
Acara sudah selesai siang ini, sangat cepat pikir Ikram, "ini memang susunan acaranya seperti ini atau Ifraz yang sudah tidak sabar," ucapnya pada Ellia.
"Mas, nanti Iriana dengar," ucap Ellia setengah berbisik.
Ikram hanya tertawa, laki-laki ini sebenarnya sudah kesal sejak tadi, tidak tau kenapa hari ini dia ingin marah tanpa alasan yang jelas.
Ada hal yang mengganggu nya sedikit saja dia langsung naik darah dan mudah kesal, "mungkinkah aku butuh hiburan dan refreshing ? aku terlalu sibuk dengan urusan perusahaan akhir-akhir ini," batin Ikram.
"Abang, ingin pulang," ucap Iriana yang sudah merengek padanya seperti bayi, bahkan tangannya tidak lepas dari tangan Ikram, sampai semua orang melihat padanya, menunggu respon apa yang akan di berikan oleh tuan muda Ikram yang hebat dan berkuasa pada adiknya, Iriana.
Ikram menarik nafasnya pelan, membelai lembut rambut Iriana yang dengan tangan kanannya, "tadi sudah makan belum," tanya Ikram.
"Tidak ingin, aku ingin pizza, di sini tidak ada," ucapnya lagi.
"Hari ini bukan jadwalnya kan?" tanya Ikram.
"Tapi kan ini hari istimewa, aku juga ingin makanan yang istimewa," ucapnya lagi.
"Lalu meninggalkan Ifraz di sini?" tanya Ikram lagi.
"Biarkan saja, toh dia juga sudah menikah," jelas Iriana.
Ikram menatap lembut Ellia meminta pendapat, istrinya itu hanya memberikan sebuah senyum dan anggukan kepala.
"Oke, Go kita pulang sekarang dan mencari pizza yang kau mau," ucap Ikram.
"Yeay, asik," ucap Iriana kegirangan.
Semua orang yang menyaksikan pemandangan ini juga ikut tersenyum senang melihatnya.
"Ayo kak, kita pergi cari pizza," ucap Iriana yang bergantian menggandeng tangan Ellia agar tidak hilang di tengah cukup banyak orang dari keluarga Nadin.
Mata Ikram mencari seseorang, ibu Nadin untuk berpamitan, "bibi, kami pamit pulang dulu," ucap Ikram.
"Loh, kenapa terburu-buru, tidak menginap di sini malam ini?" tanya Ratih.
"Lihatlah, dia sudah merengek seperti bayi, aku lupa membawa semua mainannya tadi, Bibi tau dia mudah bosan sejak kecil," jelasnya pada Ratih.
"Baiklah kalau begitu bawa ini, bawakan ini ke mobil Ikram ya,"
"Tidak usah bibi, ini banyak sekali," ucap Ellia yang juga tengah menghampiri Ratih dengan Iriana yang masih menggandeng tangannya.
"Sudah, untuk bekal di jalan nanti,"
"Paman Ginanjar yang akan berada di sini nanti bi, tolong jaga Ifraz untukku, dia agak sedikit istimewa," ucapnya meminta tolong.
"Bibi tau, kau hebat bisa merawat mereka berdua dengan baik, bibi salut padamu," ucap Ratih menepuk pelan pundak Ikram.
"Iriana bahkan sangat menempel pada Ellia, dia sangat baik ya,"
"Iriana juga sangat baik padaku bibi," ucap Ellia.
"Abang, ayo pulang," ucap Iriana lagi.
"Iya iya ayo," ucap Ikram.
"Lihat bibi, sejak tadi dia hanya merengek seperti bayi, kita pamit pulang dulu, sampaikan saja salam kami pada mereka berdua, sepertinya mereka sangat sibuk," ucap Ikram melihat kedua adiknya yang sedang berbincang dengan beberapa orang keluarga yang lain.
"Iya, Hati-hati di jalan ya, telfon bibi kalau sudah sampai rumah," ucap Ratih.
Ikram hendak berjalan keluar dengan Iriana dan Ellia di belakangnya, ia memberikan sebuah map pada seseorang yang bekerja untuknya, "bantu aku berikan ini pada Ifraz ya," ucap Ikram.
"Ini, berikan juga padanya, aku bahkan tidak bisa berbicara dengan Ifraz sama sekali," ucap Iriana yang juga memberikan sesuatu untuk Ifraz.
Pekerja itu langsung mendekati Ifraz, begitu Ikram berjalan menjauh darinya, "tuan muda kedua," ucapnya.
"Saya permisi sebentar," ucapnya pamit pada semua orang dengan Nadin di sampingnya.
"Ada apa?"
"Ini dari tuan muda pertama dan ini dari nona ketiga," ucapnya menjelaskan.
Ifraz menerima map itu, "kau tidak salah? ini apa?" tanyanya dengan sebuah kunci di tangannya.
"Sebuah pulau pribadi dan ini kunci laboratorium yang di buat secara khusus oleh nona ketiga untuk anda berdua sebagai hadiah pernikahan," ucapnya memberi penjelasan.
"Dimana mereka?" tanya Ifraz.
"Mungkin sudah berada di dalam mobil sekarang tuan," ucapnya lagi.
Ifraz langsung bergegas keluar, "aish, abang bahkan langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan padaku, jahat sekali," gumam Ifraz yang sudah berlari, khawatir Ikram dan lainnya sudah pergi dari tempat ini.
Semua orang memandang Ifraz yang bergegas keluar, bahkan dengan terburu-buru, "abang, abang," teriaknya begitu tau bahwa mobil itu sudah bergerak,"
"Ada apa? kenapa sampai berlari terburu-buru seperti ini," ucap Nadin yang juga mengejar suaminya.
Terlihat sekali ia cukup kecewa saat mobil itu sudah bergerak, namun perlahan mundur, "ada apa?" tanya Ikram membuka kaca mobil.
"Abang kenapa langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan padaku," ucapnya yang sangat tidak elegan, dia seperti anak ayam yang di tinggal oleh induknya.
"Heh, kau sudah menikah, lihat semua orang yang tengah melihatmu itu, jaga tingkah dan berbicara dengan baik," ucap Ikram.
"Abang kenapa meninggalkan ku dengan selembar kertas, memangnya cukup jika hanya di sogok dengan sebuah pulau," ucapnya lagi, kali ini Nadin yang cukup malu, ia bahkan melihat sekeliling, semua orang menatapnya saat ini.
"Iraz, semua orang melihat kita,"
"Masuk," ucap Ikram.
Ifraz langsung masuk begitu saja dengan mengandeng tangan Nadin, "ayo," ucapnya.
"Iraz kau seperti bayi," ucap Iriana yang juga sangat kesal dengan kelakuan abangnya yang satu ini.
"Kau juga merengek seperti bayi sampai abang harus meninggalkan ku," ketus Ifraz.
"Katakan ada apa?"
"Abang, tidak bisakah abang tidur di sini malam ini?" ucapnya dalam hati, Ifraz hanya menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, tidak mungkin dia berkata di depan Nadin perihal ini.
Iriana dan Ellia yang cukup peka dengan kode yang baru saja di berikan Ikram segera mengajak Nadin keluar untuk mencari udara segar.
"Nadin, aku tiba-tiba ingin es krim yang di dalam, bolehkan minta bantuan mu untuk membantu ku mengambilnya, aku takut jika mengambil sendiri," ucapnya.
"Ah, oke ayo kakak ipar,"
"Kakak aku ikut, aku juga mau esnya," setelah ketiga orang itu keluar, Nando bahkan juga meninggalkan mobil dan keluar.
Saat ini hanya tinggal mereka berdua saja, "katakan ada apa? kau sampai berteriak padaku di depan umum dan bertingkah seperti itu," ucap Ikram.
"Abang, aku tidak biasa di lingkungan baru tanpa kalian, abang tau aku agak aneh, apa mereka bisa menerimaku?" ucap Ifraz.
"Bukan aneh, kau istimewa, semua orang punya dua sisi, kau pun sama, dokter Ifraz yang hebat, bahkan yang tidak ada orang tau, orang matipun akan hidup lagi jika berada di tanganmu, kau tidak mungkin selalu hebat, ada sisi istimewa darimu yang tidak sama dengan orang lain, cara bersikap, sudut pandang, dan itu bukan aneh,"
"Aku tidak bisa berada di lingkungan baru tanpa kalian, aku sulit beradaptasi," ucapnya sedih.