
"Aku sudah menghitung kecepatan angin dan kecepatan mobil ini, tenang saja," ucap Ikram.
Andara memandang takjub laki-laki di hadapannya, "jangan menatap seperti itu, nanti Ellia cemburu," ucapnya yang bahkan tidak menatap Andara sama sekali.
"Siap bos, eh siap tuan muda," ucapnya.
"Aku minta maaf kalau selama ikut denganku kami sering memaksa dan tidak bertanya pendapat mu, lain kali kalau tidak nyaman bilang saja pada Ellia, dia akan melakukan yang terbaik yang dia bisa agar kalian semua merasa nyaman," ucap Ikram yang masih menatap ke depan, tidak menatap Andara sama sekali.
"Baik bos, saya lebih nyaman memanggil anda seperti ini," ucap Andara semakin terkesima dengan Ikram, bukan terkesima sebagai laki-laki dan perempuan, tapi lebih pada kagum dan menghormati.
"Itu juga berlaku untukmu," ucapnya pada sopir.
Andara tersenyum, "dia tidak pernah kehilangan orang-orang di sekeliling nya, semua orang loyal padanya, karena dia memperlakukan kami juga sangat baik, seperti keluarga, uang bisa di cari, tapi majikan sepertinya sangat langka di dunia sekarang ini," batin Andara.
Cukup lama berada di keheningan, Ikram masih memejamkan mata mengistirahatkan pikirannya sejenak, Andara yang tau diri meminta sopir untuk sedikit memelankan kecepatan kendaraan agar Ikram tidak terganggu dan istirahat dengan baik selama perjalanan.
"Kenapa melakukannya?" tanya Ikram yang masih belum membuka matanya.
Andara menoleh, "hah," ucap Andara bingung.
"Sorry bos, saya khawatir anda terbangun jika mobil melaju terlalu cepat," ucap Andara memberi penjelasan.
"Bukan mobil," jawab Ikram yang Perlahan-lahan membuka matanya.
"Kenapa mau melakukan perintah Hassel yang tidak masuk akal itu ? kau cukup cerdas, latar belakang pendidikan juga bagus, kenapa masih mau bekerja dengan Hassel dan melakukan apapun yang dia inginkan, bermain gila bertiga dengan istri sah itu mengerikan Andara," tanyanya.
"Dia menyelamatkan saya saat hampir terjatuh di ujung tebing, saya berhutang nyawa padanya, dia juga yang membiayai semua pengobatan adik saya," ucapnya tidak ingin menatap Ikram.
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin bernasib sepertinya, tapi bagaimana? tidak ada jalan lain, ini adalah sesuatu yang di luar kendalinya.
"Kau punya pilihan," ucap Ikram.
"Tidak ada, saat itu tidak ada pilihan, saya hanya harus berada di sisinya dan melayani dia dengan baik, sisanya dia yang akan mengurus pengobatan adik saya,"
"Termasuk melakukan semua yang dia inginkan? sampai menjadikanmu taruhan berjudi?" tanya Ikram lagi.
"Iya,"
Ikram menghela nafas, "sudah pasti kau masih sangat muda saat itu, memang terkadang hidup tidak memberi pilihan," ucap Ikram.
"Setelah ini belajar dengan baik bersama Nando, tidak perlu selamanya di sisiku, kau juga harus menikah dan memiliki banyak anak nanti, setelah tabunganmu cukup kembali pada keluargamu dan hidup bahagia seperti orang pada umumnya," ucapnya yang kembali menutup matanya.
Andara kembali melihat sosok di sebelahnya ini, "bagaimana aku bisa pergi saat kalian semua begitu murah hati padaku, melayani kalian seumur hidup bahkan tidak akan cukup untuk membayar semua kebaikan kalian," batinnya mengingat semua hal yang di lakukan Ikram pada keluarganya.
Perasaan di bela, di hargai, dan di perlakukan seperti manusia normal pada umumnya benar-benar sangat jauh di luar ekspektasinya.
Tidak hanya di perlakukan seperti orang normal, bahkan seperti saudara, di wilayah kekuasaan Ikram tidak ada keinginan lebih dari yang lain, bersaing dengan yang lain ataupun ingin mengalahkan yang lain.
Semua memperlakukan dia dengan baik, bahkan Ellia, nyonya rumah itu meminta dokter Ifraz secara langsung melihat kondisi adiknya di rumah sakit.
Bukan hanya itu, sebuah kamar rumah sakit VIP yang cukup mewah juga di berikan padanya secara cuma cuma, ia bahkan masih di beri gaji setiap bulan dengan nominal yang tidak sedikit.
***
Berita terbakarnya kebun anggur perusahaan raksasa itu langsung menyebar di pelosok negeri, media kembali di hebohkan dengan berita dalam. negeri tentang lautan api yang melahap habis lahan anggur milik Dirgantara.
Toga yang saat itu tengah berada di kelas yang sama bersama Ellia segera menarik pergelangan tangan gadis itu dan membawanya keluar kelas setelah melihat berita tentang ayahnya.
"Toga, kembali ke tempat mu," teriak sang dosen saat melihat Toga menarik Ellia secara paksa.
Ellia menarik tangannya yang masih di genggam erat oleh Toga, "sakit, ini sakit banget tau gak, lepasin Toga," teriaknya berpegangan pada bangku agar Toga tidak menariknya.
"Lu apaan sih, masalah lu apa sampek narik Ellia kayak gini, kayak bocah aja, lepasin dia sekarang," ucap Yuda yang juga tidak terima dengan perlakuan Toga pada Ellia.
"Lu bisa diem nggak?" bentak Toga pada Yuda.
Semua orang yang ada di kelas memperhatikan mereka berdua, ini cukup menarik di tengah pelajaran yang membosankan.
"Cukup, kalian bertiga keluar dari kelas saya," ucap dosen yang cukup kesal dengan kelakuan mahasiswa di depannya.
Ketiganya keluar, begitu sampai Toga kembali menyeret Ellia ke tempat yang lebih sepi, "Ga, maksud lu apa sih, lu tuh kenapa sebenarnya," teriak Ellia kesal.
"Lu bisa tenang dikit nggak hah? dia itu cewek, nggak pantes lu kasar sama dia," ucap Yuda melerai mereka berdua.
"Ini apa?" tanya Toga meletakkan ponselnya di udara agar Ellia dan Yuda bisa melihatnya, sebuah berita kebakaran kebun anggur keluarganya.
"Kebun keluarga lu ?" tanya Yuda.
"Kalau kalian tidak menyentuh salah satu dari kami, ini tidak akan mungkin terjadi," ucap Ellia tidak memberikan ekspresi sama sekali.
"Ah, jadi lu tau, lu tau kan kalo suami lu itu mau bakar bisnis bokap gua hah?"
"Kalo gua tau apa lu pikir gua bakal diem aja dan kayak orang bodoh waktu lu narik gua di kelas hah?" jawab Ellia.
"Ellia, tetap tenang, ini tidak seperti kamu," ucap Yuda.
"Kita memang sudah bukan diri kita lagi, sadar atau tidak kita semua memang sudah hilang kendali," ucap Ellia.
"Tanya ayahmu, rencana jahat apa sampai bisa membuat dia turun tangan sendiri dan membuat kehebohan sebesar ini," ucap Ellia lagi.
"Ellia stop," ucap Yuda meminta Ellia berhenti agar tidak semakin memperkeruh suasana.
Ellia menarik nafas panjang berkali-kali berusaha mengendalikan diri, "seujung kuku dari kami sangat berharga untuk Ikram Al Zaidan, menyentuh kami sedikit saja dia akan bergerak seperti air, tidak terkendali," ucap Ellia yang sudah beberapa kali mengamati pergerakan Ikram.
Toga memukul dinding kampus dengan kasar, "Ahhh," teriak nya tidak terkendali.
***
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak semua