
Ellia memutar bola matanya, "jika aku tidak menghampirinya, maka ia tidak akan pernah berhenti bertanya," gumam gadis ini pelan.
Ia tidak menyangka profesor yang sangat berwibawa di kelasnya menjadi seperti ini ketika bersamanya, Ellia menoleh dan betapa kagetnya ia melihat kepala Ikram yang mengintipnya di balik dinding, "astaga," ucapnya terkaget dengan badan muncul di belakang.
"Sudah selesai belum ?" tanyanya lagi seperti bayi.
Ellia menarik nafas perlahan kemudian mematikan kompor dan mendekati suaminya dengan sabar, "baiklah apa yang kamu inginkan ? kenapa mas Ikram terus bertanya, sekarang katakan ingin apa ?" tanya Ellia.
"Kamu," jawab Ikram singkat.
Sudah sangat jelas pipi Ellia memerah, "kenapa rasanya sangat malu seperti ini, dia pintar sekali membuat keadaan menjadi panas," batin Ellia yang menggigit bibirnya pelan.
Melihat Ellia tidak merespon apapun dan hanya menggigiti bibir bagian bawah sambil menatapnya, membuat Ikram semakin gemas, laki-laki ini dengan tenang menggerakkan tubuhnya dan mendaratkan bibirnya di bibir ranum gadis di depannya ini.
Karena tidak mendapat respon dari Ellia, membuat tangan Ikram menyentuh leher gadis itu, rupanya leher merupakan area sensitif bagi Ellia, Ellia langsung menggeliat begitu Ikram menyentuh lehernya, gadis ini melepaskan tubuhnya dari Ikram.
"Mas," ucapnya menjauh.
"Aku yakin kau sudah memiliki pemahaman dalam hal ini, tolong hilang kendali kali ini saja Ellia," ucap Ikram memohon, rupanya laki-laki ini sudah tidak bisa bersabar lagi dengan Ellia, bagaimana pun ia laki-laki normal.
"Kita tunggu makanan saja bagaimana mas, aku butuh waktu untuk menyiapkan diri," ucap Ellia tidak ingin menjawab, ia tidak ingin menolak tapi juga tidak ingin segera mengiyakan, iya benar-benar malu saat ini, ini adalah kali pertamanya, meskipun sering menonton drama tapi melakukannya sendiri juga sesuatu yang memalukan untuknya.
Ikram terlihat tidak puas, tapi ia juga tidak ingin memaksa Ellia meskipun ia sangat menginginkannya, dengan wajah terlihat kecewa itu Ikram kembali masuk ke dalam kamar meninggalkan Ellia yang masih berdiri diam di tempatnya.
Karena juga tidak berani melihat apa yang dilakukan oleh Ikram suaminya, Ellia memutuskan membersihkan dapur dan kegiatan masak memasaknya, sesekali gadis ini menyentuh bibirnya yang basah, meskipun singkat namun Ikram bisa di katakan cukup ahli, Ellia bisa merasakan bibir itu bermain di bibirnya sampai sekarang, bagaimana tidak, meskipun dirinya dan Yuda jarang melakukan kontak fisik, namun Yuda pernah menciumnya, itupun hanya sebuah kecupan singkat, berbeda dengan apa yang baru saja di lakukan Ikram padanya.
"Tenang Ellia, kalian sudah menikah, ini sudah kewajiban, ini sudah kewajiban," ucapnya pada diri sendiri.
"Ah,"ucapnya lagi yang langsung berjongkok begitu saja di lantai, Ellia tidak tau lagi apa yang dia lakukan sekarang, rasanya ia sangat malu bertemu Ikram sekarang.
Berbeda dengan Ellia, Ikram yang moodnya juga sedang kacau ini juga tengah jengkel menatap layar ponsel yang ada di depannya, ia berusaha mengalihkan pikirannya di tempat lain, namun adik kecilnya yang menegang tidak bisa membuatnya fokus, "kenapa dia selalu bangun di saat yang tidak tepat, bikin pusing saja," gerutunya.
Karena tidak tau harus apa, bekerja juga ia tidak bisa berfikir sebelum hasrat nya terpenuhi, akhirnya ini memilih untuk melihat televisi, laki-laki ini berjalan keluar menuju ruang tengah dengan sebuah televisi besar di sana, kenapa tidak di kamar ? sudah pasti di sana Ikram sudah membayangkan yang tidak-tidak dengan Ellia, karena itu ia memilih untuk pergi saja dari saja agar pikirannya lega.
"Kenapa dia keluar ? apakah marah karena aku tidak mau melayaninya," tanya Ellia dalam hati.
"Mas Ikram jangan keluar, sebentar lagi makanannya sudah matang," teriak Ellia.
"Aku tidak keluar, aku hanya menonton televisi," jawabnya.
Cukup lama Ellia menyelesaikan kegiatan memasaknya, beberapa makanan juga sudah tersedia di meja makan, namun Ikram tidak juga datang menemuinya, "apa dia benar-benar marah, ah bagaimana ini," ucapnya kacau.
"Aku sangat malu bahkan untuk menemuinya, apalagi setelah ciuman tadi," ucapnya lagi pada diri sendiri.
"Tidak Ellia, tidak Ellia, ayo ayo semangat, coba tawarin makan dulu deh, siapa tau mas Ikram udah nggak mau ambil sikap karena di tolak tadi," pikir nya cukup panjang.
Setelah melalui banyak perdebatan panjang dengan dirinya sendiri, akhirnya Ellia memutuskan untuk menemui Ikram yang menonton pertandingan bulu tangkis di ruang tengah, gadis ini datang dengan membawa makanan di tangannya, dengan sedikit takut dan malu Ellia mendekati Ikram, "mas ayo makan dulu," ajaknya.
"Kemari aku sudah lapar," ucap Ikram menahan diri, dan lagi gajah kecilnya juga sudah tertidur sekarang, ha ha ha.
Ellia memindahkan dua piring yang ia pegang sebelumnya di atas sebuah meja yang cukup besar, Ikram hanya melihat sebuah piring berisi nasi dan sebuah piring lagi berisi lauknya, laki-laki ini kemudian menatap Ellia yang juga tengah menatapnya, "kau sudah makan ?" tanya Ikram.
Gadis di depannya ini menggeleng, "lalu ini ? kenapa hanya ada satu piring nasi ? kau tidak lapar ?" tanyanya.
"Kita makan berdua saja," jawab Ellia.
"Hah ?" ucap Ikram bertanya lagi, ia khawatir jika salah mendengar.
"Kita makan berdua saja di sini, aku memberinya cukup banyak nasi," tambahnya yang tidak ingin menatap Ikram karena malu.
Ikram mengangguk, "kalo mas Ikram nggak mau aku akan mengambil piring yang lain," ucap Ellia yang hendak berdiri, namun Ikram menahan tangannya.
"Ini saja, tolong suapi aku," ucapnya lagi dengan sebuah senyum yang mana senyum itu juga tengah menular di wajah Ellia.
Dengan telaten Ellia menyuapi Ikram langsung dengan tangannya, sebenarnya ia juga sudah membawa sendok, tapi Ikram tidak mau, laki-laki ini meminta Ellia menyuapinya langsung dari tangan, "tapi tanganku bau bawang mas,"
"Kenapa memangnya ?"
"Nggak papa ?" tanya Ellia lagi yang di jawab anggukan mantap oleh Ikram.
Selesai makan Ellia menunggu Ikram cukup lama di dalam kamar, namun laki-laki ini tak juga masuk bahkan ketika waktu sudah menunjuk pada angka sepuluh malam, karena tidak juga masuk, Ellia akhirnya memutuskan membawa bantal dan memilih menemui Ikram di ruang tengah.
Gadis ini berjalan perlahan dengan kedua kakinya, dengan sebuah kemeja panjang milik Ikram yang sengaja ia kenakan dan celana super pendek yang bahkan tidak terlihat karena kemeja yang kebesaran, Ellia membawa bantalnya, memeluknya di bagian depan dan menatap Ikram yang masih asik menonton televisi dengan selimut yang sudah menutupi sebagian tubuhnya.
"Ada apa ? tidak bisa tidur ?" tanya Ikram.
Ellia hanya mengangguk, "kenapa memakai bajuku ?" tanya Ikram lagi.
"Hanya ingin saja," jawab Ellia.
Ikram membuka selimutnya kemudian menepuk sisi tepi sofa sebelahnya yang masih kosong, "kemari," ucapnya.
Ellia mendekati Ikram dan duduk di sana, ia sudah siap jika harus menyerahkan jiwa dan raganya untuk Ikram, laki-laki yang menolongnya, bahkan jika hanya satu minggu waktunya.
Ikram menarik Ellia agar tertidur di sampingnya, Ellia hanya menurut dengan sebuah bantal masih berada di pelukannya, ketika ia mulai menaikkan kaki yang sebelumnya mengantuk, Ikram langsung menyelimuti kaki itu dengan selimut agar tidak dingin.
"Aku masih mendengar detak jantungmu mekipun kau menutupinya," gumam Ikram pelan.
"Aku minta maaf karena" ucap Ellia terpotong karena Ikram kembali menutup mulutnya, laki-laki ini kembali memulai aksinya, gerakan tangannya mulai tidak terkendali, Ellia hanya diam, ia hanya mengikuti alur dan suasana yang telah di bangun oleh Ikram.
Merasa tidak nyaman dengan sofa tempat mereka berdua berada saat ini, Ikram segera menggendong Ellia dan masuk ke dalam kamar kemudian suara pintu di kunci dari kamar terdengar tidak lama setelah keduanya masuk di dalam sana, akhirnya malam panjang ini terjadi.
TO BE CONTINUE