
Ellia sudah duduk tepat di sisi Ikram tanpa bertanya apapun, "bagaimana dok? apakah ada yang serius,"
"Jangan berbicara dengan sopan padanya, dia adikku, santai saja, semakin sopan dia akan semakin besar kepala,"
"Adik ipar?" tanya Ellia dengan mulut membentuk bulatan sempurna, Ellia masih tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya, dia memiliki adik ipar seorang dokter muda, bahkan sangat tampan.
"Jangan terkejut seperti itu, apakah wajah kami berbeda sampai kau tidak bisa mengenalinya ?" tanya Ikram.
"Profesor, apakah tampan adalah sesuatu yang bisa di turunkan ? anda dan adik anda benar-benar tidak memiliki perbedaan, kalian berdua benar-benar sangat tampan," tanya Ellia polos.
"Abang, kakak ipar sangat lucu, dia orang pertama yang bilang kita berdua mirip," ucap dokter tersebut menggoda Ellia dengan menggerakkan kedua alisnya ketika berbicara.
"Ifraz ? cukup, dia bukan orang yang bisa kalian semua goda, tidak untukmu dan juga Iriana," ucap Ikram yang tau jika adiknya ini sangat nakal dan suka bermain-main diluar identitas dokternya.
"Tapi dia tadi memanggil anda dengan menyebut nama Ikram saja prof, ku kira kalian berdua dekat hingga dia berani memanggil nama anda saja," adu nya masih tidak percaya jika laki-laki ini adalah adiknya.
"Dia memang nakal Ellia, jangan terlalu di hiraukan, kau tidak dengar dengan gaya bicaranya yang tidak sopan padaku ? dia memang nakal," ucapnya.
"Selamat datang di keluarga kami kakak ipar, semoga abang Ikram tidak membuatmu kesusahan dan betah berada di sisinya," ucapnya yang berdiri dengan kepala membungkuk.
"Profesor tidak pernah membuatku kesusahan," ucapnya.
"Profesor ? kenapa masih memanggil abang dengan profesor? dia lebih hebat dari Profesor, bukankah panggilan itu juga terlihat tidak akrab?" ucapnya spontan.
Ellia yang bingung harus berbicara apa mulai menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal, ia juga tidak tau kenapa harus memanggil suaminya dengan sebutan Profesor sampai sekarang.
"Sudah biarkan saja, dia bisa memanggilku dengan sebutan apapun yang dia inginkan, sama sepertimu, kalian punya kesempatan yang sama," ucap Ikram.
"Dokter tidak bisakah memeriksa dengan baik suamiku lebih dulu ? anda hanya banyak bicara sejak tadi, bukankah kedatangan anda kesini untuk memeriksa kondisinya ?" ucap Ellia skakmat.
Ifraz menggerutu pelan, "punya abang dan kakak ipar nggak ada yang asik nih, kemari kan paman, biar aku memeriksa abang nakal ini," tambahnya yang mulai menggerakkan sebuah alat yang Ellia juga tidak faham di sekitar tubuh Ikram.
Ifraz cukup serius memeriksa Ikram yang masih tidak melepaskan snack yang masih ada di pangkuannya, "abang, bisakah berhenti makan ? bisa nggak sih serius dikit ? abang tau abang nggak baik-baik saja, paman Ginanjar bahkan sampai harus turun tangan merawat abang sendiri di usia yang seharusnya sudah memiliki istri dan anak, jangan bandel dan turuti semua yang Ifraz katakan, mengerti ? kenapa nakal sekali, di periksa pun masih tidak meninggalkan snack itu,' ucap Ifraz yang cukup keras.
Semua orang di sana termenung tidak ada yang berani menyela bahkan menimpali ucapan Ifraz, "apa kau menjadi dokter agar bisa memarahiku ?" tanya Ikram.
"Iya, tentu saja, dulu abang bahkan memarahiku karena aku batuk setelah memakan es di jalanan, aku pasti akan balas dendam dan memarahi abang sekarang," ucapnya semakin kesal.
"Orang tampan meskipun marah juga tetap terlihat tampan," ucapnya cukup keras membuyarkan emosi Ifraz.
"Ellia,"
"Iya prof,"
"Ketampanan dan kecerdasan ini sudah mendarah daging di keluarga kami, tapi dia lebih sedikit pemarah," ucap Ikram dengan senyum tanpa dosanya.
"Anda benar prof, dia tampan tapi pemarah," tambah Ellia.
Ifraz hanya menggelengkan kepala tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan pada kedua orang di depannya ini, ia melonggarkan dasi di lehernya dengan kasar, "aku akan mengadukan ini semua ke Iriana, ia akan mengomeli abang sampai pagi, lihat saja," ucapnya tidak terima.
"Jangan lupa minum obat, lupakan masa lalu dan jangan terlalu overthingking, terkadang apa yang kita lihat dan yang kita dengar tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan, jadi pikirkan baik-baik apa yang akan abang pikirkan mulai sekarang, jangan menyakiti diri sendiri,"
Ifraz hanya menarik nafas berat melihat kelakuan abangnya ini, "sudahlah aku akan pulang," ucapnya lagi.
"Loh, lalu bagaimana kondisinya ? kenapa anda pergi sebelum membuat diagnosis dan menjelaskan apa yang terjadi padanya,"
"Kakak ipar, obatnya bukan pada orang lain, tapi dari tubuhnya sendiri, dia tau bagaimana cara mengobati dirinya sendiri, kalau ingin membantu, tetap di sisi abang Ikram dan jangan pernah mengkhianatinya,"
"Paman, tolong bawa anak nakal ini pergi," ucapnya memohon kepada Ginanjar, ia malas mendengar ocehan Ifraz adiknya di depan Ellia, ini memalukan pikirnya.
"Baik tuan muda," ucapnya.
"Mari tuan," ucap Ginanjar mempersilahkan Ifraz agar keluar dari sana.
Ifraz masih berdiri kemudian mengulurkan tangannya dan duduk di depan Ikram, mengambil tangan kanan Ikram dan mengecup punggung tangan itu pelan, "abang tau abang harus jaga diri untuk kita, kita tidak memiliki orang lain lagi, jadi," ucapnya pelan dengan kepala menunduk, Laki-laki. ini bahkan belum menyelesaikan ucapannya.
Ikram menatap Ellia yang juga tengah menatapnya, "bisa tinggalkan kami sebentar," ucapnya pada Ellia dengan tetap tersenyum.
"Mari nona," ajak Ginanjar mempersilahkan.
"Cinta ini akan membunuh anda tuan muda, ini situasi yang tidak menguntungkan untuk anda, semoga dengan kembalinya Ifraz ke sini bisa sedikit membuka mata anda untuk mengakhiri perasaan anda pada nona, atau saya akan turun tangan sendiri memisahkan nona muda dan kekasih nya untuk anda," batin Ginanjar.
"Baiklah," ucapnya memberikan privasi.
Ellia yakin keduanya juga butuh waktu untuk bicara dari hati ke hati, dan rasanya juga sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
Ellia sudah hampir berada di ambang pintu, gadis itu kembali menoleh ke arah Ikram yang sudah menarik adik laki-lakinya yang sedang menangis di pelukannya, "mari nona." ucap pak Ginanjar lagi.
Ginanjar menarik tangan Ellia pelan ketika Ellia masih mematung di ambang pintu menatap kedua kedua laki-laki itu.
Ikram menepuk lembut punggung Ifraz yang bergetar di pelukannya.
"Ifraz dan Iriana adalah adik tuan muda dan ketiganya adalah keponakan saya,"
Ellia menoleh ke arah Ginanjar begitu laki-laki itu berbicara cukup serius.
"Mereka hanya bertiga di tengah-tengah keluarga yang haus warisan dan kekuasaan,"
"Orang tua mereka?"
"Ayah mereka selingkuh dengan seorang pelayan di sebuah hiburan malam, itu menyisakan luka yang cukup dalam untuk ibu mereka, sehingga ibu mereka memutuskan bunuh diri di usia tuan muda yang masih sangat muda, saat itu nona Iriana bahkan masih berusia 6 bulan,"
"Lalu hari ini?"
Ellia tercengang, namun Ginanjar tersenyum, "hari ini tuan muda mengingat kembali semua kejadian itu, saat dimana ibunya bunuh diri di hadapannya saat memergoki suaminya berselingkuh. Setiap memori itu muncul ia akan merasa mual dan sangat pusing hingga kehilangan kesadaran, beliau sangat membenci dan tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan," jelasnya yang membuat Ellia seolah tersambar petir.
"Apa ia melihatku? "
TO BE CONTINUE