Ellia's Husband

Ellia's Husband
Malam pertama setelah tragedi



"Lagipula aku hanya istri rahasia," ucap Ellia cukup sedih.


Ellia mengangkat tubuhnya agar tidak hanya duduk di sana, ia membuka tas yang baru saja di antar oleh seseorang, ia mengambil teh lavender seperti yang ia ucapkan tadi dan juga menyalakan kompor listrik di dalam kamar.


"Ellia sedang membuat apa?"


"Teh untuk Iriana," ucapnya.


"Sudah ku bilang tidak ada teh untuk mereka berdua malam ini," ucap Ikram lagi.


"Mas, mereka berdua bahkan tidak tidur lebih dari dua hari, tidak tidak, dua hari adalah waktu yang aku tau, ku rasa bisa lebih dari itu," jelas Ellia.


"Kau tidak tidur?" tanya Ikram pada Ifraz.


"Iya, aku sangat sibuk," ucap Ifraz seadanya.


"Karena itu teh ini sangat penting untuk mengurangi perasaan stress, cemas dan juga gangguan tidur, terlebih ini di tempat baru, mereka harus beristirahat dan tidur nyenyak malam ini," ucap Ellia.


"Oke deh," ucap Ikram.


"Oke sudah, bang Ikram sudah bisa istirahat," ucap Ifraz merapikan beberapa benda yang sebelumnya sudah ia pakai.


Ikram memberikan kode pada Ifraz sebelum ia beranjak dari duduknya.


"Dokter Ifraz, ini tehnya,"


Ifraz hanya menatap sedih teh Lavender itu, "baiklah aku akan membawanya," ucapnya pasrah.


"Mana yang milik Iriana, aku akan memberikannya,"


"Jangan-jangan, aku akan memberikannya sendiri," ucap Ellia menolak.


"Berikan saja pada Andara, dia akan membantu mengantarkannya,"


"Siap bos," ucapnya segera mengambil teh di tangan Ellia.


"Kakak ipar aku tidur dulu, besok jangan bangun terlalu pagi ya, kalian berdua istirahatlah dengan baik, aku akan mengunci pintunya dari luar," teriak Ifraz yang tiba-tiba menghilang di balik pintu.


"Bos Ikram?"


"Aku yang akan membawa kuncinya, tidak ada yang boleh masuk tanpa izin ku, bang Ikram butuh istirahat," jelasnya pada Andara.


"Tapi harus ada seseorang yang menjaganya,"


"Sudah ada istrinya, kenapa kau sibuk mengurusi suami orang lain di malam hari, berikan pada Iriana dan kembali ke kamarmu, besok akan ada pelatihan dengan sistem yang baru," ucap Ifraz ketus.


***


"Dokter Ifraz, dokter Ifraz," teriak Ellia tidak menyangka bahwa dia akan di kunci seperti ini oleh Ifraz.


"Dia tidak akan kembali, percuma berteriak begitu,"


"Mereka semua menjebakku, padahal aku sedang tidak ingin bertemu dengan mas Ikram dulu, apa yang harus ku bicarakan ketika hanya kita berdua saja," gumam Ellia pelan.


"Ellia," panggil Ikram lagi.


"Iya mas, hehe kenapa?"


"Kenapa memakai baju setebal itu ketika hendak tidur," ucap Ikram.


"Bajuku yang tadi juga tidak terlalu tipis, tp mereka dengan mudah merobeknya, aku takut jika... jika,"


"Sudah cukup, jangan di lanjutkan lagi, kedepannya sudah tidak ada jika," ucap Ikram.


"Cepat kemari, kau tidak rindu padaku?"


"Rindu,"


"Hah? mendekat lah sedikit, aku tidak bisa mendengar suaramu," ucap Ikram berpura-pura.


"Huft," Ellia menarik nafasnya berat.


Gadis ini sudah berjalan menuju ranjang yang tidak terlalu besar di bandingkan milik mereka di mansion.


"Ada apa?" tanya Ellia.


"Tidak rindu padaku?" tanya Ikram yang hanya di jawab gelengan kepala oleh Ellia.


"Benar?"


"Iya,"


"Tapi aku rindu, bagaimana?" ucap Ikram balik.


"Eh, bagaimana bisa rindu, sudah ada banyak sekali perempuan di sisi mas Ikram," jawabnya.


"Tidak," jawabnya cepat.


"Benarkah? tapi pipimu merah," ucap Ikram lagi.


"Tidak, ah mas Ikram selalu menggodaku," Ucapnya memunggungi Ikram saat ini.


"Selama beberapa hari di sini, aku selalu berfikir, apa yang akan Ellia pertama kali lakukan ketika bertemu lagi dengan ku, apa dia akan memelukku, memarahiku, atau menyerbu ku dengan banyak sekali pertanyaan, ternyata justru aku di kejutkan karena kau bahkan berada di pelukan Aro dan Ifraz," ucap Ikram yang membuat tubuh kecil Ellia segera membalikkan badannya lagi.


"Mas Ikram saja tidak menolongku, selalu dokter Ifraz, dokter Ifraz lagi, dokter Ifraz lagi," ucap Ellia.


"Aku sampai membentak Iriana karena apa yang kalian lakukan," tambah Ikram menggoda seolah sedang cemburu.


"Tapi mas Ikram juga berada di pelukan Andara,"


"Siapa yang memeluk El, dia hanya membantumu berjalan, kau tau kondisi ku seperti apa, tubuhku bahkan masih demam," ucapnya berpura-pura menderita.


"Iya iya maaf," ucap Ellia menunduk.


Ikram menarik jemari lentik miliki istrinya, mendekatkan tubuhnya pada telinga Ellia yang duduk tidak jauh dari tubuhnya.


"Nanti jangan biarkan siapapun menyentuhmu, aku tidak menyukainya,"


"Mas Ikram cemburu?"


"Tentu saja, aku sangat mencintaimu sejak awal, bagaimana mungkin tidak cemburu, kamu saja yang tidak pernah cemburu padaku," goda Ikram.


"Aku juga cemburu," ucapnya pelan, hampir tidak terdengar.


"Benarkah?"


"Hah tidak, mas Ikram dengar apa tadi."


"Kau cemburu?"


"Sudah, ini sudah malam, tidak baik orang sakit tidak tidur di malam hari," ucap Ellia.


"Aduh," rintih Ellia begitu Ikram memegang pundaknya.


"Ada apa?" tanyanya khawatir.


"Tadi sedikit terkena cakar," ucapnya.


"Kemari aku akan melihatnya,"


"Ini tidak apa-apa mas Ikram,"


Tidak menjawab ucapan Ellia, laki-laki ini justru tetap membuka pakaian Ellia dari atas, terlihat luka memar cukup besar di pundak itu, "ini bukan cakaran, bagaimana cakaran bisa meninggalkan bekas lupa seperti ini, Aro benar-benar tidak tau berterimakasih sampai berani menyakitimu,"


Ellia menutup lukanya, "mas Ikram, ayo kita tidur saja, rasanya sudah lama sekali tidur tanpa memeluk mas Ikram seperti ini," ucap Ellia yang baru saja menata bantal Ikram agar suaminya ini tidur dengan nyaman.


"Sekarang waktunya istirahat,"


Ikram menuruti perkataan istrinya ini, "ada kau di sini, pasti tidurku sangat nyenyak malam ini," ucapnya yang sudah memejamkan mata.


"Aku juga," ucap Ellia yang juga sudah merebahkan tubuhnya tepat di samping Ikram.


"Good night Ellia,"


"Hm," ucapnya.


"Ellia,"


"Ellia," pamggilnya.


"Ada apa mas Ikram, kenapa memanggilku terus sejak tadi,"


"Kenapa sangat wangi? kita sudah lama tidak melakukannya, aku sudah tidak bisa menahannya lagi," ucap Ikram yang sudah berhasil mendekati leher Ellia dan bermain-main di sana.


"Mas Ikram..." ucap Ellia dengan pipi semakin memerah.


"Mas Ikram, mas Ikram masih pakai infus," ucapnya menghentikan gerakan Ikram di lehernya.


"Aku sudah lama menahannya El," ucap Ikram sedang tidak ingin di hentikan.


Tok tok tok


Ikram menghentikan gerakannya, "abang, ingat untuk berhati-hati dengan lukanya, jangan melakukan olahraga berat di malam hari, jika kembali terbuka aku akan membuang abang ke kandang buaya," teriak Ifraz di balik pintu kamar.


Ellia menahan tawanya melihat wajah suaminya yang masam, "segeralah sembuh, dan lakukan apapun uang kamu mau mas," ucap Ellia menghibur.


***


Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.