Ellia's Husband

Ellia's Husband
Vitamin ala Ikram



Maheza semakin bergetar ketakutan, iya sudah tidak tau harus apa, ini seolah jebakan baginya, "jika kalian bertanya padaku, aku hanya menginginkan kedua tangan dan kakinya," jelas Ikram dengan tegas tanpa ragu.


"Tuan muda," ucap mereka semua tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


Ini baru pertama kalinya mereka bertiga bertemu Ikram dalam kondisi seperti ini, Ikram selalu ramah dan hampir tidak pernah marah, sebuah senyum selalu menghiasi bibir laki-laki ini tanpa jeda, dan hari ini Ikram yang mereka temui seperti sosok lain dan berbeda orang.


"Mas Ikram," panggil Ellia yang kini sudah berganti pakaian dengan sesuatu yang lebih sopan dari sebelumnya.


"Ellia, kemari, duduk di sini," ucap Ikram pada Ellia yang berjalan di bantu oleh Iriana di sampingnya.


"Nyonya," ucap semua orang yang ada di sana dengan kepala menunduk penuh hormat.


Ellia mengangkat tangannya ke atas, "silahkan duduk saja, maaf karena datang terlambat dan tidak bisa menyambut dengan baik karena kondisi saya yang juga tidak memungkinkan," ucapnya sopan.


"Good job Iriana, kau mengajarinya dengan baik," ucap Ikram dalam hati, namun cukup bisa di dengar oleh Iriana.


"Kami mengerti nyonya," jawab mereka serentak.


"Ellia kemari, duduk di sini dan temani aku," ucapnya lagi karena Ellia masih berdiri dan tidak juga menghampiri nya.


"Ah iya perkenalkan, mereka kedua adikku, dia Ifraz, dan dia Iriana," Ucapnya pada mereka bertiga dan menunjuk pada Ifraz dan Iriana.


Semua orang kembali bangkit dari duduknya dan menunduk hormat pada Ifraz dan Iriana yang memilih berdiri di belakang Ikram.


"Nona, anda bisa duduk," ucap presiden kalau itu mempersilahkan agar Iriana bisa duduk di sana.


"Tidak, kami akan tetap di sini," tambahnya bahkan tanpa senyum.


"Silahkan nona, saya akan berpindah di sofa yang lain," ucap yang lain merasa tidak nyaman,"


"Formasi ini memiliki filosofi, kami bertiga adalah pilar yang akan selalu berdiri kokoh di belakang sosok Ikram Al Zaidan, silahkan lanjutkan pembicaraan dan jangan hiraukan kami," ucap Ifraz yang berada di tengah.


Maheza semakin gugup dengan apa yang ia lihat dan ia dengar, laki-laki tua itu berbisik pelan di ponselnya, Ikram masih saja mendiamkan tanpa menyela atau mengucapkan sesuatu, laki-laki ini hanya mendengarkan dan melihat apa yang akan Maheza lakukan sekarang.


Tak hanya Maheza, aura di sekeliling rumah ini terasa tidak nyaman, ketiga orang yang tengah duduk di sisi lain sofa itu juga tengah berkeringat di suhu ruangan yang dingin.


"Mbak ? mana makanannya ?" tanya Ikram ketika makanan tidak kunjung datang.


Wajah tanpa senyuman itu kini menyambut mereka semua dengan baik, terlebih di dukung dengan suasana rumah yang seperti istana, sangat besar dan megah, ini benar-benar menunjukkan siapa Ikram Al Zaidan, sosok di depan mereka kali ini bahkan bisa jadi lebih kuat dari negara mereka sendiri.


"Tuan muda, tidak perlu repot-repot,"


"Ini tidak merepotkan pak, semua sudah di siapkan, akan tidak sopan jika kami tidak memberi jamuan kepada orang-orang penting negara ini," ucap Ellia fasih, sangat jauh berbeda dengan dirinya yang biasa.


Ikram hanya memperhatikan istrinya yang terlihat sangat anggun, "nilainya sangat buruk, tapi aktingnya kali ini tidak membuatku kecewa," ucap Ikram dalam hati merasa senang.


"Bahkan istana presiden tidak sebesar ini," batin semua orang yang ada di sana, mansion ini cukup membuat mereka semua merasa tertekan.


"Ikram, ayahmu ingin bicara," ucap Maheza yang mengulurkan tangannya pada Ikram untuk menyerahkan ponsel, tentunya dengan tangan bergetar hebat.


"Ayah ? ayah yang mana ? aku sudah tidak memilikinya ketika kami bertiga sudah di keluarkan dari kartu keluarga," jelasnya.


"Ikram Al Zaidan, jangan sombong dan lepaskan saja pamanmu, kita keluarga," teriaknya yang cukup memekakkan telinga.


"Wah wah, keluarga macam apa yang membuang ketiga anaknya demi bisa menikahi wanita lain, itu jelas bukan keluarga," jelas Ikram.


"Saya bukan anak kecil yang bisa anda marahi kapanpun, anda hanya mempermalukan saya di depan presiden, menteri kehakiman dan dewan kejaksaan, wah ini cukup membuatku malu," ucapnya masih dengan nada nyaman.


"Ikram lepaskan saja dia, kesalahannya tidak fatal," ucapnya lagi dengan nada lebih rendah.


Ikram terdiam cukup lama, memikirkan dengan baik semua hal dari berbagai sisi tanpa memutus panggilan itu.


"Aku melepaskannya dan menyerahkan kepada negara untuk di hukum dan di adili dengan sebenarnya, tentunya dengan tetap mempertimbangkan hukuman yang ku sebutkan sebelumnya," ucapnya yang mengembalikan ponsel itu pada Maheza tanpa menutupnya.


"Ikram ?" teriak Maheza yang sudah datang hendak mencekik Ikram dengan kedua tangannya.


Namun sayangnya Ifraz yang berada tepat berdiri di belakang Ikram menggerakkan tangannya untuk menghentikan tangan laki-laki tua itu, "tidak taukah aku sudah merawat tubuh berharga Abang ku agar bisa tetap terbebas dari bakteri yang di bawa manusia-manusia hina seperti kalian, kau ingin menyentuhnya sekarang?" ucap Ifraz dengan geram.


"Sudah ku bilang bahwa kami adalah pilarnya, tapi kau masih punya nyali untuk menyentuh abang kami yang berharga saat kami berada tepat di belakangnya," ucap Iriana begitu Ifraz berhasil mematahkan tangan kanan Maheza.


"Aaaaa," teriaknya benar-benar memekakkan telinga.


Laki-laki itu bersimpuh tepat di kaki Ikram, Ellia baru kali ini melihat hal seperti ini di hidupnya, dari sini terlihat jelas sekali bahwa hidup bersama Ikram harus siap mengalami spot jantung, bagaimana tidak, ada banyak sekali sisi dalam diri Ikram yang jauh sekali dengan kehidupan biasa orang lain yang Ellia kenal sebelumnya.


"Terimakasih karena sudah mempercayai kami untuk mengurus ini sepenuhnya tuan muda, kami tidak akan mengecewakan anda," ucap menteri kehakiman.


"Aku tidak akan memberi begitu banyak donasi untuk negara yang tidak aku percayai," ucapnya.


"Segera bawa dia," ucap Ellia yang merasa tidak tega pernah merasakan kaki patah, benar-benar sakit.


Beberapa orang sudah datang membawa Maheza bersama mereka, laki-laki itu meronta, menghujat dan memberi ucapan-ucapan buruk yang tidak layak untuk di dengar, namun mereka semua menutup telinga dan memilih untuk tidak menghiraukan.


"Aku dan istriku akan pergi beristirahat dulu, mereka akan menemani kalian,"


"Baik tuan muda," ucap mereka yang berdiri menunduk ketika Ikram menggendong Ellia di tubuhnya.


"Jangan lupa vitaminnya,"


"Sudah di siapkan tuan muda," ucapnya yang langsung pergi menuju kamar.


"Kami minta maaf tuan dan nona, tapi kami harus segera pergi, ada banyak hal yang harus di tuntaskan dengannya," ucap dewan kejaksaan sopan.


"Ah, sebentar, ini ada sedikit vitamin agar kalian tetap sehat dan bisa bekerja dengan baik untuk negara ini," ucap Ifraz tak kalah sopan.


"Terimakasih tuan, kami akan bekerja dengan baik untuk negara ini," ucapnya yang bergegas keluar dan naik ke dalam helikopter.


***


DI DALAM HELIKOPTER


"Vitamin apa yang diberikan tuan Ikram pada kita? ini bukan musim penyakit, tapi kenapa memberi kita sebuah vitamin," ucapnya yang membuka sebuah kotak cukup kecil yang tadi ia bawa.


Namun tak lama kotak itu terjatuh dari tangannya, "hey ada apa?"


"Ini apa?" ucapnya ketika melihat sebuah benda berukuran cukup besar berwarna kuning berkilauan tergelatak di sebelah kakinya.


TO BE CONTINUE