
"Kenapa ?'
"Kenapa apanya ? apa mas Ikram tidak tau jika sangat berbahaya memperlihatkan tubuh ini pada orang lain, ini milikku," bisik nya penuh penekanan ketika kedua temannya tidak lepas melihat tubuh Ikram sejak tadi.
Ellia mengajak Ikram agar segera kembali ke kamar dengannya, "tapi aku memakai baju, aku tidak memperlihatkan tubuhku," ucapnya yang masih di tarik paksa oleh Ellia dengan sebuah kursi roda.
"Itu sangat terbuka, ayo ayo ikut aku ke kamar mas,"
"Gua ke kamar bentar, kalian makan dulu sama Iriana oke," teriak Ellia yang sudah menghilang di balik pintu bersama Ellia.
"Kau cemburu," tanya Ikram pada Ellia senang.
"Tentu saja, siapa yang bisa menahan diri jika sudah melihat tubuh itu," ucapnya.
Ikram semakin memperlihatkan senyum di bibirnya, "memangnya kenapa dengan tubuhku ?" tanyanya tanpa dosa sengaja ingin memancing Ellia.
"Buruk, itu sangat buruk mas Ikram, jadi sekarang ayo pakai baju," ucapnya lagi yang sudah mengambil sebuah kemeja untuk Ikram bekerja hari ini.
"Rapat ku sudah selesai, aku tidak bekerja aku tidak ingin memakai kemeja," ucapnya.
"Lalu ? ingin memakai baju apa ? tanya Ellia yang bersiap mengambilkan.
"Uhm tolong ambilkan jaket kulit dan kaos saja, aku ingin berkendara di sekitar hutan sebentar, aku merindukan beberapa temanku di sana, kau bisa bermain dengan temanmu itu dan biarkan mereka menginap, ada banyak kamar di mansion ini,"
"Mas, jangan main jauh-jauh dan masuk ke hutan ya, akan sulit menemukan jalan keluar nanti, sepertinya di sana juga berbahaya, aku sering mendengar auman singa dan suara aneh di hutan itu,"
"Tenang saja oke, sekarang bantu aku memakai ini," ucapnya yang mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ellia.
Ellia dengan telaten memakaikan Ikram baju, laki-laki ini sangat-sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini, karena Ikram adalah saudara tua, ia sudah sangat terbiasa menangani sikap manja kedua adiknya, di manja seperti ini juga sangat menyenangkan untuknya.
Cup
Bibir basah itu dengan pelan mendarat di bibir cantik Ellia yang kemerahan, "cepat sembuh, aku sudah tidak kuat jika harus mandi sendiri setiap malam," ucapnya yang membuat pipi Ellia merona merah.
"Mas Ikram," ucapnya malu.
"Ye, aku selalu melakukannya tapi kau masih tetap malu," ucap Ikram lagi yang masih berjarak beberapa meter dari wajah Ellia,
"mas menjauh saja, di kamar ini sangat panas, aku keluar dulu," ucapnya yang sudah menggerakkan kursi roda yang ia pakai di depan pintu.
"Jangan menungguku, aku mungkin akan pulang malam hari ini," ucapnya.
"Iya mas," jawabnya tidak ingin berlama-lama dengan Ikram, pertahanannya bisa roboh dan berakhir di dalam kamar saja.
***
Nando mengetuk pintu kamar Ikram yang masih tertutup, "siapa ?"
"Saya tuan muda,"
"Masuk,"
Nando segera masuk begitu Ikram sudah mempersilahkan dia masuk, "orang itu sudah berada di hutan tuan muda, dia berteriak cukup keras, mungkin akan membuat keributan dengan hewan-hewan anda beberapa saat lagi,"
"Aku ingin bertemu dia lebih dulu," ucapnya.
"Silahkan tuan muda," ucap Nando yang sudah siap mengikuti kemanapun Ikram pergi.
"Pak Ginanjar sedang bersama tuan Ifraz mengurus beberapa hal untuk pertemuan resmi perusahaan tuan muda,"
"Ah, aku pergi sendiri saja, kau tunggu aku di gerbang saja," ucapnya kemudian.
Ikram sudah dengan sebuah senjata di saku jaketnya kini berjalan di ruang makan dengan sangat indah, ini benar-benar rumah rasa catwalk, berjalan saja Ikram terlihat sangat mempesona, "gila laki lu El, jalan aja udah ngalahin artis papan atas tau nggak ?" ucap Rara.
Bukan hanya Rara, Vania sampai tidak berkedip melihat keindahan karya tuhan yang luar bisa di depan matanya, "nggak ada yang bisa mengalahkan prof Ikram, dia benar-benar indah tanpa kemeja," ucapnya.
Ikram memang hanya menggunakan kaos putih polos dengan jaket kulit impor yang juga sama-sama indah, di padu dengan celana dan sepatu yang juga semakin membuat Ikram terlihat menawan.
"Saya tidak bisa menemani kalian karena ada beberapa hal yang harus saya kerjakan, bersikap santai dan anggap saja seperti rumah kalian sendiri," ucapnya dengan sopan.
"Iya prof," ucap mereka bersamaan.
"Abang mau kemana ?"
"Masih bertanya ?" ucap Ikram lagi.
"Jangan kemanapun dan lihat layar komputer mu," ucapnya pada Iriana.
"Siap bos," tambahnya.
Setelah itu Ikram melihat ke arah Ellia yang tengah menatapnya, mengecup kening gadis ini pelan yang membuat takjub beberapa pasang mata di depannya, "aku berangkat dulu, ketika Ifraz pulang dia akan langsung memeriksa kondisimu, jangan nakal dan menurut padanya," ucapnya.
"Iya mas, bawel," tambahnya bersamaan dnegan mencium punggung tangan Ikram.
"Oke nikmati makanannya," teriaknya dengan cukup keras hingga hilang di balik dinding yang menjadi pembatas antara satu ruang dnegan ruangan yang lain.
Sebuah gudang tidak jauh dari hutan milik Ikram kini tengah riuh dengan suara teriakan tanpa henti.
"Lepaskan aku, hey lepaskan aku," teriakan demi teriakan masih tetap terdengar tanpa ada seorang pun yang bisa mendengarnya.
Gudang ini berada di tengah hutan jauh lebih dalam dari mansion milik Ikram berada, yang menyeramkan adalah ada beberapa hewan yang sengaja di rawat dan jaga oleh Ikram di sini, itu sebabnya hutan ini sangat berbahaya bagi orang lain.
Terlebih suara teriakan tiada henti yang mana akan mengundang hewan-hewan itu datang dan akan menjadikan mereka santapan, sepasang harimau dan sepasang singa memang jenis kucing favorit pilihan Ikram untuk menjaga hutan miliknya, ia sering ke sini ketika sedang malas bertemu orang-orang dan berinteraksi dengan manusia.
Terkadang ia bisa menghabiskan banyak sekali waktu dengan hewan-hewan ini, bisa dua sampai tiga hari bahkan tertidur di perut mereka, tentunya ini di luar pengetahuan Ellia karena Ikram sudah tidak pernah menemui mereka sejak menikah dengan Ellia.
"Hey apakah ada orang ?" teriak orang itu masih belum berhenti.
Ini hampir satu jam, tapi sama sekali tidak ada orang yang datang atau mendengarkan teriakannya, laki-laki ini benar-benar sangat takut, dia hanya seorang mata-mata dan tidak pernah bisa bela diri.
Brak
Ikram masuk ke dalam gudang dengan kaki kanan mendorong pintu, kali ini ia tidak datang seorang diri, tiga ekor kucing raksasa miliknya setia mengikutinya di belakang, "Ikram Al Zaidan ?" ucap laki-laki yang sengaja mengikuti istrinya itu.
"Tidak tau apa-apa tentangku tapi mengincar istriku, tindakanmu terlalu berani," ucap Ikram.
"Ayahmu yang memintaku, lepaskan aku," ucapnya begitu melihat hewan-hewan buas yang siap menerkamnya kapanpun.
"Karena itu kepalamu akan ku kirimkan padanya sebagai hadiah karena kembali masuk di hidupku,"
TO BE CONTINUE
Author minta maaf karena tidak bisa update sebanyak dulu, semoga tetap suka dengan cerita ini.