulu," ucap Ellia.


"Mas Ikram cuci tangan dulu ya," ucap Ellia kemudian.


"Oke,"


Semua sudah duduk di kursinya, Ellia mengambilkan makanan untuk Ikram, baru saja ia hendak mengambil piring di depan Ifraz seperti biasa, namun tangan Ikram menahannya.


Ellia menoleh, terlihat Ikram memberi kode dengan menggelengkan kepala, tak lama Nadin mengambil piring Ifraz dan memberinya beberapa makanan yang ada di meja.


Dengan sebuah senyum Ellia mengambil piring Iriana, "ah, mas Ikram hendak menjodohkan mereka, kenapa aku tidak peka," batin Ellia sangat bersemangat.


"Aku tidak mau itu, aku juga tidak mau itu, itu juga tidak mau," ucap Ifraz yang mendadak jadi rewel.


"Lalu mau apa ?" tanya Nadin.


"Buatkan aku telur mata sapi setengah matang, sama susu kejunya jangan lupa," ucap Ifraz yang masih memainkan sebuah game di ponselnya.


"Tidak ada, tidak usah makan jika tidak mau," ucap Nadin yang tau kalau Ifraz hendak mengerjainya.


"Astaga, iya iya, akan ku buatkan untukmu, begitu saja marah, sedikit-sedikit marah," gerutu Nadin.


Gadis itu beranjak pergi dari sana menuju dapur, meninggalkan Ifraz yang tertawa senang karena berhasil mengerjai temannya itu.


"Kau senang?" tanya Ikram.


"Lebih tepatnya puas, aku sangat puas," ucapnya senang sekali.


Namun siapa sangka, Nadin kembali dengan membawa sebuah panci di tangannya.


Duk


"Aw," rintihan keluar dari mulut Ifraz yang mana membuat semua orang tertawa melihatnya.


"Hahaha itu balasan karena kau jail padaku," ucap Nadin yang langsung berlari ke dapur.


"Hahaha, rasain, rese sih," ucap Iriana yang juga sangat puas melihat Ifraz di tindas.


"Awas lu ya," gerutu Ifraz yang masih menggosok pelan kepalanya.


"Paman, besok aku ingin mengadakan pesta untuk semua relasi bisnis,"


"Secepat itu ? tidak beristirahat dulu saja?" tanya Ginanjar.


"Aku sudah cukup lama beristirahat, lebih cepat lebih baik,"


"Semuanya?"


"Tanpa sisa, bahkan beberapa orang dari pemerintahan juga boleh ikut bergabung, ini dalam rangka aku sudah siap untuk kembali,"


"Oke, akan paman urus untuk besok,"


"Ifraz, tugasmu menjaga Ellia, dunia hanya akan tau dia adalah orang yang kau jaga untuk sementara," pesan Ikram.


"Memang acaranya dimana?"


"Disini,"


"Abang, apa tidak terlalu berbahaya memasukkan semua orang ke sini?" tanya Iriana.


"Sudah tau juga, kapan hari Ifraz bahkan sudah memasukkan dua orang mahasiswaku untuk datang ke sini,"


"Tapi kan aku menutup matanya,"


"Tetap beresiko,"


"Lalu?"


"Aku sudah membuat sebuah mansion baru di tepi pantai, dari luar itu seperti resort, mudah mengecoh jika banyak orang di sana, itu akan menjadi tempat rahasia kita nanti," ucap Ikram.


"Yeay, pantai, main air," ucap Ellia pelan namun masih terdengar di telinga Ikram.


"Nih," ucap Nadin yang baru saja datang dan meletakkan makanan tepat di depan Ifraz.


"Cih, gitu aja ngambek, nggak asik,"


"Kak, semalam tidur dimana?" tanya Iriana.


"Di gua, bersama Logan,"


"Malam ini tidur di kamarku,"


Ikram menatap tajam adiknya, bukan hanya Ikram, semua orang menatap tajam Ifraz, "maksudku aku akan tidur di luar,"


"Kita masih punya banyak kamar, kenapa memberi kamarmu?" tanya Iriana.


"Iya ya, kenapa harus tidur di kamarku," gumam Ifraz yang heran dengan dirinya sendiri.


"Jadi sayang, aku tidur dimana malam ini ?" tanya Nadin menggoda.


**


Wah author beneran seneng banget kalau ada banyak sekali komentar puas yang reader tulis setelah baca cerita ini.


Terimakasih banyak untuk semua dukungan yang selalu kalian sampaikan hingga detik ini.


Selamat membaca.