
Kaki itu dengan berat melangkah masuk menuju pintu, "abang, usia bayinya delapan belas hari, maaf tidak bisa menyelamatkannya," ucap Ifraz penuh rasa bersalah yang mana langsung menghentikan langkah kaki Ikram.
Ikram tidak tau, ia hanya tau Ellia terluka cukup parah, tapi ia bahkan tidak berani membayangkan Ellia akan hamil karena banyaknya hal yang memang membuatnya takut untuk bermimpi hidup bahagia bersama Ellia, lalu berita yang baru saja di dengarnya ini apa?.
Laki-laki ini berdiri tidak bergeming di tempatnya, menatap apa yang di lihatnya di pintu kaca kamar Ellia, "kau yang membawa mereka berdua?" tanyanya.
"Dia butuh orang lain di sisinya sekarang bang,"
"Ellia, apa dia tau jika hamil?"
"Kakak ipar baru tau hari ini, setelahnya ia hanya diam sampai sekarang," jelas Ifraz.
Ikram tidak menjawab perkataan Ifraz, ia hanya menguatkan hatinya dan memilih masuk menemui Ellia.
"Profesor? Profesor Ikram?" panggil Rara dan Vania yang cukup kaget dengan siapa yang datang.
Ellia tidak berani melihat wajah ini, bukan sakit di tubuhnya, tapi fakta dia harus kehilangan calon bayinya dan Ikram cukup membuatnya malu untuk bertemu Ikram lagi.
Tetes demi tetes butiran bening keluar dari mata indah Ellia, Ikram hanya menatap Ellia dari ujung kaki hingga rambut, mengamati dari jauh bagaimana kondisi dan luka-luka istrinya itu.
Cukup lama dalam keheningan, bahkan Vania dan Rara juga tidak ada yang berani bicara namun juga tidak berani keluar, hingga tiba-tiba Ginanjar masuk.
"Tuan muda, presiden akan datang menemui anda dan meminta maaf atas semua hal yang terjadi pada nona, terlebih anda harus kehilangan calon bayi karena kejadian ini," ucapnya yang sama sekali. tidak mendapat respon dari Ikram.
"Calon bayi, apa Profesor Ikram adalah suami Ellia?" batin Rara.
"Jangan-jangan Ellia dan prof Ikram?" batin Vania.
Kedua orang itu sedang beradu dengan pikiran mereka sendiri, namun keduanya juga tidak berani bertanya.
"Tuan muda," ucap orang yang baru saja datang dengan pakaian formal.
Mata Rara dan Vania benar-benar membulat sempurna begitu melihat orang nomor satu di negara ini membungkuk penuh hormat pada Profesor mereka.
"Saya minta maaf karena anda harus mengalami kejadian seperti ini tuan muda," ucap orang tersebut.
Ikram dengan masih menatap Ellia kini menggerakkan tangannya dan mengarahkan di leher laki-laki ini, ''tuan muda, akh," ucapnya ketika mulai kesulitan bernafas.
"Aku yang membuatmu duduk di atas kursi mu sekarang, aku bisa mengambil semua hal yang sudah ku berikan padamu saat ini juga," ucap Ikram yang masih menatap Ellia yang kini berusaha memalingkan wajahnya dari Ikram.
"Tuan muda, saya akan menangkap mereka,"
"Kesalahan mu adalah membiarkan orang-orang seperti mereka tetap bebas dan berkeliaran di negara ini dan membuat aku harus mengalami ini setelah semua donasi yang ku berikan padamu haha?" teriak Ikram yang mulai tidak terkendali.
Ginanjar berusaha menenangkan Ikram yang semakin mengeratkan tangannya di leher, "tuan muda, ini tidak baik, anda harus mengendalikan diri,"
"Dimana dia sekarang ?" tanyanya.
"Di sebuah bar di sudut kota ini tuan muda," jelas Ginanjar.
"Saya yang akan menangkap dan membereskan mereka secara hukum tuan muda,"
"Aku, aku yang akan menyelesaikan semuanya dengan caraku," jelas Ikram.
"Uhuk, uhuk, uhuk,"
Ginanjar membantu laki-laki paruh baya itu, agar bisa berdiri, Ikram berjalan keluar dari tempatnya, ia meninggalkan Ellia tanpa sepatah kata.
"Tuan muda, anda ingin menemuinya dengan wajah itu," ucap Ginanjar.
***
Bar di sudut kota
Maheza masih tertawa bermain judi dan minum bersama beberapa orang temannya, tempat ini sangat gelap, kotor dan kumuh, entah bagaimana ia bisa menemukan tempat seperti ini.
Ikram hanya datang seorang diri dengan mobil keluaran terbaru yang ia miliki, ia menolak ketika Ginanjar memberinya beberapa orang karena khawatir.
"Ini urusanku, aku yang kehilangan calon bayi karena ulahnya, maka yang harus memberinya pelajaran adalah aku, bukan orang lain paman," ucapnya saat itu.
Kini Ikram sudah di sini, di sebuah tempat kumuh yang tidak semua orang akan tau jika tempat ini adalah tempat perjudian terlarang, mata itu sudah melihat ke sekeliling tempat, mencari sosok Maheza, "kau masih bisa tertawa setelah memberi luka itu," ucap Ikram semakin berapi-api.
"Maheza," teriaknya yang seketika menjadi pusat perhatian di sana.
Tanpa banyak kata Ikram langsung melompat di atas meja Maheza dan memukulnya dengan kaki sebelah kanan, semua orang riuh menyelamatkan diri dan harganya masing-masing.
"Siapa kau? berani mencari masalah denganku?" teriak Maheza.
Namun Ikram sudah tidak terkendali, pertama berani menyentuh Iriana, lalu melukai Ellia, dan terkahir membuat Ellia mengalami keguguran.
Ikram dengan tangannya memukuli laki-laki berisi di depannya, wajah Maheza sudah babak belur, luka memasang berdarah ada di mana, namun Ikram tetap tidak menghentikan gerakannya.
"Ingat wajahku, ingat dan tunggu sampai aku mengambil semua yang berharga bagimu, sampai saat itu ingatlah wajah itu, kau akan mengemis padaku meminta kematian," ucapnya meninggalkan ruangan kosong dan pengap dengan tatapan aneh semua orang di sana.
Ikram sudah memutuskan, dia akan menampilkan wajahnya sekarang, waktunya bersembunyi sudah cukup, ini sudah waktunya dunia kenal siapa dia.
***
Di Rumah Sakit
Yuda Maheza segera menemui Ellia begitu tau dari beberapa mata-mata yang ia minta memantau Ellia, ia segera berlari kesini begitu mendengar apa saja yang di laporkan orang suruhannya.
"Ellia, Ellia, Ellia," gumamnya penuh perasaan bersalah.
Beberapa orang menghadang langkahnya agar tidak masuk ke ruangan Ellia, namun Yuda tetap memaksa dan menerobos masuk.
Terlihat Rara dan Vania yang berada di sisi ranjang sebelah kanan, keduanya sedang membersihkan tubuh Ellia dengan air hangat.
"Yuda," panggil semuanya.
"Ellia," ucapnya menatap nanar perempuan yang sangat di cintai nya terbaring dengan banyak luka, Yuda bergerak ingin melihat Ellia lebih dekat dengan perasaan campur aduk.
"Saya sudah bilang untuk menjaganya, tapi rupanya kau lebih sembrono dengan mata-mata yang kau kirim untuk memata-matai Ellia, mereka bahkan tidak melakukan apapun pada Ellia saat kejadian itu terjadi, dimana kau dan semua janji yang dulu kau ucapkan itu," ucap Ikram yang sudah berada di belakang Yuda.
"Prof anda ?"
"Tunggu tunggu, anda tidak mungkin suami Ellia, tidak mungkin, anda adalah seorang dosen,"
"Kita tidak sedang berada di kampus sekarang, sekarang saya suaminya, saya bukan dosen,"
"Tidak mungkin, suami Ellia bukan anda, suara kalian berbeda," tambahnya.
"Suara? kenapa seorang mahasiswa sekarang ini bisa polos sepertimu," tambah Ikram geleng-geleng kepala.
TO BE CONTINUED