
Ikram hanya diam dan tidak menjawab, "kau menangis?"
"Aku akan melanjutkan perjalanan dan akan menggunakan mode pesawat," tambahnya pada Ginanjar yang tidak ingin semakin bertanya panjang lebar.
"Ikram," bentaknya yang cukup memekakkan telinga Ikram hingga membuat laki-laki ini menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Sudahlah paman, di sana juga bukan tempat yang berbahaya, aku hanya kembali ke tempatku berasal,"
"Asal mu bersama Ifraz dan Iriana, bukan di sana, mereka bahkan membiarkanmu bertahan di hutan selama dua belas hari tanpa makan, ditambah binatang buas yang siap menjadikanmu makanan kapan saja, paman khawatir dengan semua hal membahayakan yang kau lakukan di sana, pulang, cepat pulang dan jangan membantah,"
"Paman, itu hanya sebuah ujian apa aku pantas masuk dalam salah satu kandidat ketua, toh aku juga lolos, itu hanya sesuatu hal yang sepele,"
"Sepele ? tapi itu membuatmu hampir mati karena pulang dengan darah segar dan dada yang terbuka, Ifraz dan Iriana sampai kebingungan mencari rumah sakit untukmu di usia mereka yang masih kecil," tambahnya berapi-api.
"Paman tidak bisakah mendukungku sekali lagi seperti yang paman lakukan seperti biasa ?" tanya Ikram lagi.
Cukup lama Ginanjar diam, laki-laki yang sudah berumur itu juga harus menetralkan gejolak aneh yang ada di dirinya atas semua keputusan yang akan di ambil oleh keponakannya ini, "paman selalu mendukungmu, tapi untuk yang satu ini tetap tidak," tambahnya.
"Kalau begitu, doakan semuanya lancar dan aku bisa kembali segera, saat aku sudah menjadi ketua, aku akan mengubah mansion ku menjadi markas mafia dengan wilayah kekuasaan terbesar di," ucapnya yang belum selesai dan terputus oleh ucapan Ginanjar.
"Paman ingin menarik telingamu," kesal Ginanjar pada keponakannya yang satu ini.
Ikram tidak bisa di bantah, di dalam keluarga ia adalah penguasa dan pembuat keputusan mutlak yang ucapannya harus terjadi, jika tidak maka tidak, jika ia maka iya, tidak akan ada yang bisa merubah keputusan laki-laki ini.
Cukup panjang perdebatan diantara paman dan keponakan itu, Ikram tetap berpegang teguh pada keinginannya, dan Ginanjar juga tetap pada keinginannya agar Ikram kembali dan tidak melanjutkan perjalanan.
Meskipun perdebatan panjang itu cukup memakan waktu, tapi Ikram saat ini tengah turun dari mobil dan memenangkan adu argumen dan debat dengan pamannya, laki-laki yang berjalan layaknya model ini segera menuju pesawat pribadi miliknya tanpa melakukan proses antri dan pengecekan.
"Silahkan tuan muda," ucap seluruh awak pesawat yang akan membantu perjalanannya kali ini.
Ikram hanya menunduk memberi hormat pada mereka kemudian naik pesawat di kursi yang ia tempati biasanya, laki-laki ini menatap lama sebuah kursi di sampingnya yang sebelumnya ditempati Ellia, "aku bahkan tidak bisa melupakannya barang sedetikpun," ucapnya yang kini tengah menyandarkan kepalanya di bantalan kursi dan memejamkan mata, berusaha mengusir Ellia dari pikirannya.
"Tuan muda," panggil salah seorang pilot yang hendak meminta izin untuk memulai penerbangan,
Ikram membuka matanya pelan, "iya, lakukan dengan baik dan bawa aku ke tempat tujuanku berikutnya," ucapnya dengan memaksakan sebuah senyum.
"Laksanakan tuan muda," jawab pilot tersebut.
Beberapa pramugari menatap Ikram sembari bertanya dalam hati mereka masing-masing, "ada apa dengan tuan muda, biasanya beliau akan terjaga sepanjang perjalanan, sekalipun itu jauh, tapi kali ini beliau langsung memejamkan mata begitu sampai di kursinya," batin masing-masing dari mereka namun tidak ingin mengungkapkannya satu sama lain karena menghargai Ikram.
Dengan tetap tenang Ikram bertanya pada beberapa orang yang menghampirinya, "apa ada kegagalan sistem ?" tanyanya.
"Tidak tuan muda, ini lokasi tujuan kita, banyak darah di mana-mana, sistem pesawat mendeteksi kita akan mendarat di tempat yang berbahaya sehingga alarm berbunyi,"
"Darah ? bagaimana ada darah di benteng hitam ? siapa yang berusaha masuk," tanya Ikram.
"Hubungkan aku dengan tower di benteng hitam, tanya apa yang terjadi di sana," ucap Ikram yang segera di jalankan oleh copilot dan beberapa orang yang lain.
Ikram berjalan menuju kokpit, "sudah terhubung ?" tanya Ikram lagi yang sudah berada di belakang mereka.
"Ikram di sini ? siapapun di sana ada yang bisa mendengar ku ? penjaga ? penjaga ?" tanyanya yang langsung mengambil alih alat pengirim pesan khas pesawat.
Masih belum ada tanggapan dan balasan pesan yang mana cukup membuat Ikram khawatir, "awasi terus sinyalnya dan terus menghubungi mereka sampat ada respon, berapa lama lagi kita sampai," tanyanya.
"Sepuluh menit tuan muda," jawab orang tersebut.
"Oke, berikan ruang kosong untukku, jangan biarkan siapapun masuk," ucap Ikram yang sudah bergegas pergi.
Ikram kembali ke kursinya, ia mengambil beberapa senjata yang memang ia siapkan untuk keadaan seperti ini, sebuah pistol yang lebih canggih dan hebat dari milik badan intelejen negara ini sudah berada di tangan Ikram, "the party is starting," ucapnya dengan seringai aneh yang belum pernah ia tampakkan sebelumnya.
Ikram masih menatap beberapa senjata sebelum memindahkannya ke dalam saku jas miliknya, hingga sebuah suara seorang perempuan terdengar.
"Ikram masih mendengar ku ? jika iya segera datang kemari dan bantu kami, " hanya itu yang Ikram dengar, ia sudah memiliki firasat sebelumnya, banyak darah di benteng hitam itu cukup mengejutkan.
Ikram segera beranjak menemui pilot yang saat ini tengah mengemudi, "kita tidak akan bisa mendarat baik di bandara atau pun di benteng hitam, pesawat ini dan kalian mungkin akan meledek bahkan jika hanya mendekati radius 50 km,"
"Apa yang akan kita lakukan tuan muda," tanya mereka panik
"Siapkan semuanya, aku akan melompat, jangan tunggu hingga aku mencapai daratan, cepat kembali begitu aku sudah melompat, bisa mengalahkan semua orang di benteng hitam artinya mereka datang dengan persiapan yang matang, kalian harus kembali dengan aman," jelasnya.
"Baik tuan muda," jelas semua orang yang kini tengah mempersiapkan apa yang baru saja di instruksikan oleh Ikram.
Hanya satu menit, seseorang sudah memanggil Ikram dan mengatakan semuanya sudah siap, Ikram menarik nafas perlahan setalah memakai pakaian pengaman, "kembali dan bawa pesawat dengan aman, see you on our next trip," teriak Ikram yang kini sudah mengambang di udara.
Laki-laki ini tidak kenal takut, ia menjadi salah satu kandidat ketua setelah melalui banyak sekali ujian yang sangat sulit, "ini adalah cara tuhan mengalihkan Ellia dari pikiranku, aku memang harus kembali ke tempat ini dan mengobati hatiku," pikir Ikram.
TO BE CONTINUED