
Sore ini Ikram masih bersama dengan Ifraz di dalam kamar, beberapa cek harus di lakukan di tubuh suaminya, karena ingin memberikan waktu agar Ifraz bisa melakukan pekerjaan nya dengan leluasa, akhirnya Ellia memutuskan untuk pergi.
Ellia sedang duduk di sebuah bangku menghadap pantai yang tidak jauh dari tempat mereka semua tinggal, beberapa angin sepoi-sepoi menggerakkan anak rambut Ellia yang panjang bergelombang, sesekali rambut itu menutup matanya dan bergerak-gerak di sana.
Ia menarik beberapa hembusan nafas sebelum kemudian mengeluarkannya, "Wah, pantainya benar-benar sangat indah," ucapnya dengan sesekali tersenyum.
Ini adalah salah satu hal yang selalu menjadi impiannya, meskipun sudah pernah di penuhi oleh Ikram, namun Ellia tetap senang jika memiliki rumah dekat dengan pantai, rasanya sangat tenang.
"Nyonya bos," panggil seseorang.
Ellia menoleh ke arah sumber suara, "ah, paman yang kemaren, ada apa?" tanya Ellia.
"Saya minta maaf atas perlakuan saya kemaren nyonya," ucap Aro penuh penyesalan.
"Iya, aku sudah memaafkannya," ucapnya dengan sebuah senyum yang semakin membuatnya terlihat cantik.
"Saya sangat menyesal nyonya bos," ucapnya setengah membungkuk.
"Tidak apa-apa, memang aku hanya istri rahasia paman, jarang ada yang tau mengenai aku, menyandera dokter Ifraz dan Iriana tentu akan membuat mas Ikram semakin marah, dari pada mereka, aku jauh lebih bersyukur karena aku targetnya," ucap Ellia tidak memiliki dendam sama sekali.
Aro tidak menjawab ucapan istri bosnya ini, wajah matang laki-laki ini masih terus mengamati Ellia, "sekali lagi saya menyesal sudah melakukan hal buruk pada anda, setelah ini saya akan meminta semua orang meminta maaf secara resmi pada anda," ucapnya lagi sebelum pamit undur diri.
"Hey, tidak perlu sampai begitu, aku sudah memaafkan kalian semua, terimakasih sudah menjaga suamiku di saat kondisi tersulit nya, itu sudah cukup, paman boleh pergi sekarang," tambahnya.
Aro berbalik, meninggalkan Ellia yang masih dengan asiknya menikmati desiran ombak di tepi pantai, dengan air adalah hal favoritnya.
"Nyonya bos, dia terlihat bodoh dan tidak peduli, tapi kenapa hawa di sekitarnya sama seperti bos Ikram," gumam Aro yang masih merasa merinding bahkan ketika sudah berbalik meninggalkan Ellia.
***
Seperti yang di perintahkan oleh Ikram, Aro menemui laki-laki itu di kamarnya tepat setelah ia bertemu dengan Ellia.
"Sore bos,"
"Ah, Aro sudah datang, pemeriksaan nya masih lama?" tanya Ikram.
"Sudah selesai, ingin memintaku pergi?" tanya Ifraz seolah faham dengan keinginan abangnya ini.
"Tidak, bantu aku bangun terlebih dulu," ucapnya.
Ifraz dengan hati-hati membantu Ikram untuk bangun, beberapa kabel dan banyak sekali alat-alat medis yang masih menempel di tubuh Ikram dan sengaja untuk tidak di lepas.
"Bagaimana caramu bertanggungjawab atas apa yang kau lakukan pada istriku?" tanya Ikram dengan ekspresi datar.
"Saya minta maaf bos, menyandera kedua adiknya sangat tidak mungkin, karena itu saya menargetkan yang paling lemah dan tidak menonjol di antara mereka," jelasnya.
"Seharusnya kau juga punya batasan Aro, kau hampir membuka seluruh baju istriku," teriak Ikram melemparkan sebuah cangkir berisi teh panas di dada Aro.
"Saya minta maaf bos, saya tidak akan mengulangi nya lagi,"
"Kau pikir kau punya sampai berapa nyama sampai berani melakukannya lagi," ucap Ikram yang sudah berada di puncak emosinya.
"Bos, saya minta maaf, saya berjanji akan menjaga nyonya bos sampai kapanpun nanti sebagai permintaan maaf,"
"Ingat janjimu," ucap Ikram dengan nada penekanan.
"Pasti bos,"
"Sudah bertemu dan meminta maaf dengannya?" tanya Ifraz yang membuka suara kali ini.
"Sudah bos kedua,"
"Bos kedua? wah," ucap Ifraz cukup senang.
"Dimana dia?"
"Nyonya bos sedang duduk di bangku yang ada di dekat pantai bos,"
"Apa katanya?"
"Beliau sudah memaafkan saya dan mengatakan tidak perlu terus menerus merasa bersalah, tapi aura di sekitarnya hampir mirip ketika saya berhadapan dengan anda bos, saya cukup bergidik ngeri meskipun nyonya tidak melakukan apa-apa," jelasnya jujur.
"Terimakasih bos,"
"Ah satu lagi, Andara, apa yang dia lakukan akhir-akhir ini, perlukah mendisiplinkan dia?" tanya Ikram.
"Akan segera saya pantau bos,"
"Oke," ucap Ikram dengan mengangkat tangan pertanda pertanyaan Ikram sudah cukup.
"Kakak ipar memang tidak banyak bicara, cenderung Menghindari perselisihan, tapi auranya sama seperti abang," ucap Ifraz membenarkan.
"Kami bahkan menurutinya ketika meminta kami untuk makan, hampir sama ketika kami tidak bisa menolak abang, kenapa bisa begitu ya," pikir Ifraz.
"Sudah jangan terlalu banyak berfikir, sekarang bagaimana hasilnya?"
"Abang Ku sayang, bagaimana bisa tulang patah bisa langsung sembuh seketika, lihat lah ini, bahkan tulang lainnya masih tidak berada di tempatnya, luka jahit juga masih belum kering, luka abang saja masih merah, dan kondisi yang lain apakah tidak bisa di lihat dari wajah saja,"
"Oke oke sudah, aku tau arahnya kemana," ucap Ikram yang sudah malas mendengar ocehan Ifraz.
"Uhm, abang masalah Iriana dan Logan,"
"Kenapa?"
"Abang nggak suka kan? boleh tau kenapa?"
Sebuah ingatan kembali muncul di pikiran Ikram, sebuah ingatan yang cukup konyol namun getir menurutnya.
"Tidak ada, cukup dia dengan tulus mencintai dan membahagiakan Iriana, abang udah nggak perduli apapun,"
"Misalkan, ini hanya misalkan bang,"
"Apa?"
"Dia mempermainkan Iriana,"
"Uhm, cukup menariknya kembali di sisi abang, tidak hanya Iriana, nanti saat kau pun bertemu masalah apapun di hidupmu setelah memutuskan untuk terbang, abang masih ada di sini untuk tempat kalian pulang,"
Ifraz kembali menatap abangnya, menghamburkan dirinya di atas tubuh Ikram yang terluka, tapi Ikram tidak merintih sama sekali, hanya diam, kedua bersaudara itu hanya diam hanyut dalam perasaan masing-masing.
Tanpa sadar seorang gadis yang sejak tadi berdiri diam di depan pintu kini masuk ke dalam dam ikut memeluk kedua abangnya.
"Hey, kenapa datang langsung meluk abang, ada yang menyakitimu?" tanya Ikram.
"Tidak ada, hanya ingin memeluk abang saja,"
"Tuhan, aku menarik ucapan ku tadi pagi, aku sangat beruntung memiliki dua abang seperti mereka," batin Iriana.
***
Hari sudah malam, Ellia mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam sebuah rumah berukuran besar, "Senang bermain," sambut Ikram yang baru saja membukakan pintu untuknya.
"Mas Ikram, lama menungguku?" teriaknya yang langsung bergelayut manja pada lengan Ikram, suaminya malam ini sedang belajar berjalan tanpa alat bantu apapun.
"Tidak," ucapnya sedikit merapikan rambut Ellia yang bergerak di wajahnya.
"Aku membelikan banyak sekali jagung untuk kita bakar malam ini," ucapnya sangat antusias.
"Kita bakar-bakar boleh ya mas,"
"Oke, sesuai perintah nyonya bos," ucap Ikram memberi sebuah kecupan singkat di bibir istrinya.
"Ada banyak orang mas,"
"Biarkan saja, biar mereka tau kalau setiap inci tubuhku hanya bisa di nikmati olehmu," ucap Ikram yang membuat pipi dengan lesung pipi itu memerah.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.