Ellia's Husband

Ellia's Husband
Malu



Ellia kini masih berada di balik selimut yang menutupi tubuhnya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, namun gadis ini masih belum beranjak dari tempatnya.


Tubuhnya benar-benar sakit semua, seluruh persendiannya terasa linu, dan yang paling penting ia juga sangat malu.


Mata yang masih terpejam itu kembali mengingat apa yang sudah terjadi padanya semalam, ia tidak bisa melupakannya sedikitpun.


Flashback On


"Aku masih mendengar detak jantungmu mekipun kau menutupinya," gumam Ikram pelan.


Saat itu Ellia memang sangat takut untuk melepas bantal yang di peluknya, ia benar-benar takut, gadis ini perlahan menatap Ikram yang masih menatap layar televisi agar istrinya tidak semakin panik.


"Aku minta maaf karena," ucap Ellia terpotong karena Ikram kembali menutup mulutnya, "Ellia bisakah tidak perlu minta maaf dan hanya ikuti apa yang aku lakukan," tambah Ikram.


Ellia hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan Ikram, laki-laki ini kembali memulai aksinya, gerakan tangannya mulai tidak terkendali, Ellia hanya diam, ia hanya mengikuti alur dan suasana yang telah di bangun oleh Ikram.


Gerakan tangan dan bibir Ikram seolah tidak pernah puas jika hanya berada di satu titik, terlebih tidak ada gerakan penolakan dari Ellia, membuat laki-laki ini semakin leluasa mengeksplor semua lekuk tubuh Ellia.


Tangan ini mulai turun ke bawah, di tempat yang semua laki-laki lihat dari Ellia, dirinya tidak munafik, tapi tubuh sintal istrinya memang sangat indah di bagian ini.


"Mas Ikram," ucap Ellia ketika Ikram mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang ia pakai.


Kepala laki-laki ini terangkat dari leher Ellia dan menatap istrinya, tanpa mengucapkan apapun Ikram kembali mendaratkan bibirnya di bibir Ellia, semakin dalam hingga membuat Ellia tidak bisa memikirkan apapun lagi.


Merasa tidak nyaman dengan sofa tempat mereka berdua berada saat ini, Ikram segera menggendong Ellia dan masuk ke dalam kamar kemudian suara pintu di kunci dari kamar terdengar tidak lama setelah keduanya masuk di dalam sana.


Berpindah ke kamar membuat Ikram semakin tidak terkendali, laki-laki ini seolah sudah kehilangan kesabaran, ia tidak ingin melewatkan setiap inci tubuh Ellia dari bibirnya, beberapa kali Ellia mengerang karena perasaan aneh menjalar di seluruh tubuhnya semakin membuat Ikram tidak bisa berhenti.


Aroma wangi tubuh Ikram yang bersatu dengan keringat keduanya seolah menjadi candu bagi Ellia, ini hal baru baginya, namun setiap sentuhan Ikram pada tubuhnya membuat Ellia tidak kuasa menolak dan memberikan sebuah perasaan baru yang belum pernah ia alami.


Sampai pada titik dimana jari jemari Ikram mulai masuk di titik pusat kenikmatan Ellia, tubuh Ellia menegang tak lama, "mas, mas ini tidak nyaman," ucapnya menatap Ikram yang tengah mengamati bagian bawah tubuhnya.


Dengan keringat dan rambut basah itu, Ikram semakin terlihat mempesona di tambah dengan gairah di matanya, "ini tidak nyaman awalnya, kau bisa percaya padaku bukan," ucapnya dengan jari yang tidak berhenti bergerak di dalam sana yang mana cukup membuat tubuh Ellia menggeliat dan bergetar hebat.


"Mas, ah," sebuah cairan keluar dari sana diikuti oleh ******* yang lolos dari bibir Ellia.


"Bolehkah sekarang ?" tanya Ikram yang kini sudah berhadapan langsung dengan wajah Ellia, laki-laki ini sudah berada tepat di atas Ellia.


Gadis ini mengangguk ia sudah kepalang tanggung, terlebih melihat wajah Ikram yang seolah memohon padanya.


Tangan Ikram memandu tangan Ellia agar memegang miliknya dan memandu nya masuk ke dalam, sedikit ragu namun Ikram kembali memintanya dengan tetap mengarahkan tangannya pada milik Ikram.


"Mas ini."


Tidak ingin banyak bicara lagi, dengan tangan Ellia yang masih di sana Ikram memasukkan miliknya dengan tanpa aba-aba, Ellia mengerang cukup lama, sakit dan perih karena Ikram memaksakan masuk miliknya, "mas ah, ini sakit," ucap Ellia yang tengah menggigit bibirnya.


Ikram masih bergerak, tidak menghiraukan Ellia yang masih berusaha menghentikannya, laki-laki ini memejamkan mata dan menikmati kehangatan di dalam sana, hingga sebuah ******* lolos dari bibir Ellia membuatnya membuka mata.


Sebuah senyum puas terlihat di bibir laki-laki ini, seperti itulah sampai dini hari Ikram masih tidak bisa menghentikan aktivitasnya.


Flashback Off


Ellia membuka matanya, ia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian yang terjadi antara dirinya dengan Ikram semalam, "ah aku tidak bisa melupakannya,"ucapnya bingung bagaimana harus berhadapan dengan Ikram,


"Ellia," panggil Ikram dari luar.


"Duh, mana sakit banget buat gerak,"


Mendengar teriakan Ikram memanggil namanya membuat Ellia reflek pura-pura tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut agar Ikram tidak melihat wajahnya.


"Ellia,"panggil Ikram lagi yang sudah masuk ke dalam kamar dengan sebuah gelas susu di tangannya.


"Ellia," ucapnya lembut dengan menggerakkan tubuh Ellia agar istrinya ini terbangun.


"Aish, aku harus apa lagi," ucapnya dalam hati.


"Aku tau kau sudah bangun Ellia, mau buka mata atau tidak ?" tanya Ikram yang mana mau tidak mau membuat mata Ellia terbuka dengan bibir cemberut.


Ellia menarik selimut agar menutup tubuhnya dan tidak melihat Ikram, tubuh itu hendak bergerak dan membelakangi Ikram, "aduh," ucapnya ketika miliknya masih terasa perih ketika dia bergerak kasar.


"Kenapa ? masih sakit ?" tanya Ikram panik.


"Mas Ikram jangan melihatku," ucap Ellia di balik selimut.


IKram meletakkan susu itu di atas sebuah meja, kemudian memasukkan tubuhnya di dalam selimut di mana istrinya sembunyi darinya saat ini, "mas Ikram," teriak Ellia begitu tau Ikram ada di sampingnya ini.


"Bangun dan minum susu atau aku akan memakan mu lagi," tambah Ikram yang semakin membuat bibir Ellia maju ke depan karena kesal.


Namun cup, "morning kiss," ucapnya yang kemudian bangun dan membuka selimut yang sebelumnya menutupi tubuh Ellia.


"Kemari, aku akan membantumu duduk," ucapnya.


"Jangan melihat ke arah sana," ucap Ellia.


"Astaga Ellia, aku bahkan sudah melihatnya dengan jelas semalam, kenapa kau melarang ku sekarang," ucapnya.


Ellia menutup bagian dadanya dan menatap Ikram waspada, ia ingat apa saja yang di lakukan Ikram pada dua bukit kembar miliknya ini semalam, "jangan melihatnya,"


"Ya Tuhan, aku melihatmu, itu melekat pada tubuhmu, sudah pasti aku juga bisa melihatnya, kenapa melarang ku sekarang," tambah Ikram.


"Sudah minum susu dulu, setalah ini sarapan," ucap Ikram yang sudah menyodorkan gelas susu dengan tangan kanannya.


"Cerewet," ucap Ellia.


Ellia mengambil gelas yang berada di tangan Ikram, namun mata itu terkejut dengan tangan Ikram yang memerah dengan luka cukup besar, "tunggu, ini, ini kenapa mas ?" tanya Ellia panik.


"Tidak sakit, hanya terkena tumpahan air ketika membuat ini tadi," ucapnya.


Mendengar itu membuat Ellia sengaja memencet bagian jari Ikram yang memerah, "ah sakit Ellia,"


"Sakit kan ? kenapa tidak hati-hati sampai terkena air panas begini," ucapnya.


"Makanya minum ini, aku sudah membuatnya dengan susah payah," jawab Ikram.


TO BE CONTINUE