
"Astaga, kita masih bisa bahas itu nanti, selesaikan dulu dia, masih sempet aja bahas gituan," ucap Ifraz dengan wajah memerah yang langsung menutup panggilan telfonnya.
"Wah kayaknya udah nggak bertepuk sebelah tangan nih," ucap Iriana.
"Ye siapa juga yang suka padanya, sejak awal juga tidak ada yang bertepuk sebelah tangan," elak Ifraz.
"Kan emang selama ini kak Nadin yang bertepuk sebelah tangan," ucap Iriana.
"Ellia kemari," panggil Ikram dengan tangan kanan terangkat di udara.
"Ada apa?"
"Kemari lah, jangan jauh-jauh," ucap Ikram kemudian.
"Dokter Ifraz sudah punya pacar?" tanya Ellia.
Ellia duduk di tepi ranjang tepat menghadap Ikram, gadis ini menatap Iriana yang masih terlihat lemah namun tetap berusaha ceria.
"Bukan kakak ipar, kita hanya berteman," jawab Ifraz.
"Benarkah? abang akan menjodohkan dia dengan Nando jika kau benar-benar tidak menginginkannya," ucap Ikram.
"Terserah abang, aku tidak peduli," ucapnya masa bodoh.
"Dokter Ifraz beneran punya pacar ? aku baru tau, kenapa tidak pernah datang?" tanya Ellia.
"Karena Iraz menyembunyikan dia kakak ipar, dia hanya mengurung kak Nadin di laboratorium miliknya, jahat banget kan," tambah Iriana.
"Sudah sudah, sekarang istirahatlah dengan baik dulu," ucap Ifraz.
"Lalu dia bagaimana ?" tanya Iriana.
"Logan?"
Iriana mengangguk, "Itu sudah jadi urusan abang sekarang, abang kan sudah bilang, tugas kalian hanya bersenang-senang dengan dunia yang sudah abang siapkan untuk kalian, jangan berfikir, jangan melakukan hal-hal berbahaya dan jangan membuat abang khawatir, bahagia saja sudah cukup," tambah Ikram.
"Itu juga berlaku untukmu," ucapnya pada Ellia.
"Lalu mas Ikram akan berada dalam bahaya seorang diri?"
"No, aku punya kalian yang menjadikan aku kuat dan tidak terkalahkan, bagaimana mungkin aku dalam bahaya seorang diri,"
"Sudah ya, sekarang waktunya istirahat, istirahatlah dulu," ucap Ikram.
Iriana mengangguk, meskipun lapar, Iriana memang masih sangat mengantuk, "Iraz aku besok sudah di ajak naik kapal pesiar belum ?" tanyanya.
Ifraz menoleh pada Ellia, "aku tidak memberitahunya," ucap Ellia yang merasa menjadi tersangka.
"Kau tidak tau ? semua tempat di ruangan ini sudah terpasang kamera pengintai baru yang dia buat, itu langsung terdengar di telinganya, bayi-bayi kecil peliharaannya itu bahkan tidak terlihat oleh mata," ucap Ikram.
Ifraz menatap tajam orang yang selalu menjadi adu tandingnya dalam segala hal yang dia lakukan.
Karena takut Ifraz akan marah padanya karena ini, Iriana mengalihkan topik pembicaraan, "Ah tapi nyaman juga bisa sakit seperti ini, kalian bisa berkunjung dan datang ke kamarku begini, ini sangat menyenangkan," ucap Iriana riang.
"Aku akan berkunjung ke tempatmu setiap hari An, tapi cepatlah sembuh,"
"Wah, bisa-bisa abang yang kesal karena kakak ipar selalu datang ke sini,"
"Ehem," ucap Ikram yang mulai tidak senang dengan topik pembahasan kali ini.
"Aku sudah lama tidak mengajar ya, kau juga, bagaimana bisa tidak pernah masuk kelas, kemari aku akan mengajarimu," ucap Ikram yang menarik lengan Ellia agar mengikutinya.
"Kemana ?" tanya Ellia bingung.
"Ah tunggu-tunggu, aku lupa," ucapnya yang kembali mendekati ranjang Iriana, memberikan sebuah kecupan singkat di kening adiknya.
"Istirahat ya, besok abang yang akan membawamu pergi naik kapal pesiar,"
"Gratis ?"
"Tentu saja, sejak kapan kalian pernah membayar selama ada aku," jawabnya.
"Yeay," ucapnya senang.
Cukup lama keheningan tertinggal di sana, Ifraz duduk di ranjang yang tidak cukup besar itu, "dokter William sudah memberi tahu kondisimu belum ?" tanya Ifraz.
"Aku sudah tau tanpa di beritahu, aku juga dokter untuk robot-robot ku" ucapnya.
Ifraz diam, laki-laki yang selalu beradu mulut dan bertengkar dengan Irian ini bahkan tidak bergeming sama sekali, hanya memainkan kuku jari tangannya yang baik-baik saja.
"Iraz,"
"Apa ?" responnya yang masih tidak menatap wajah Iriana.
"Aku sedikit kecewa karena dokter William yang menyambut ku pertama kali, aku tidak takut terluka karena aku tau kau pasti adalah orang pertama yang akan menyelamatkanku, meskipun semua orang tau kau hanya dokter biasa, tapi Iraz adalah yang terbaik di bidang ini,"
"Lalu ?"
"Tidak ada, hanya sedikit kecewa saja, sampai anak-anakku datang dan aku melihat rekaman selama operasi ku di kamar ini, kau yang melakukan operasi padaku kan ?" tanya Iriana senang.
"Tapi tetap saja, ada bagian yang aku juga tidak bisa berhasil,"
Iriana terdiam, "aku tidak khawatir karena kau pasti akan melakukan banyak sekali riset yang akan membuatku bisa punya anak-anak yang lucu nanti," ucap Iriana.
Ifraz mengangkat kepalanya, "begitu percaya padaku ? tidak takut kecewa ?" tanya Ifraz.
"Tidak, aku mengenalmu sejak aku masih bayi, karena itu Iraz, sudah lupakan kejadian ini, aku saja tidak keberatan, kenapa kau memasang wajah mu yang seperti ini, itu sangat menjengkelkan, aku tidak menyukainya," tambah Iriana.
"Apakah aku berlebihan," ucapnya.
"Sedikit aneh, hehe,"
"Tapi Na, sejak kapan lu ngembangin peluru dengan ukuran sekecil ini, dia langsung melekat di pembuluh darah dan sangat sulit di cari, kalau orang yang sangat teliti seperti Nadin tidak bisa menemukannya, berarti ini memang sangat sulit di cari," tanyanya pada Iriana.
"Nah gitu dong bro, you are my brother now," ucap Iriana.
"Aish, nyesel gua nanya," ucapnya.
***
"Mas Ikram mau kemana?"
"Belajar, aku sampai lupa kau masih harus belajar sayang, astaga," ucap Ikram panik.
"Aku sedang tidak ingin belajar, aku sudah mengambil cuti,"
"Cuti? di semester yang ada kelasku? di mata kuliah yang ku ajar ?" tanya Ikram.
Ellia mengangguk, "aku tidak tau, paman Ginanjar yang mengurusnya,"
"Cih, bagaimana aku bisa memiliki anak kalau kau tidak segera menyelesaikan sekolahmu," ucap Ikram sedikit kecewa.
"Sudahlah, aku akan mengganti memundurkan diri saja kalau begitu," ucap Ikram.
"Hey, jangan dong mas, ngajar aja ya," ucap Ellia lagi.
"Malas," ucap Ikram merajuk.
"Paman hanya mengizinkan aku cuti tiga minggu, aku akan masuk kembali nanti," ucap Ellia dengan tawa yang sangat cantik di wajahnya.
"Mengerjai aku?" tanya Ikram.
"Tidak, siapa yang berani," ucap Ellia yang segera berlari dari kungkungan tubuh Ikram.
"Wah, aku terlalu baik padamu kan?" ucap Ikram.
"He he, mas sorry sorry jangan mudah marah, sudah tua nanti makin tua,"
"Wah Ellia, aku benar-benar harus mengajarimu dengan baik," ucap Ikram yang sudah mendapatkan tubuh Ellia dengan tangannya.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.