
"Satu minggu, hanya satu minggu Ellia, aku ingin hak ku sebagai suami," jelas Ikram.
Ellia menatap laki-laki di depannya, "setelah ini kembali padanya, kembali pada laki-laki yang kau cintai selama ini, hutang tiga milyar ini sudah ku anggap lunas, kembalikan cek tiga puluh milyar itu pada Yuda agar kau tidak memiliki tanggungan hutang, untuk biaya hidup mu setelah ini gunakan 5% saham dari mahar yang aku berikan kepadamu, itu lebih dari cukup memenuhi kebutuhanmu."
Butiran bening dari kelopak matanya masih deras menetes tiada henti, "prof saya bukan ingin mempermainkan anda, anda hanya," ucap Ellia yang tidak melanjutkan ucapannya.
"Bukan seseorang yang kamu inginkan," sela Ikram.
Ellia menunduk, tebakan Ikram benar, namun kenapa hatinya ikut sakit mendengar kata-kata itu.
"Hanya satu minggu Ellia, setelah ini aku akan keluar dari hidupmu segera, aku akan pastikan tidak akan muncul di depanmu lagi," ucap Ikram dengan senyum getir.
Ponsel Ellia yang berada di atas meja tiba-tiba berdering, ada nama Yuda di sana, laki-laki itu menelfon mungkin untuk bertanya kenapa ia tidak masuk kelas hari ini.
Namun Ellia tidak sanggup menerimanya, ia bahkan masih menatap Ikram tidak berani.
Ikram mengambil ponsel itu, ia mengambil sesuatu di dalam sakunya untuk menyamarkan suara dan menerima panggilan itu di depan Ellia dalam mode pengeras suara.
"Halo," ucap Ikram.
"Ellia? anda siapa? benar kamu bukan?" tanya Yuda.
"Suaminya, kenapa mencari istriku?" ucap Ikram lagi.
Yuda langsung menutup panggilan itu secara sepihak, Ikram menatap Ellia seketika, "dia bahkan tidak berani menghadapi ku, bagaimana bisa menjagamu, tapi jika bersamaku adalah luka, maka pergilah, temukan dia yang kau sebut bahagia selama ini," ucap Ikram.
"Prof saya minta maaf sudah banyak,"
Ikram menguatkan dirinya sendiri, kemudian tersenyum, "sudah lupakan, aku hanya ingin menikmati waktu satu minggu ini dengan damai," ucapnya kemudian bangkit merenggangkan otot-otot nya.
"Ini bukan tawaran Ellia, ini permintaanku sebagai suami yang harus kau patuhi, rumah ini hanya ada satu kamar, tolong rapikan pakaianku juga di sana, aku akan menyiapkan bahan makanan," tambah Ikram yang sudah bergerak menuju dapur.
Ellia masih menatap punggung laki-laki yang sudah banyak melakukan apapun untuknya, laki-laki yang selalu ia kecewakan, ia menuju kamar yang di maksud Ikram, kamar yang akan menjadi kamar mereka selama satu minggu ini.
Ellia menutup pintu kamar dan terduduk di lantai, kakinya lemas, ia memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh suaminya, "ini tidak benar, ini tidak benar Ellia," ucapnya pilu.
Sebuah kertas berisi cek tiga puluh milyar ini sesungguhnya ia bawa, namun ia memang tidak berniat menggunakannya sekarang, ia tidak berfikir semua tebakan Ikram padanya seratus persen benar.
Tok tok tok.
Ikram mengetuk pintu kamar dimana Ellia berada saat ini, Ellia yang masih terduduk di lantai dengan cek tiga puluh milyar itu segera bangkit dan membersihkan air matanya.
Namun sayang Ikram terlebih dahulu masuk ke dalam kamar dan melihatnya, Ikram melihat mata istrinya yang memerah, terlihat jelas sekali Ellia habis menangis.
Tanpa berkata-kata Ikram mendekat dan memeluk istri sekaligus mahasiswanya ini, "don't cry Ellia, maaf sudah menyakiti mu dan membuatmu terluka," ucapnya.
Bukan berhenti, tangis Ellia semakin menjadi, gadis ini bahkan semakin erat memeluk Ikram, perasaannya bercampur aduk, ia tidak tau siapa yang ia cintai saat ini, perasaan samar yang tidak jelas dan masih ambigu.
Cukup lama Ikram menenangkan Ellia, biasanya Ellia selalu kuat, hampir tidak pernah menangis di hadapan satu orang pun, ini pertama kalinya ia memiliki sandaran, tangisnya pecah, ia tidak bisa menahan nya lagi, Kata-kata Ikram seperti pisau yang langsung menghunus jantungnya.
Gadis ini berkali-kali meminta maaf dalam hati kepada Ikram, ia merasa sangat amat bersalah, ia seperti kacang lupa kulitnya, ia sudah di bantu sedemikian banyak namun tetap mengkhianati dan memilih orang lain, ia egois, ia sadar dengan apa yang sudah ia lakukan kepada Ikram, namun masih sangat takut berkata jujur dengan laki-laki yang sudah menjadi suaminya ini.
"Maaf prof," ucapnya tercekat.
"Jangan menangis lagi, satu minggu ini aku ingin membuatmu bahagia, aku tidak ingin melihatmu seperti ini," ucapnya pada Ellia, laki-laki ini bahkan mengecup rambut Ellia pelan.
"Profesor, pengen jagung bakar," ucap Ellia di tengah isak tangisnya.
"Hah?"
"Pengen makan jagung bakar di tepi pantai prof," ucapnya dengan tangan mengusap tepi kelopak matanya yang terkena air.
"Ayo, mau pergi sekarang?" tanya Ikram semangat.
"Boleh?" tanya Ellia yang juga tidak kalah semangat.
"Ayok, kita cari jagung bakarnya," tambah Ikram yang sudah menarik tangan Ellia keluar.
"Tidak apa, tidak apa asal Ellia bisa bahagia, aku akan bersedih sebentar dan semua akan kembali normal seperti biasa,' batin Ikram.
" Kita naik apa prof?" tanya Ellia.
"Itu," tunjuk Ikram pada sebuah sepeda ontel di sebelah rumah berwarna putih itu.
"Anda bisa memakainya?" tanya Ellia dengan mata tidak percaya.
"Tentu saja, aku bukan anak orang kaya sejak lahir," tambah nya.
Kedua manusia itu segera pergi meninggalkan rumah, "Saya akan memberikan semua yang terbaik yang bisa saya miliki untuk anda selama satu minggu ini prof, semoga ini yang terbaik untuk kita berdua, saya tidak ingin mengecewakan anda lagi," batinnya.
Sebuah tangan mulai terasa di bergerak melingkar di perut Ikram, Ikram menatap ke arah perutnya, sudah ada tangan Ellia di sana, laki-laki ini tersenyum, ia menikmati suasana dan hal sederhana ini.
Sebuah pantai sudah terlihat di depan mata mereka, "wah, aku baru pertama kali melihatnya, dulu waktu ada rekreasi sekolah nggak di kasih izin karena buang-buang uang," ucap Ellia seketika.
"Benarkah? kau bisa melihat mereka sepuasnya sekarang," tambah Ikram.
"Wah, wah, prof, itu ada tukang jual jagung bakar, ayo berhenti di sini saja ya," ucapnya seperti bocah yang senang melihat mainan.
Ikram menghentikan sepedanya di sana dan Ellia langsung berlari begitu saja ke penjual jagung bakar, "Ellia, jangan berlari, jagungnya masih banyak," teriak Ikram begitu melihat Ellia yang langsung melompat begitu saja dari sepeda dan berlari ke tukang jagung bakar.
"Dia terlihat suka dengan yang bakar-bakar rupanya, nggak sosis bakar nggak jagung bakar, doyan bener," tambah Ikram menggelengkan kepala.
"Dua pak, yang panas ya pak," ucap Ellia yeng terdengar di telinga Ikram.
Penjual itu memberikan dua buah jagung kepada Ellia, cukup banyak asap keluar dari jagung itu, "empat puluh ribu non," ucap penjualnya.
Ellia menoleh mencari Ikram, "hehe prof uangnya," ucapnya dengan menengadah kan tangan meminta uang pada Ikram.
Sejak menikah Ellia tidak pernah meminta apapun pada Ikram sekalipun itu uang jajan atau apapun, meskipun Ikram memintanya berhenti bekerja, gadis ini tidak pernah meminta uang kecuali Ikram sendiri yang memberinya.
"Sudah berani meminta uang padaku,"
Ellia mengangguk, kemudian mendekat dan berbisik, "karena saya istri anda sekarang," jawabnya.
TO BE CONTINUED