
"Lain kali, nggak ada penolakan makanan, makan sesuai jadwal yang di buatkan oleh Ifraz," ucap Ikram.
"Iya abang," ucap Iriana.
"Silahkan nona," ucap salah seorang pelayan yang baru saja meletakkan makanan tepat di depan Iriana.
"Tidak perlu di makan, ayo aku akan membawamu makan pizza," ucap Logan yang sudah berada di dekat Iriana dengan sebuah tangan yang seolah mengajak Iriana untuk ikut.
"Logan, kembali ke tempatmu," ucap Zelin namun tidak di hiraukan oleh Logan.
"Logan kembali ke tempatmu dan jangan membuat keributan," ucap Zelin lagi.
"Ayo Iriana, aku akan membelikan apa yang kau inginkan,"
"Aku makan ini saja, ini masih sangat banyak," ucap Iriana.
"Sudah, tidak apa-apa, abangmu juga akan mengerti," ucap Logan dengan penuh percaya diri.
"Lu pergi juga gak masalah na, kita sudah dewasa juga, nurut sama abang atau enggak itu pilihan kita masing-masing, tapi kalo gua boleh saran, jangan salah mengambil pilihan yang bakal buat lu nyesel nanti," ucap Ifraz nampak tidak peduli.
Ikram terdiam, menunggu apa yang akan di katakan oleh adiknya ini, "abang lebih rela kehilangan semua ini dari pada harus kehilangan wajah ceria yang selalu kau tampilkan di depan abang," batin Ikram.
Iriana menatap Ikram yang berusaha untuk tidak peduli dan tidak terganggu dengan apa yang terjadi, "aku di ajarkan olehnya sejak masih sangat kecil, dia memang tidak akan pernah sakit hati dan selalu mengerti semua hal yang aku lakukan, tapi aku juga masih harus tetap menjaga perasaannya, jangankan hanya sayur, semua makanan yang sudah abang siapkan untuk ku pasti akan selalu ku makan, karena itu pizzanya nanti saja, aku memiliki hari lain untuk makan pizza," ucap Iriana.
Sejujurnya Iriana bilang ingin makan pizza bukan berarti benar-benar ingin makan pizza, dia hanya manja dan bicara sekenanya, Ikram sangat faham betul hal ini.
"Oke, baiklah,"
Logan dengan kepercayaan dirinya harus hancur berkeping-keping pagi ini, di tambah malu yang harus ia hadapi di depan banyak orang seperti ini, "mereka terlalu kokoh sekarang," batin Logan.
"Zelin," panggil Ikram.
"Mulai hari ini akan ada seseorang yang membantu pekerjaan mu, karena penjualan senjata militer kita juga cukup tinggi, aku khawatir kau akan kualahan jika hanya dengan Logan, menambah satu asisten pribadi akan sangat membantu," ucap Ikram yang masih memasukkan satu demi satu suap sayur ke dalam mulutnya.
Deg
"Dia sudah tau, dia sudah tau jika Logan memundurkan diri," batin Zelin.
"Mas Ikram menggunakan cara ini?" tanya Ellia dalam hati.
"Baik, sesuai yang ketua katakan, aku tidak punya kuasa untuk membantah mu," ucap Zelin.
"Tim Audit dari perusahaan akan datang memeriksa selama beberapa kali, bersiap untuk ini, karena aku tidak ingin menerima kesalahan apapun,"
"Siap ketua,"
"Benteng hitam fokus latihan dan distribusi senjata, aku akan mengirim beberapa orang yang akan membantu mengajarkan strategi dalam bertahan,"
"Siap ketua,"
"Lalu apa yang akan kami lakukan bos,"
"Tunggu, aku masih harus menganalisa kekuatan kalian yang ada di sini,"
"Untuk apa bos? kami bisa belajar dan melakukan semuanya."
"Tidak bisa, semua orang punya kelebihan dan kelemahan masing-masing, kalian akan di asah sesuai dengan kelebihan yang kalian miliki, kecuali pelatihan tingkat dasar yang kalian jalani sekarang,"
"Siap bos," ucap mereka bersama.
Aro masih menatap seksama laki-laki yang sudah dia pilih untuk memimpin oraganisasi ini, "dia sempurna, semua hal yang dia lakukan sangat matang dan terstruktur di tambah disiplin," batin Aro.
***
"Kemana?"
"Menyerahkan laporan penjualan bulan ini, kau tidak ingat ini sudah hampir akhir bulan," ucap Zelin pada Logan yang berada di depan pintu kamar Iriana.
"Menyerah kan ini," ucap Zelin.
"Uhm, seharusnya dia sedang di dalam bersama kakak ipar, sangat tidak nyaman jika kita mengganggunya, bolehkah aku saja yang menerima, aku akan menyampaikannya pada bang Ikram nanti," ucap Ifraz.
"Boleh, bantu aku memberikan padanya," ucap Zelin yang langsung pergi begitu saja.
"Sedang apa di sini? menunggu Iriana?" tanya Ifraz.
"Iya, aku akan mengajaknya keluar,"
"Oh, ingat untuk menjaganya, dia alergi bunga, suka makan makanan cepat saji tapi selalu sakit perut jika makan makanan sampah, mudah mual jika terlalu banyak makan makanan manis dan mudah gemuk jika makan makanan dengan minyak berlebih,"
"Oke, aku pasti akan menjaganya, jangan khawatirkan dia,"
"Akhirnya dia punya pacar dan tidak mengganggu ku," ucap Ifraz sebelum masuk ke kamarnya.
Tapi laki-laki ini terus memantau apa yang ada di luar kamarnya dari balik pintu, hatinya harap-harap cemas, sejujurnya ingin langsung berlari pada Ikram dan berbicara panjang lebar mengenai masalah ini.
"Abang, abang abang abang abang abang," teriak Ifraz di dalam pesan yang ia kirimkan pada Ikram abangnya.
"Ada apa?"
"Iriana akan pergi dengan orang gila itu,"
"Biarkan saja,"
***
Kamar Ikram
Ikram menerima sebuah pesan dari seseorang selain Ifraz.
"Nona muda sudah keluar dari pintu pagar tuan," itu bunyi pesan yang di Terima oleh Ikram.
Dengan Ellia yang masih tertidur di pangkuannya, Ikram mengirimkan sebuah pesan kepada beberapa orang.
"Kita mulai rapat terbatas," tulisnya.
Tak selang beberapa lama, beberapa orang sudah datang mengetuk pintu kamarnya, "masuk," ucap Ikram.
"Ah saya minta maaf bos," ucap Aro yang masuk terlebih dulu dan melihat Ellia masih meringkuk di atas sofa dengan paha Ikram sebagai bantal.
"Masuklah dan jangan berisik," ucapnya.
Tidak hanya Aro, Ifraz dan Zelin pun ikut masuk ke dalam sana secara bergantian.
Dengan lembut Ikram menyentuh rambut Ellia dan meletakkannya di belakang telinga, "Ellia, Ellia," panggilnya.
"Hum," ucapnya setengah sadar dengan kelopak mata sedikit demi sedikit terbuka.
"Aku akan memindahkannya dulu," ucap Ikram yang langsung menggendong tubuh Ellia ke dalam pelukannya.
"Mas ada apa?" ucap Ellia ketika tubuhnya berpindah ke dalam pelukan Ikram.
"Aku minta maaf, seharusnya tidak membangunkan mu, tidurlah lagi di kamar Ifraz dulu oke," ucap Ikram sembari mengecup lembut dahi Ellia.
"Hu uhm," ucap Ellia sembari menggesekkan kepalanya di dada Ikram, mencari posisi ternyaman untuknya kembali tidur.
"Tidak bisa di pungkiri, aku cukup sakit melihat dia dengan istrinya, tapi tidak semua cinta bisa seberuntung mereka," batin Zelin begitu melihat sikap Ikram yang sangat lembut terhadap Ellia.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.