
Baru saja ia hendak masuk, seseorang menghentikan gerakannya.
"Tunggu kak,"
Ifraz datang dengan sebuah benda di tangannya, Zelin sendiri tidak tau apa yang sedang di bawa oleh Ifraz.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ini," ucap Ifraz menyodorkan sebuah kotak kecil dan langsung meletakkannya di telapak tangan Zelin.
"Ini apa?"
"Hadiah,"
"Untuk?"
"Nanti, jika terjadi sesuatu dan kakak butuh bantuan kami, pegang benda ini dan panggil nama salah satu dari kami," jelasnya.
"Kalian akan datang seperti jin botol?" tanya Zelin.
"Iya tentu saja," jawabnya.
Zelin tidak percaya, "kau hanya menggodaku kan?"
"Sudahlah, percaya atau tidak bawa saja benda ini, ini akan sangat berguna nanti," ucapnya.
"Untuk apa ? sudah bawa kembali mainan ini untuk bermain bersama Iriana saja oke," ucap Zelin lagi.
"Password nya adalah nama kami bertiga, pegang dan panggil salah satu dari kami saat kakak butuh bantuan, ini hadiah khusus yang aku dan Iriana buat untuk kak Zelin, maaf kami bersikap tidak baik tadi," ucap Ifraz penuh penyesalan.
"Tidak apa, kalau begitu aku menjemput Logan dulu,"
"Oke, kalau ada Nadin minta untuk segera kembali ya kak," ucapnya melambaikan tangan pada Zelin yang sudah masuk ke dalam mobil.
Mobil yang di kendarai Zelin berjalan pelan, meninggalkan halaman mansion menuju hutan tempat goa dimana Logan berada.
Ifraz menatap mobil itu hingga menghilang di balik hutan, "kalian bisa kembali bekerja,"
"Siap tuan muda kedua," ucap mereka.
Tidak lama saat ia hendak masuk dengan bersenandung kecil, Ginanjar datang dengan langkah cepat, bahkan tidak bergeming sama sekali saat menyenggol bahu Ifraz pelan.
"Paman ada apa? kenapa terburu-buru," tanyanya yang juga ikut panik.
"Nyalakan TV nya," ucap Ginanjar yang langsung masuk ke dalam ruang kerjanya.
Setiap stasiun tv yang dilihat oleh Ifraz semuanya hanya menampilkan berita kebakaran dan seberapa banyak kerugian yang di alami oleh Dirgantara.
"Paman, apa ini? kenapa memintaku menyalakan televisi, semua beritanya hanya ini," ucapnya yang tidak di jawab oleh Ginanjar.
"Siapa yang bisa membuat kebun sebesar itu terbakar hingga menjadi lautan api begitu, ceroboh sekali pekerjanya," ucapnya seorang diri.
Ifraz mematikan televisi dan hendak masuk ke kamarnya, namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu, "siapa yang bisa membuat kebun sebesar itu terbakar? pekerja tidak mungkin membuat bisa menyebabkan api sebesar ini, siapa yang di singgung Dirgantara sampai bernasib seperti ini?" tanyanya tetap seorang diri.
"Selain abang Ikram siapa yang bisa melakukannya?" ucapnya lagi terhenti.
"Selain abang Ikram siapa yang bisa melakukannya? Selain abang Ikram siapa yang bisa melakukannya? Selain abang Ikram siapa yang bisa melakukannya?" ucapnya berulang-ulang.
Ia tidak jadi masuk ke kamarnya, tapi langsung berlari menuju ruang kerja Ginanjar.
"Paman, paman," teriaknya berlari dengan tergesa-gesa.
"Abang yang membakar lahan anggur milik Dirgantara?" tanya Ifraz dengan nafas memburu karena panik.
"Iya,"
"Abang kok gak bilang? ada masalah apa memangnya? kenapa bisa sampai se frontal itu?"
"Sudah, duduk di sini dan bantu paman menyelesaikan ini," ucap Ginanjar.
Ifraz segera duduk menatap layar laptop yang di berikan Ginanjar padanya, dengan cepat jari jemari itu bergerak lincah di atas keyboard.
"Bukti?"
"Iriana sudah mengurusnya,"
"Saksi?"
"Aman,"
"Tersangka?"
"Nando akan mengurusnya," ucap Ginanjar.
"Secepat itu?"
"Iya, kalau bisa cepat kenapa harus lama?" tanya Ifraz lagi.
Ginanjar hanya mengangguk dan mengiyakan, "benar juga,"
"Hanya masalah seperti ini saja, mudah untuk di atasi," ucap Ifraz, Ginanjar hanya geleng-geleng melihat keponakannya ini.
***
Nadin sudah menunggu Zelin di depan goa, "kak,"
"Dia sudah siap?"
"Sudah," ucapnya yang langsung mengajak Zelin masuk dan membantu membawa Logan masuk ke dalam mobil.
Kali ini Logan hanya diam, tidak berbicara sama sekali, bahkan saat Nadin membuka rantai di tangan dan kakinya, Laki-laki ini hanya diam menatap lurus ke depan.
"Nanti ada dokter lain yang akan merawat mu, bang Ikram sudah memilihkan yang terbaik agar kamu bisa lebih cepat pulih, nanti cepatlah sembuh dan bisa segera kembali berkunjung kemari sebagai tamu bersama kak Zelin," ucap Nadin.
"Kita pergi dulu ya," ucap Zelin yang tengah memapah Logan di sampingnya.
"Hati-hati kak, sampai jumpa di lain waktu, obatnya sudah ku beri petunjuk, jika habis segera menghubungi doker William ya," ucap Nadin berteriak ketika mobil itu sudah mulai berjalan.
Selama perjalanan Logan hanya diam, hingga sampai di sebuah landasan helikopter pribadi milik Ikram.
"Hendak kemana?"
"Pulang,"
"Kemana?"
"Tempat kita,"
Logan terdiam, "aku tidak ingin kembali ke sana," ucap Logan.
"Itu bukan milik Ikram, itu milikku mulai sekarang, kau bisa membangun istana yang kau inginkan di sana," ucapnya.
"Kembalikan saja, aku punya rumahku sendiri," ucap Logan.
"Sesuai keinginan mu saja, berikan alamatnya," mintanya pada Logan.
Zelin turun dan mobil, "aku menggunakan mobil saja, dan tolong berikan ini pada Ikram," ucap Zelin menitipkan sebuah kertas tentang kepemilikan benteng hitam berikut ketuanya.
"Aku sudah menyelesaikan bagian ku, sekarang terserah kau akan membawaku kemana," ucap Zelin.
"Aku akan membawa mobilnya sendiri,"
"Kau masih terluka, aku saja yang membawa mobilnya," ucap Zelin.
Sopir yang hendak mengantarkan mereka juga mereka tinggalkan di sini, "Hati-hati nona," ucap beberapa orang yang ada di sana.
Logan masih menatap ke depan, melihat banyak sekali pepohonan yang sudah dia lewati, pikiran nya masih tidak berhenti, ia terus kembali saat Nadin mulai melepas semua peralatan medis dari tubuhnya.
Flashback On
"Kenapa melepaskan semua kabelnya? ingin membunuhku? ah pasti Ikram hendak membuat perhitungan denganku,"
"Dia melepas mu," ucap Nadin singkat.
"Haha, itu sangat tidak mungkin, kau pasti bohong agar aku merasa bahagia di saat-saat terakhir ku bukan? "
"Kak Zelin membuat jaminan atas mu,"
"Zelin? kenapa dia melakukan ini?" tanyanya tidak percaya, ia bahkan masih bisa tertawa.
"Karena kamu suaminya," ucap Nadin yang masih dengan telaten melepas satu demi satu alat yang terhubung di tubuh Logan.
"Tidak mungkin dia melakukan itu, maksudku Ikram, dia tidak mungkin melepas ku begitu saja, kalian pasti sedang merencanakan sesuatu," ucapnya tidak percaya.
"Tidak percaya ya sudah, kata bang Ikram begini, abang memilih berhenti terlepas seberapa banyak kali dia ingin membalas dendam di masa depan, terserah, abang sudah tidak perduli lagi, terserah dia mau berapa kali berusaha membunuh, memanipulasi atau bahkan menghancurkan abang tanpa sisa, karena satu, Anak-anak kita nanti juga harus bahagia, mereka tidak perlu mengurus dendam ayahnya, dendam keluarganya." ucapnya menirukan gaya bicara Ikram yang tidak di respon sama sekali oleh Logan.
"Setelah ini kak Zelin akan menjemputmu dan membawa ke benteng hitam, bang Ikram juga sudah menandatangani bahwa benteng hitam sudah kembali pada kak Zelin, pemilik sahnya,"
Deg, batin Logan tak percaya.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak semua