Ellia's Husband

Ellia's Husband
Masih tentang Ifraz



Ifraz menatap Nadin yang masih lahap memasukkan satu demi satu suap sendok ke dalam mulutnya.


Nadin hanya sibuk menikmati makanannya, hingga tidak sadar bahwa ia menjatuhkan sendok yang lain yang berada tepat di sebelahnya.


Gadis itu mengambilnya, "Hati-hati, kau selalu ceroboh," ucapnya singkat namun menutup ujung meja dengan tangannya agar Nadin tidak terbentur karenanya.


"Nggak ada yang rebut es krim nya, pelan pelan aja makannya," ucap Ifraz yang masih mengamati setiap inci wajah gadis di depannya.


"Memang nggak ada yang rebut Iraz, tapi waktu akan membuat semuanya mencair, aku berpacu dengan waktu," ucapnya yang dengan segera melahap habis es krim di depannya.


"Iraz, nanti kamu tidak usah datang di pesta pernikahan ku ya,"


"Bahkan tidak memberiku undangan," ucap Ifraz.


"Aku memang sengaja,"


"Kenapa?"


"Takut tidak kuat saja kalau ada kamu nanti,"


"Mau menikah tapi masih berharap pada laki-laki lain, artinya lelakimu yang tidak cukup baik," ucap Ifraz.


Nadin tersenyum, "memang siapa yang lebih baik darimu, kau memang yang terbaik, setelah melihatmu semua laki-laki di dunia ini terlihat buram di mataku, ha ha ha ha," ucapnya yang langsung di sambut oleh gelak tawa yang tiada henti, membuat Ifraz hanya menatap nya dalam diam.


"Sudah menahan kesakitan mu berapa lama sampai berani mengambil keputusan ini?" tanya Ifraz.


"Sejak sekolah dasar kan, aku sudah mencintaimu sejak saat itu,"


Ifraz terdiam menatap keindahan di depan wajahnya, manusia jahil yang selalu tertawa lepas bersamanya itu hari ini berubah.


Bukan tertawa lepas, tapi tertawa yang jelas untuk menutupi banyak sekali perasaannya, tawa yang hanya menjadi topeng yang ingin berteriak keras pada dunia aku baik-baik saja, "jelas-jelas tau aku bisa membaca seseorang, seberapa hebat topeng yang ia pakai, tapi masih berusaha melakukannya agar aku tidak khawatir," batik Ifraz.


Setelah menghabiskan makanannya, mereka berdua keluar, kali ini Ifraz tidak membawanya pulang, ia mengajak Nadin ke sebuah pantai yang tidak jauh dari pusat kota.


Bukan pantai yang indah, tapi cukup untuk menyatu dengan alam dan menjadi sedikit tenang, dari pada taman bermain, Ifraz tau Nadin lebih menyukai suara deru ombak yang membuatnya tenang, seperti Ellia.


"Kita tidak pulang," tanya Nadin.


"Masih ingin ke suatu tempat," ucaonya.


"Wuhu, pantai," ucapnya senang saat puluhan meter yang ia lihat adalah lautan.


"Iraz terbaik dalam memahami aku," ucapnya mengacungkan dua jempol ke arah Ifraz.


"Iraz ayo kita berhenti di sana, di sana sangat bagus," ucap Nadin dengan gembira.


Gadis itu berlari dengan cepat tepat setelah Ifraz menghentikan mobilnya, Ifraz hanya menatap gadis yang berlarian seperti bocah, perlahan mendekatinya.


"Iraz ada apa?" tanya Nadin saat Ifraz menutup kedua mata Nadin dengan telapak tangannya dari arah belakang.


"Lepaskan topeng mu, jadi dirimu sendiri, aku sudah tidak mampu melihatmu berusaha kuat dengan topeng itu," ucap Ifraz.


Nadin menggigit bibirnya, "aku memang tidak bisa berbohong pada laki-laki ini, sampai kapanpun aku tidak bisa berbohong padanya kalau aku sangat terluka dengan semua ini," batinnya.


Tak terasa butiran demi butiran air mata terjatuh, tangan Ifraz sudah basah, tapi dia tetap berada di tempatnya, seolah berusaha memberi kekuatan pada Nadin bahwa dia akan selalu berada di sampingnya.


"Jangan menahannya, berteriak saja, aku sudah menyewa seluruh pantai ini, tidak akan ada yang bisa melihatmu menangis," ucapnya.


Karena tidak tahan dengan tangis tanpa suara itu, akhirnya Ifraz berjalan memutar, memilih berada di depan gadis itu, terlihat sekali beberapa gigitan cukup untuk melukai bibir ranum pemiliknya.


Perlahan tangan Itu terbuka, Ifraz memeluk Nadin menarik tubuh kecil itu ke dalam tubuhnya, Nadin menggerakkan tangannya, memukul pelan dada Ifraz yang tidak faham dengan perasaannya selama ini.


Perasaan Ifraz sungguh tidak kalah hancurnya dengan keadaan ini, tangis tanpa suara itu sangat menyesakkan dadanya, tapi sebuah ungkapan cinta juga sangat berat untuk keluar dari mulutnya di saat begini.


"Nadin," panggilnya, namun Nadin sama sekali tidak menyahut.


Cukup lama, ia berusaha menguasai diri, sampai akhirnya mata itu beradu dengan mata biru milik Ifraz (hampir sama dengan mata biru milik Ikram, hanya saja milik Ifraz lebih muda).


Nadin tersenyum berusaha mengendalikan diri, "kenapa wajahmu sampai tertekan begitu," ucapnya menghapus air mata yang juga tanpa sengaja membasahi pipi laki-laki itu.


"Jangan menangis, jangan terluka dan jaga diri dengan baik, apa yang terjadi padamu, aku lebih merasakan sakitnya dari pada dirimu sendiri," ucapnya yang tidak sadar bahwa dirinya sendiri juga terluka, bahkan dia bicara dengan air mata masih mengalir deras di kelopak matanya.


"Menikah denganku saja," ucap Ifraz samar yang langsung menarik Nadin ke dalam pelukannya.


Nadin melepaskan pelukan itu, "apa kau bilang?"


"Menikah denganku saja," ucap Ifraz lagi lebih jelas dari pada sebelumnya.


"Kali ini kamu terlambat sangat banyak, bagaimana caramu mengejar ketertinggalan?"


"Aku akan bilang pada bibi untuk membatalkan acaranya," ucapnya yang bergegas untuk pergi.


"Keretanya bahkan sudah berangkat," ucap Nadin memberi kiasan bahwa dirinya sudah terlambat cukup jauh.


Namun Ifraz masih tersenyum, "aku punya jet pribadi, aku bisa lebih cepat mengejar ketertinggalan ku," jawabnya.


"Tidak bisa," jawab Nadin cepat, cenderung tanpa berfikir.


"Aku sudah memberimu kesempatan bertahun-tahun, dan sekarang sudah bukan waktunya," tambahnya yang benar-benar sudah tidak menginginkan hal ini.


Begitulah wanita, dia akan mengejar dan berjuang sampai ia lelah, hingga suatu hari ia akan menemui titik lelahnya sendiri dan memilih berhenti, dan sekarang inilah waktunya.


"Kita berteman saja ya Iraz, seperti yang selalu kau ucapkan padaku," ucap Nadin yang tidak menghapus air matanya sama sekali sejak tadi.


Ifraz mendekat, hendak menghapus air mata itu namun tangannya di tahan oleh Nadin, "aku memilih menikmati sakitnya dari pada harus menghapusnya," ucapnya.


Ifraz menjadi tidak sabar, dia tidak tahan dengan perasaan aneh yang mengalir di hatinya saat mendengar itu dari bibir Ellia, rasanya panas dan membakar seluruh tubuhnya.


"Aku bisa melakukan apapun pada calon suamimu kalau aku mau, aku bisa melakukan apapun untuk menjadikan mu milikku, dan aku bisa melakukan apapun untuk membatalkan acara itu, bahkan dunia ini bisa ku hancurkan dengan tanganku, kau tau aku lebih dari mampu untuk melakukannya,"


"Lakukan saja,"


"Kau mau bersamaku tidak?" tanyanya pada Nadin, namun tidak di jawab oleh gadis itu.


"Nadin aku bertanya padamu, mau bersamaku tidak?" tanyanya sangat yakin.


***


Wah author beneran seneng banget kalau ada banyak sekali komentar puas yang reader tulis setelah baca cerita ini.


Terimakasih banyak untuk semua dukungan yang selalu kalian sampaikan hingga detik ini.


Selamat membaca.