Ellia's Husband

Ellia's Husband
Bertemu Maheza



"Kami menemukan Maheza di antara beberapa wartawan di luar sana," ucapnya panik.


Sebuah senyum puas terlihat di wajah Ikram, "aku sudah bilang dia akan datang dan meminta kematiannya padaku,"


Deg, Ellia menatap wajah suaminya sedikit takut, "kenapa mas Ikram berbicara kematian dengan begitu mudah ? apakah mas Ikram benar-benar akan membunuhnya ?" tanya Ellia dalam hati.


Setelah kejadian hari itu, hanya selang beberapa jam saat Ikram menemui dan menghajar Maheza di tempat gelap dan berbau busuk, saham perusahaan laki-laki tua itu langsung menurun drastis, semua pemegang saham menarik sahamnya secara bersamaan saat itu juga, perusahaan yang sudah puluhan tahun itu terpaksa harus gulung tikar dengan banyak sekali tanggungan karyawan yang demo padanya di depan rumah karena khawatir tidak mendapat pesangon karena perusahaan sedang collapse.


Tidak hanya itu, pernyataan presiden tentang siapa Ikram sesungguhnya dan Maheza yang sudah mengusiknya membuat semua orang enggan untuk membantu, semua uang yang sebelumnya ia simpan di bank terblokir, semua orang meninggalkannya, bahkan ketika berjalan pun semua orang melemparinya dengan batu bahkan telur busuk karena sudah mengganggu dan mengusik orang yang sudah menjadi pahlawan di negara ini.


"Iriana," panggilnya.


"Hm, iya bang," ucapnya yang masih fokus pada bangunan balok yang sebentar lagi akan roboh di tangan abangnya Ifraz.


Bruk, bangunan balok yang sudah kehilangan banyak penyangga itu hancur bertaburan hingga lantai.


"Yeay, you lose again Iraz, hu hu hu, tidak akan ada yang bisa mengalahkan ku untuk bermain game, aku adalah ratunya," ucap Iriana senang.


Berbeda dengan Ifraz yang kesal dan menampilkan wajah cemberut, Iriana meminta Ifraz menarik nafas perlahan agar bisa meredakan emosinya, "tarik nafas Iraz, tarik nafas, tenang, tenang, tenang," ucapnya dengan gerakan tangan naik turun.


"Oke apa yang kau inginkan ?" tanyanya.


"Ifraz ? Iriana ?" panggil Ikram lagi.


Kedua bocah ini jika sudah bermain akan lupa dengan sekelilingnya, contohnya saja hari ini, bahkan seorang Ifraz saja mampu mereka abaikan karena sebuah permainan.


"Sabar mas, sabar," ucap Ellia mengelus dada Ikram pelan.


"Iya bang Ikram," sahut mereka berdua bersamaan ketika melihat suasana hati Ikram mulai berbuah.


"Cari dimana Maheza sekarang, bawa kesini dan jangan sampai orang lain tau," tambahnya dengan sabar.


"Mainan itu aku akan mengambilnya sementara waktu," tambah Ikram tegas, pasalnya karena mainan itu kedua adiknya tidak menghiraukannya.


"Ye, orang kita yang beli," tambah Ifraz tidak terima.


"No no, mainan itu menyesatkan," tambah Ikram.


"Terserah terserah, sudah Iraz berikan saja, nanti kita bisa beli lagi,biarkan dia senang dulu sekarang, jangan membuat bang Ikram marah, nanti dia tidak mengizinkan kita bermain apapun lagi," tambahnya setengah berbisik pada Ifraz.


Ifraz mengambil semua balok kayu yang masih berceceran di lantai, ia memasukkannya dalam sebuah box cantik berbentuk segi empat, "masukkan yang sebelah sana Na," tambahnya pada Iriana.


Ikram masih dengan snack yang ia makan di pangkuannya menatap kedua adiknya yang masih seperti bocah di depannya, "paman,"


"Iya tuan muda,"


"Jika hanya ada kita jangan panggil tuan muda paman, kami kan keponakan paman," tambah Ikram.


"Iya, itu hanya merusak keakraban," tambah Ifraz yang masih sibuk dengan balik kayu yang masih berceceran.


"Ada apa Ikram ?"


"Apa aku harus menjadikan paman sebagai ayah kami ke seluruh dunia," ucapnya yang mana membuat semua orang menatapnya penuh tanda tanya.


"Dan paman, paman juga bisa mencari seorang istri dan menikah," tambah Ellia yang kini sudah masuk ke dalam pelukan Ikram dan memainkan kancing kemeja laki-laki itu sembari menatap Ginanjar.


"Setuju kakak ipar, kami juga merasa bersalah jika paman tidak menikah karena harus menjaga kami," jelas Iriana.


"Sekarang sudah ada bang Ikram dan kakak ipar di sini, jadi paman tidak perlu mengkhawatirkan apapun dan nikmati saja semua kemewahan ini dengan seorang istri di samping paman," ucap Ifraz.


Ginanjar sedikit terenyuh mendengar semua ucapan dari keponakannya, "nanti akan paman pertimbangkan,"


"Sudah tidak perlu di pertimbangkan lagi, Nando, Nando,"


"Iya tuan muda,"


"Setelah ini kau akan menggantikan posisi paman Ginanjar sebagai asisten pribadiku, dan urus semua hal tentang surat yang menjadikan kami semua sebagai anak angkatnya, ingat untuk mengubah tanggalnya,"


"Baik tuan muda,"


"Maheza sedang dalam perjalanan kemari bos," ucap salah seorang pengawal yang lain.


"Kerjamu cepat juga Iriana ?" tanya Ikram yang memuji kecepatan adiknya, yang ia tau Iriana membantu Ifraz mengemasi balok kayu yang berjatuhan, ia tidak menyangkan Maheza sudah dalam perjalanan kemari.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan aku," ucap Iriana bangga.


Ellia menatap wajah yang masih tersenyum di depan matanya, "kenapa menatapku seperti itu Ellia ?" tanyanya yang aneh ketika Ellia menatapnya sejak tadi tanpa bicara.


"Tidak ada," tambahnya.


"Yakin, aku memang bukan orang baik sejak awal, seharusnya kamu tau itu sayang," ucapnya yang saat ini sudah melihat ke arah Ellia.


"Tidak ada ampunan bagi mereka yang sudah mengusik milikku, bahkan nyawa mereka pun bukan tandingannya," ucap Ikram dengan sebuah senyum masih mengembang di bibirnya.


"Siapa laki-laki yang sudah aku nikahi ini ? dia bukan seperti orang yang kulihat sebelumnya," batinnya.


Maheza terlihat meronta karena beberapa pengawal Ikram yang menyeret tubuhnya dengan paksa, senyum sumringah semakin terlihat jelas di wajah Ikram ketika bertemu kembali dengan laki-laki itu.


"Ikram," teriaknya dengan suara berat.


"Tenanglah paman, paman akan merusak pendengaran ku dengan berteriak seperti itu," tambahnya.


"Ikram, aku mengingatmu sekarang," ucap laki-laki yang semakin terlihat tua dengan apa yang ia pakai sekarang, tubuh kumal dengan kemeja kotor dan tidak di masukkan, di tambah rambut yang berantakan karena frustasi semakin membuat penampilannya tidak karuan.


"Benarkah? wah harus nya aku merasa terhormat karena sudah ada yang mengingatku," ucapnya yang masih duduk di atas sofa dengan Ellia di sampingnya.


"Ikram, tolong lepaskan aku dan berikan klarifikasi, aku berjanji tidak akan mengganggumu, semua orang menghindari ku, aku menjadi buronan seluruh negara, tolong aku, tidak kau harus benar-benar menolongku,"


"Abang, memangnya ada sejarah apa antara abang dan dia," tanya Iriana penasaran.


Ikram hanya tersenyum, "wanita itu, wanita yang sudah merebut ayah dari ibu adalah saudara perempuannya," jelas Ikram yang cukup mencengangkan.


Iriana hanya tersenyum melihat laki-laki yang ada di depannya ini, "wah, aku harus kehilangan ibu tanpa sempat melihatnya, kira-kira hadiah apa yang akan kau berikan padaku sebagai ganti rugi?" tanya Iriana yang sudah bangun dari duduknya.


TO BE CONTINUE