
Ellia tertidur setelah melakukan pergulatan panjang dengan Ikram sore ini, Ikram masih terduduk di tepi ranjang, berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
Laki-laki ini menatap Ellia dengan lembut, berbisik pelan di telinganya, "semoga dia laki-laki, meskipun nanti aku pasti akan cemburu dengannya, setidaknya ada seseorang yang bisa menjagamu saat aku tidak ada di sisimu," ucapnya memberi kecupan lembut di dahi Ellia.
Ikram beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, guyuran air dari shower cukup mendinginkan tubuhnya yang masih terasa panas.
Cukup sepuluh menit ia berada di kamar mandi, bunyi bel pintu kamarnya membuat ia tidak bisa berlama-lama di kamar mandi, khawatir Ellia akan bangun karena suara bel yang beberapa kali terdengar.
"Ada apa?" tanya Ikram dengan handuk baju dan rambut basahnya.
"Tuan muda, ada berita dari nona ketiga," ucap Nando.
"Abang," ucap Iriana yang begitu saja muncul di balik Nando.
"Astaga, ada apa? kakak ipar mu sedang tidur, jangan mengganggu tidurnya," ucap Ikram yang langsung mengajak mereka ke ruang tamu yang berada di sisi lain kamar hotelnya ini.
"Ah sorry sorry," ucap Iriana.
"Ada apa?" tanya Ikram lagi saat mereka sudah duduk di sebuah sofa.
"Ada yang menyabotase mansion," ucap Iriana serius.
Ikram hanya menatap Iriana dan Nando bergantian, seolah ini sudah ada dalam prediksinya.
"Abang sudah tau," tebak Iriana yang melihat Ikram tanpa kekhawatiran sedikitpun.
"Sedikit banyak tau kalau ini akan terjadi, ini memang cara kerja Dirgantara," ucap Ikram lagi.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Iriana.
"Biarkan saja, biar dia bersenang-senang dengan istana kita, aku akan meminjamkan itu pada mereka sebentar," ucap Ikram.
"Perusahaan tuan muda?"
"Kita tetap bekerja dan mengendalikan seperti biasa, tidak perlu terlihat terintimidasi, mereka pasti akan panas sendiri nanti, mau coba lihat?" ucap Ikram santai.
"Oke, semua sistem keamanan dan jaringan sudah ku putus dari sini, Anak-anak ku sedang dalam perjalanan ke tempat yang aman, semua data di server juga sudah di cadangkan di server laboratorium milikku yang lain, sementara semua kemewahan dan fasilitas mewah di mansion juga mati total," jelas Iriana.
"Laboratorium Ifraz?" tanya Ikram.
"Aman, hanya data tidak berguna yang tertinggal di sana," jelas Iriana.
"Good, sekarang bersenang-senang saja dan lakukan pekerjaan seperti biasa, mereka akan semakin panas dengan sendirinya," ucap Ikram dengan seringai mengerikan.
"Baik abang," ucap Iriana senang, dia sangat suka saat menegangkan seperti ini.
"Berkas di meja kerja anda tuan?"
"Kau tau aku tidak suka meninggalkan barang bukti," ucap Ikram lagi.
"Yang ku khawatirkan hanya orang-orang kita di sana, terlebih Andara, dia punya kenangan buruk dengan Dirgantara," ucap Ikram lagi.
"Mas Ikram," panggil Ellia dari dalam kamar.
"Mas Ikram berbicara dengan siapa?" tanya Ellia yang semakin mendekat.
Ikram teringat Ellia belum memakai apapun, "Nando kau tutup matamu," ucapnya menunjuk Nando yang hanya membuat Iriana tertawa.
"Ellia, sayang, tunggu saja di dalam, jangan keluar, ada Nando di sini," ucap Ikram yang langsung menyusul Ellia agar tidak keluar dan bertemu dengan Nando dalam keadaan seperti itu.
"Ada siapa mas?" tanya Ellia yang langsung berlari ke pelukan Ikram.
"Ada Iriana dan Nando, kenapa sudah bangun?" tanya Ikram yang merapikan anak rambut Ellia ke belakang rambut.
"Ada apa mereka datang? ada masalah kah?" tanya Ellia.
"Hanya masalah pekerjaan,"
"Mas ingin es krim," ucap Ellia.
"Lagi?" tanya Ikram sedikit bingung, bukankah tadi dia sudah makan es krim, kenapa sekarang sudah meminta lagi.
"Sayang, tadi kan sudah, kok minta lagi, itu tidak baik untuk kesehatan dan tenggorokan mu, besok lagi saja ya," ucap Ikram.
"Pengennya sekarang mas, es krim coklat yang ada choco chipnya, aku dulu pernah beli bersama Iriana, itu sangat enak," ucap Ellia.
"Kita mandi bersama saja," ucap Ellia.
"Aku sudah mandi," ucap Ikram.
"Tidak apa, ayo mandi lagi saja, ya ya ya," bujuk Ellia.
"Tapi aku sudah mandi," ucap Ikram lagi, ia benar-benar harus membahas beberapa hal terkait keselamatan orang-orang yang masih berada di mansion sekarang pada Nando dan Iriana.
"Ayo mas, mandi lagi saja," ucap Ellia lagi membujuk bahkan tidak melepaskan tangannya di lengan Ikram.
"Oke, Oke, lima belas menit, aku masih harus membicarakan sesuatu dengan mereka berdua, ini sangat penting sayang," ucap Ikram.
"Benar ya, hanya lima belas menit ya," ucap Ellia.
"Oke, janji, hanya lima belas menit," ucap Ikram yang di jawab anggukan oleh Ellia pertanda ia percaya.
Ikram segera menemui Nando dan Iriana, "Sampai di mana tadi?"
"Andara," ucap Iriana.
"Andara, hanya Andara saja, ah tidak semua perempuan yang ada di sana, bagaimanapun caranya harus segera kembali, mereka akan menempati markas yang sudah kita bangun di sebelah markas milik Hassel," ucap Ikram.
"Siap tuan muda,"
"Memangnya kenapa bang, bukankah mereka semua sangat ahli,"
"No, mereka sangat buruk memperlakukan wanita, seberapa ahlinya meraka, pasti ada saat terlemah, abang tidak akan mengambil resiko apapun," ucap Ikram.
"Baik tuan muda,"
"Gerak sekarang, semakin cepat semakin baik, setelah itu aku akan leluasa bermain dengannya," gumam Ikram senang.
"Abang senang sekali," ucap Iriana.
"Kau juga sangat senang kan punya mainan baru,"
"Semoga yang kali ini tidak membosankan," ucap Iriana yang beranjak pergi dari sana.
"Nando ayo pergi, hari ini yang menjadi pengantin baru bukan hanya Iraz," goda Iriana.
"Abang selalu pengantin baru," teriak Ikram.
"Dirgantara," gumamnya.
***
Malam hari
Ini sudah pukul 23.45, namun Nadin belum juga masuk ke dalam kamar, ada masih banyak keluarga yang belum pulang dan memutuskan untuk menginap di sana sampai besok pagi.
Tentu saja Ifraz tidak keluar sama sekali, hanya di dalam kamar dan seorang diri, "benar-benar membosankan," gumamnya.
Sebuah panggilan video masuk ke dalam ponselnya, "Iriana," gumamnya.
"Hahahahahah," tawa Iriana memecah keheningan kamar yang sebelumnya sepi.
"Awas aja kalo ketemu, gua gintes juga tuh mulut,"
"Aduh abang Iriana yang paling cakep sedunia, kok malam pertama sendirian aja, kakak iparnya mana?," goda Iriana lagi.
"Di kamar mandi, ngapain lu telfon malam malam gini, tidur gih sono, ganggu aja," ucap Ifraz malas.
"Yakin ganggu, lagi kesepian kan sekarang? ngaku deh," tebak Iriana.
"Sorry ya, gua udah nikah nih bos, nggak mungkin sendirian, bobok ada yang nemenin, makan ada yang nemenin, kerja ada yang nemenin, emang elu, jomblo akut,"
"Wah, Iraz jahat, abang, abang Iraz jahat," teriak Iriana pada Ikram yang ada di sebelah nya.
"Dasar tukang adu,"
***
Mulai hari ini author hanya bisa up 1 episode setiap hari ya readers, maaf banyak-banyak