Ellia's Husband

Ellia's Husband
Nyonya Agatha



Di sebuah rumah yang cukup mewah dengan nuansa putih, terdengar dua orang yang tengah bertengkar dan beradu ucapan dengan kata-kata kasar, keduanya tidak menghiraukan beberapa anak yang menangis, menjerit ketika melihat orang tuanya bertengkar, ini terjadi karena Maheza menelfon dan meminta bantuan karena yang ia hadapi saat ini adalah putra sulung keluarga saudara iparnya, yang mana ini tentu semakin membuat malu dan menyesal Adams karena mengusir mereka semua saat itu.


Plak


Hingga sebuah tamparan mendarat dengan kasar di pipi tembam seorang wanita dengan rambut panjang bergelombang, "gara-gara sikap egoismu aku harus kehilangan berlian dan permata seperti mereka," teriaknya yang juga tak henti-hentinya memukul dengan kasar.


"Itu kamu, aku tidak pernah memintamu mengusir mereka, salahkan dirimu sendiri," teriaknya tidak ingin diam saja.


"Masih berani membantahku ?" teriaknya semakin geram.


Ini adalah keluarga yang saat itu mengusir Ikram dan kedua adiknya dari rumah, pemberitaan tentang Ikram Al Zaidan sudah sangat meluas hingga sampai tersebar ke penjuru negeri ini dengan cepat, Adams baru tau semua informasi ini dari anak buahnya, ia sudah sama sekali tidak mengingat bahkan nama putra-putrinya saat ini, hingga sampai pembantu yang sudah merawat keluarga ini sejak masa Ikram kecil berbicara padanya.


"Tuan muda, bukankah ini tuan muda Ikram kita yang dulu ?" tanyanya sembari menunjukkan sebuah berita yang ada di koran.


"Ikram ?" ucapnya yang kembali mengingat-ingat.


"Ini Ikram kita tuan besar, beliau sangat sukses sekarang, bisnisnya ada di mana-mana, rumah sakit nya selalu menjadi rumah sakit terbesar dengan fasilitas terlengkap yang pernah ada di negara manapun, hanya ada satu cabang rumah sakit di setiap negara dan sudah tersebar di negara-negara yang lain juga, banyak sekali rumor tentang dia akhir-akhir ini tuan," ucapnya cukup meyakinkan karena senang jika tuan yang sudah ia asuh dari kecil ternyata masih hidup dengan sehat tanpa kekuarangan sesuatu apapun.


"Ikram Al Zaidan ? dia anakku dengan Agatha ?" ucapnya lagi yang masih melihat dengan jelas koran yang ada di depannya.


"Tidak hanya itu tuan besar, beliau bahkan sangat sukses di sebuah bisnis yang bergerak di bidang pembuatan robot dan penyediaan senjata militer, sudah banyak sekali negara-negara yang sudah menandatangani kontrak kerjasama dengannya,"


"Dia permata yang sudah aku buang rupanya, aish ****," ucapnya kesal memukul meja di depannya.


Bagaimana tidak, pernikahnnya dengan wanita yang dulu menjadi selingkuhannya dan menjadi istrinya saat ini sangat membuat dia cukup kesal beberapa tahun terakhir ini, tubuhnya semakin menggemuk dan kumal, bahkan anak-anak yang dia lahirkan semuanya memiliki kekurangan yang cukup menyulitkannya sebagai orang tua, itu membuatnya kesal dan mulai mencari wanita lain untuk di jadikan istri agar bisa mendapat anak normal yang lainnya.


"Aku harus mencari mereka," ucap nya saat itu.


"Ini adalah balasan karena anda sudah membuang anak-anak itu dulu," batin pembantu itu cukup senang dengan apa yang di alami tuan yang ia layani.


"lalu bagaimana dengan uhm, siapa nama adik-adik nya itu, aku lupa," tanyanya dengan mudah.


"Tuan muda Ifraz dan nona muda Iriana,"


"Bagaimana mereka berdua ?'


"Anak perusahaan tuan Ikram di bidang kesehatan di kendalikan secara langsung oleh tuan Ifraz, beliau dokter muda dengan banyak rumah sakit di bawah genggaman tangannya, dan nona Iriana, beliau yang mengurus anak perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan dan perakitan robot, keduanya sangat hebat, namun sayang semua media tidak ada yang memiliki foto keduanya," jelasnya dengan sedikit bumbu agar laki-laki ini bisa terpancing dan mencari mereka.


Semua orang yang ada di rumah ini sedang menunggu hari ini, menunggu tuan muda mereka bangkit dan membalas semua rasa sakit ketika harus terusir dari rumah mereka sendiri, rumah dan semua kekayaan ini adalah milik ibu mereka, Nyonya Agatha.


***


Kelas berjalan dengan normal dan khidmat sepreti biasanya, tidak ada yang tidak memperhatikan terlebih siapa yang menjadi dosen mereka kali ini cukup terkenal dan memiliki nama yang cukup baik.


"Sampai di sini ada pertanyaan ?" tanyanya pada mereka semua sebelum mengakhiri kelas hari ini.


"Cukup pak,"


"Baik, kerjakan tugas kalian dengan baik, sampai bertemu minggu depan," ucapnya sebelum layar yang ada di depan semua mahasiswa menjadi hitam.


"Ellia ayo, mau ku antar pulang ?" tanya Vania yang membantu Ellia berdiri.


Ellia menatap sekeliling, mencari Yuda yang katanya sudah beberapa kali tidak terlihat masuk dan mengikuti kelas manapun sejak kejadian yang menimpa keluarganya.


"Yuda masih belum masuk ?" tanya Ellia pada kedua sahabatnya.


"Udah, nggak usah bahas dia dulu sekarang, kesalahan dia udah fatal banget sampek bikin lu kayak gini," tambah Rara yang masih sangat kesal dengan Yuda sampai saat ini.


"Oh ya, mas Ikram meminta kalian datang ke rumah hari ini,"


"Benarkah ? wah bisa ketemu prof Ikram ?" tanya Rara antusias yang mana langsung segera di senggol oleh tangan Vania.


"Dasar lu, nggak liat apa ada bininya,"


"Ye, orang Eliia nggak masalah, udah resiko ya El punya suami kayak prof Ikram, udah pasti banyak fansnya, ngapain lu yang sewot," ucapnya pada Ellia yang masih tersenyum.


"Ya lu jaga perasaan dia kek," tambahnya.


"Hehe sorry El," ucapnya.


Ellia mengajak kedua temannya itu untuk ikut masuk ke dalam mobil yang sudah siap untuk mengantarkannya pulang, "silahkan nona," ucap laki-laki yang baru saja di tunjuk Ikram menjadi sopir Ellia itu.


"Bapak, bersikap biasa saja, di sini ada banyak sekali orang yang melihat," ucap Ellia yang sudah terburu-buru masuk ke dalam mobil agar tidak menjadi pusat perhatian.


Ellia melihat mobil yang cukup besar ini tanpa henti, hingga kemudian ketika sopir itu masuk ke dalam ia segera menatapnya dengan sangat aneh, "kenapa anda memakai mobil yang sangat mencolok seperti ini pak, kenapa tidak memakai mobil yang jelek saja, atau mobil tua begitu," ucapnya yang tidak enak di pandangan semua mahasiswa yang lain.


"Udah Ell, biarin aja lu nggak usah mikirin yang enggak-enggak, udah nikmati jalani dan tenang," jelas Vania yang memang sudah terbiasa dengan semua kemewahan.


Saat mobil itu mulai berjalan, sebuah motor cukup besar mengikuti mobil mereka dari belakang.