Ellia's Husband

Ellia's Husband
Adonan



"Apakah kita harus menonton sesuatu dulu sebagai contoh, untuk referensi gaya dan bagaimana cara melakukannya," ucap Ifraz terlampau polos.


Plak


"Iraz kau gila ?" ucap Nadin memukul tubuh Ifraz hingga tersungkur di kasur yang cukup keras itu.


"Aw," rintihan keluar dari bibir Ifraz.


"Ini kasur apa batu, keras sekali," ucap Ifraz yang memegang bahunya yang terbentur di kasur lama milik Nadin.


"Ini memang tidak sebaik milikmu, sakit tidak ?" tanya Nadin yang langsung mendekati Ifraz.


"Tentu saja sakit," ucap Ifraz kesal.


"Begitu saja marah, kau cepat sekali marah untuk hal-hal yang tidak berguna,"


"Kau mudah sekali mendorongku, sudah tau kasurnya tidak nyaman begitu," ucap Ifraz lagi.


Ifraz merebahkan dirinya di atas kasur di posisi yang benar, kasur dengan per yang sudah terasa mencuat di sana sini itu cukup membuat dirinya tidak nyaman, namun ia tidak berkata lagi.


"Tolong buatkan aku susu hangat sayang," ucapnya kemudian pada Nadin.


"Tadi di tawarin nggak mau," ucap Nadin.


Nadin keluar dari kamarnya, Ratih terlihat mengamati anak perempuan satu-satunya itu, "sedang apa ?"


"Membuat susu untuk bayi besar itu," ucap Nadin.


"Apakah dia tidak nyaman ? dia ingin apa lagi?" tanya Ratih.


"Biasa saja kok bu, ada apa memangnya,"


"Ini dari Ikram, dia sangat khawatir jika Ifraz merepotkan kita, jadi meninggalkan kartu ini untuk kebutuhan Ifraz di sini, kasur di kamarmu sudah tidak layak, beli saja yang baru, ibu khawatir dia tidak nyaman, dia tidak akan bilang pada siapapun dan hanya diam sampai Ifraz datang, sejak kecil dia seperti itu," ucap Ratih.


"Sudah, tidak masalah bu, aku yang akan mengurus dia nanti, ibu tenang saja," ucap Nadin yang dengan telaten membuat susu untuk Ifraz.


"Baik, ibu ke sana dulu," ucap Ratih.


Nadin terdiam di tempatnya, "dia sampai meminta abang untuk tetap tinggal di sini, dia masih manusia biasa seberapa pun hebatnya dia," batin Nadin.


Nadin baru masuk ke dalam kamar, terlihat Ifraz terpejam, "Iraz?" panggilnya pelan.


Ifraz masih tidak menyahut panggilan istrinya, Nadin mendekati Ifraz yang terbaring di atas ranjang, laki-laki itu sesekali bergerak, terlihat keringat memenuhi dahinya.


"Iraz, Iraz," panggilnya lagi khawatir.


Ifraz yang terkaget dengan sentuhan tangan Nadin langsung terbangun begitu saja.


"Ada apa?"


"Kau mimpi buruk?" tanya Nadin.


Bukannya menjawab Ifraz menarik istrinya itu ke dalam pelukannya, "ada apa? perlu memeriksa kondisimu?" tanya Nadin yang masih tetap khawatir.


"Tidak, begini saja, begini sebentar saja," ucap Ifraz yang masih tidak bisa melepaskan Nadin dari pelukannya.


"Besok aku harus bertemu dengan Lucas, kenapa aku bisa bermimpi hal ini lagi," ucap Ifraz dalam hati.


"Perlu bertemu Lucas?" tanya Nadin.


"Nanti saja," ucap Ifraz yang mulai melonggarkan pelukannya.


"Ini, minum dulu susunya," ucap Nadin mengambil susu yang sebelumnya ia letakkan di meja.


Dengan beberapa kali tegukan Ifraz meminum susu itu, "ini berbeda dengan yang biasa ku minum,"


"Tidak enak?" tanya Nadin.


"Enak, jika di tambah dengan ini," ucap Ifraz yang langsung mengecup lembut bibir Nadin.


"Hmm, ini lebih enak, kenapa aku tidak Mencobanya dari dulu," ucap Ifraz tidak peduli Nadin yang hanya diam di tempatnya.


Laki-laki ini bahkan kembali meminum susunya dan meletakkan gelas kosong di atas meja tepat berada di samping tempat tidur milik istrinya.


"Nadin kesini," tarik Ifraz yang mana membuat tubuh kecil Nadin langsung menimpa tubuhnya.


"Kita dokter kan?" tanya Ifraz.


"Bukankah dulu kita pernah belajar reproduksi waktu kuliah, kurasa sekarang hanya tinggal praktek nya saja, mau coba sekarang tidak?" tanya Ifraz dengan tangan yang sudah mulai tidak bisa diam.


Tok tok tok


"Nadin, ada temanmu di luar, pergi temui mereka dulu,"


"Ah, ibu memanggilku, aku keluar dulu, kamu di dalam saja dan jangan keluar, aku tidak mau semua heboh karena aku menikah denganmu,"


"Aish, jangan lama-lama, atau aku akan menarik mu masuk ke dalam kamar," teriak Ifraz begitu Nadin langsung kabur dari kamarnya.


"Dia tidak polos, dia tidak seperti dugaan ku," ucap Nadin yang setengah berlari keluar.


***


"Tuan muda, dokter sudah datang," ucap Nando.


"Mas, aku kan bilang aku baik-baik saja," ucap Nadia yang tidak melepaskan tangannya pada tubuh Ikram.


"Hanya memeriksa, apa yang salah denganmu, mencegah lebih baik dari pada mengobati," ucap Ikram.


"Masuk,"


"Sore tuan muda," ucap dokter muda itu memberi salam dengan membungkuk.


"Sore,"


"Ada yang bisa saya bantu," tanyanya sopan.


"Bantu aku memeriksanya,"


"Aku tidak apa-apa, kenapa di periksa," ucap Ellia.


"Silahkan nona," ucap dokter itu.


"Dia susah makan, porsinya hanya sedikit, cepat lelah dan tubuhnya mudah berkeringat meskipun di tempat ber AC," jelas Ikram.


"Siapa nona muda ini, terlihat sekali ia bahkan pantas menjadi adik tuan Ikram, tapi dia sangat khawatir hanya karena susah makan, jika tidak memiliki hubungan khusus tidak mungkin dia bisa sebaik ini dengan seorang perempuan," batin dokter itu.


Dokter itu memeriksa kondisi Ellia, namun tiba-tiba dahinya berkerut, "ada apa? apa ada masalah?" tanya Ikram.


"Tidak ada tuan, hanya saja saya akan merujuk nya ke dokter kandungan, ini di luar kualifikasi saya," ucap dokter itu yang sudah berdiri.


"Dia hamil?" tanya Ikram, rona bahagia terlihat sangat jelas di wajahnya, siapapun bisa melihat itu.


"Kemungkinan besar iya tuan muda," ucap dokter itu profesional.


"Nando,"


"Baik dok, bisa ikut saya di sebelah sini,"


"Permisi nona," ucap dokter itu sebelum pergi.


"Ah iya," ucap Ellia yang masih mengelus-elus perutnya.


"Benarkah?" pikir Ellia.


"Rasanya tidak mungkin," gumamnya lagi.


"Apa yang tidak mungkin sayang, kita melakukannya setiap hari, aku selalu memasukkan oli putihku ke dalam sana, seharusnya memang ada yang berhasil," ucapnya senang sekali.


"Tapi bagaimana mas Ikram bisa tau?"


"Kau kan sudah tidak datang bulan sejak bulan kemaren,"


"Mas Ikram mengingat nya? aku saja bahkan tidak ingat, jadi ini benar-benar hamil?" ucap Ellia.


"Ayo kita segera cari dokter kandungan," ucap Ikram antusias.


"Tidak mau, bau mas Ikram sangat enak, aku sedang ingin begini saja, nanti saja ya periksa nya," ucap Ellia yang masih mencium leher dan pundak Ikram.


Tangan Ellia bahkan sudah mulai membuka kancing baju Ikram satu persatu, "sayang, jangan bermain di tubuhku, aku suka tidak tahan dengan sentuhan tanganmu," ucap Ikram.


"Mas Ikram sangat wangi, ini sangat enak," ucap Ellia lagi, ia benar-benar malas beranjak sekarang, hanya ingin mencium aroma tubuh suaminya.


Berbeda dengan Ikram yang mulai merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya.


***


Mulai hari ini author hanya bisa up 1 episode setiap hari ya readers, maaf banyak-banyak