Ellia's Husband

Ellia's Husband
kenapa kalian ada di sini



"Aku akan berusaha bicara dengan mereka nanti, tapi aku tidak bisa lama-lama berada di sini," ucap Ellia khawatir.


"Kenapa, takut tuan muda yang lu layani cemburu? hah ?" ucap Toga yang baru saja datang.


Ellia hanya menatap Toga dengan tatapan kecewa, seseorang yang sudah ia anggap teman, yang biasa kumpul bersama ketika jam istirahat, tidak di sangka akan berbicara hal-hal yang sangat menyakitinya.


"Gua nggak tau masalah lu sama gua apa sebenarnya, tapi gua cukup kecewa ama lu sekarang," ucap Ellia terlihat sangat kecewa.


"Terserah lu mau ngomong apa, gua udah nggak perduli," tambah Ellia.


"Aku bakal bantu kamu buat bisa bawa om Mahez kembali, tapi bilang sama temen kamu, nggak semua hal sesederhana yang dia pikir, dunia ini lebih kejam dari pada yang dia bayangkan, kalian beruntung karena terlahir dari keluarga kaya dan berkecukupan," ucapnya segera pergi.


Ellia berlari masuk ke dalam kamar mandi, namun seseorang mencegahnya, "perlu saya untuk mengingatkan mereka nona muda,"


"Tidak perlu, aku masih bisa menahannya," ucap Ellia.


"Saat ini kelas tuan muda Ikram, anda sekarang seharusnya masuk dan melihat tuan muda meskipun hanya dari video, mungkin bisa mengobati anda," ucap Nando.


"Ah iya, kenapa aku bisa lupa," ucapnya langsung sumringah.


"Aku kembali dulu pak," teriaknya dengan setengah berlari.


"Mudah sekali mengalihkan perhatiannya," gumam Nando pelan.


"Bagaimana?" tanya seseorang di balik earphone yang terpasang di telinga Nando.


Sebagai asisten pribadi Ikram, seharusnya saat ini Nando mendampingi Ifraz untuk mengurus semua hal, namun karena beberapa hari yang lalu ada laporan yang masuk tentang apa yang di alami Ellia di kantin, akhirnya ia memilih bersama dengan Ginanjar dan membiarkan Nando memantau Ellia.


"Nona sudah kembali ke ruangannya tuan muda Ifraz," ucap Nando setelah Ellia menghilang dari pandangannya.


"Berikan aku biodata kedua orang itu sekarang dan minta presiden mengembalikan Maheza pada kami,"


"Tuan, bagaimana jika presiden meminta kembali donasi untuk negara karena ini," ucapnya.


"Itu masalahku, jangan mengkhawatirkannya," jelas Ifraz.


"Sesuai yang anda perintahkan tuan muda,"


"Aku ingin mereka berdua sudah tiba di mansion malam ini, lakukan seperti biasa," jelas Ifraz.


"Laksanakan tuan muda," ucap Nando menekan earphone di telinganya.


"Dulu tuan Ikram melakukan ini jika ada yang berani menyakiti tuan muda Ifraz dan nona Iriana, sekarang hal ini juga di lakukan oleh tuan muda Ifraz untuk orang yang sangat di cintai abangnya, perbuatan baik akan selalu melahirkan perbuatan baik yang lain, begitulah sebaliknya," ucap Nando seorang diri.


Tanpa butuh waktu lama Nando mengirimkan data-data yang diinginkan oleh Ifraz.


Hari ini ia sendiri yang akan menunggu dan menjaga Ellia di kampus, beberapa orang lain sudah di siapkan untuk melakukan tugas selanjutnya.


***


Semua orang sudah berada di ring pelatihan, tempat nya di ruangan terbuka tapi tidak terlalu besar, Ikram datang seorang diri mengamati dengan seksama semua orang di sekelilingnya.


"Semua orang ini hanya mengandalkan tubuh mereka, ini membuatku sakit kepala," batin Ikram memijit pelipis kepalanya.


Orang-orang seperti ini biasanya lebih mudah untuk menjilat, saling menjatuhkan dan bersaing sesama teman dan saudara demi mendapatkan tempat yang lebih tinggi, dan hal ini adalah yang paling tidak disukai Ikram.


"Penyakitnya ada di sini," gumamnya lagi.


"Kamu dan kamu naik ke atas," tunjuk Ikram pada seorang perempuan dengan pakaian paling terbuka.


"Bos, kami tidak bisa bertarung," ucapnya dengan tatapan menggoda.


"Keluarkan mereka dari sini, aku tidak butuh penggoda seperti mereka," ucap Ikram di depan semua orang.


"Tapi tuan, kami ada di sini untuk melayani bos tempat ini, kami di sini bukan untuk bertarung, kalian akan kesepian tanpa kami di sini," ucap wanita itu percaya diri.


"Siapa bosnya di sini?" tanya Ikram.


"Anda bos," ucap semua orang serentak tanpa terkecuali.


Berita tentang siapa Ikram dan apa saja yang telah ia lakukan sudah menyebar di seluruh tempat ini, mereka sungguh tidak ada yang berani dengan pemimpin mereka yang baru, terlebih bisa membunuh pemimpin sebelumnya dengan kondisi kedua tangan dan kaki di ikat juga bukan sebuah hal mudah.


"Kau dengar, aku bosnya, dan aku tidak butuh di layani oleh orang-orang seperti kalian, siapapun yang masih merasa perlu di layani bisa keluar dari tempat ini," ucapnya santai namun tidak ada satupun orang yang berani keluar.


"Tidak perlu munafik bos, tidak ada kucing yang tidak mau jika di beri ikan asin," ucap wanita itu lagi.


"Sayangku seleraku bukan ikan asin," jawab Ikram.


"Aro... "


"Siap bos,"


"Semua orang yang ada di tempat ini, aku ingin tau seberapa hebat skillnya dalam bertarung dan pertahanan diri, sekalipun itu seorang juru masak dan tukang bersih-bersih," ucapnya tanpa bisa di bantah.


"Termasuk kau Andara," tambahnya membuat tenggorokan wanita ini tersekat.


"Tapi bos,"


"Nggak ada tapi, lawan aku satu persatu," ucapnya tanpa memperdulikan tubuhnya yang terluka.


Ikram menarik sebuah kursi yang sempat ia lihat sebelumnya, kemudian duduk dengan kaki menyilang, duduk dengan gaya khasnya.


"Selain Aro, mulai dari kamu,"


Beberapa orang mulai mendekati Ikram, ada yang terlampau percaya diri karena kondisi Ikram yang terluka, namun berakhir dengan tersungkur di atas tanah.


"Jangan hanya gunakan tumpuan di tangan dan bergerak ke sana kemari, gunakan semua indra agar tau pergerakan musuh," ucapnya yang masih belum kehabisan tenaga.


Aro, laki-laki ini memang sudah lama mengamati Ikram, "aku tidak salah memilihnya, dengan luka separah itu masih tetap bisa mengalahkan orang sebanyak ini, orang hebat seperti ini akan sangat sulit di temukan," gumam Aro dalam hati.


Hanya Aro yang bisa di andalkan di tempat ini, yang lainnya hanya preman kelas rendah yang kemampuannya bahkan lebih buruk dari semua pelayan di mansion Ikram.


"Semua pelayan di mansion ku wanita, tapi kekuatan mereka tujuh puluh lima persen lebih hebat di banding kalian, fokus, aku sudah mengeluarkan semua hal yang kalian senangi, sekarang waktunya untuk membalas dendam padaku,"


"Bos, tenaga apa yang bos gunakan, bahkan satupun dari kami tidak bisa mengalahkan mu," ucap salah seorang yang sulit untuk mengatur nafasnya.


"Cukup, besok aku sendiri yang akan melakukan pelatihan dasar, dan juga pernafasan," ucap Ikram pergi.


"Bos Aro, kenapa bisa ada dia di tempat ini? dia sangat buruk,"


"Jika tidak suka, pintunya masih terbuka," ucap Aro, meninggalkan semua orang termasuk Andara.


***


Mansion utama di Malam hari


Ellia baru saja tiba di mansion pukul 19.43, ia sudah bilang pada Iriana bahwa ia akan datang terlambat.


"Ah, rasanya lelah sekali," gumam nya menaiki satu persatu anak tangga menuju pintu utama mansion.


Ellia berjalan dengan malas, tidak ada yang ia teriaki seperti biasanya, namun langkahnya berhenti, "kenapa kalian ada di sini ?" tanya Ellia terkejut.