Ellia's Husband

Ellia's Husband
Pertemuan



Ellia sudah berada di depan sebuah cafe yang cukup sepi karena suasana masih bisa dibilang pagi, hanya ada beberapa orang yang duduk terpisah jauh satu sama lain.


"Ellia kemari," teriak Yuda begitu melihat Ellia sudah berada di ambang pintu.


Ellia dengan senyum khas miliknya segera berjalan ke arah Yuda berada, "sudah lama menunggu?" tanya Ellia yang kemudian duduk di sebuah kursi yang sudah di siapkan Yuda untuknya.


"Tidak apa-apa jika itu kamu, aku tidak akan pernah keberatan," ucapnya seperti pasangan kekasih pada umumnya.


"Sudah makan? aku akan pesan kan makanan kesukaan mu oke," ucapnya sembari mengangkat tangan meminta pelayan mendekat.


"Aku tidak bisa lama Yuda, suamiku sedang sakit hari ini, aku meninggalkan nya ketika dia tidur," ucapnya lagi sedikit merasa bersalah karena pergi tanpa izin dari Ikram suaminya.


Sebuah guratan kecewa muncul di wajah Yuda, sebuah ekspresi yang mana ia juga memiliki andil di dalam pernikahan Ellia yang saat itu masih menjadi kekasih nya.


"Bisa tidak jangan membicarakan dia jika kita sedang berdua, aku janji tidak akan lama, tapi tolong makanlah dulu," ucap Yuda lagi.


Ellia mengangguk, ada sedikit kebimbangan ketika ia menjalani kehidupan barunya ini setelah berhari-hari.


"Prof Ikram juga bilang tidak ingin membicarakan Yuda ketika kami bersama, dan sekarang Yuda juga melakukan hal yang sama, Tuhan, ini cobaan atau apa, kenapa menempatkan ku di antara dua laki-laki yang tidak bisa aku pilih," batinnya dalam hati menatap lembut wajah tampan di depannya.


"Saya ingin memesan ini, ini, ini, dan ini," tunjuk Yuda pada menu yang menjadi favorit yang di pilih oleh Ellia.


"Jangan memesan terlalu banyak, perutku tidak akan bisa menghabiskan nya," ucap Ellia.


"Tenang saja, ada aku, aku akan menghabiskan nya untukmu," ucapnya.


Ellia hanya mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban Yuda, hingga kemudian ia teringat alasan ia datang hari ini.


"Apa yang ingin kamu bicarakan tadi?" tanya Ellia.


Yuda tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Ellia, "ada apa? kamu terlihat sangat senang," ucapnya dengan tangan menggenggam tangan laki-laki itu.


"Aku sudah mendapatkan uang tiga puluh milyar itu, kamu bisa bercerai dengan suamimu dan kembali padaku Ellia, kita bisa bersama lagi tanpa orang ketiga di antara kita, kita bisa kembali seperti dulu," ucapnya senang bahkan bicara tanpa jeda.


Sebuah perasaan aneh menjalar di hati Ellia seketika, ia tidak tau kenapa, tapi yang pasti kata perceraian cukup membuat hatinya sedikit ngilu.


Tangan itu bergerak menjauh dari tangan Yuda, "ada apa Ellia?"


"Aku juga ingin segera membayar semua hutang ku padanya, tapi bukankah tidak sopan jika bersikap seperti itu? maksudku setelah melunasi nya langsung mengajukan perceraian," ucap Ellia hati-hati.


"Yuda, dia sudah banyak menolong dan membantuku selama ini, jadi tolong sabar sebentar lagi, nanti jika waktunya sudah tepat aku pasti akan meminta pengajuan cerai itu secepatnya." tambahnya memberikan penjelasan.


Meskipun sedikit tidak suka, Yuda hanya bisa mengiyakan apa yang di ucapkan oleh Ellia, karena memang yang di ucapkan Ellia sepenuhnya benar, "baiklah, lakukan yang membuatmu merasa nyaman, tapi jangan menghindari ku oke?" ucapnya lagi.


Ellia mengangguk puas, hingga seorang pelayan datang mengantarkan beberapa makanan dan minuman yang mereka pesan, karena masih belum ramai pengunjung mereka menyajikan makanan dengan cukup cepat.


Hingga tanpa sadar Nando yang sedang berada di balik kursi Ellia merenung cukup lama mendengar pembicaraan mereka berdua, "bahkan uang itu tidak akan bisa membayar semua yang sudah tuan muda berikan kepada anda,"


***


"Maheza mengincar ku?" tanya Ikram yang sudah duduk di sebuah kursi yang jauh dari kata mewah.


"Iya bos,"


sudah sampai tahap mana?" tanya Ikram serius.


Ikram berfikir dengan memainkan lidahnya, "jika tidak bisa menghancurkan karirnya, bunuh saja lewat jalur bawah," tegas Ikram.


Aura menyeramkan yang sebelumnya ada di dalam diri Ikram mulai berangsur-angsur menghilang begitu ia perlahan mengatur nafasnya.


"Ah, suaraku kenapa jadi sumbang begini, tolong ambilkan aku minum, aku mungkin dehidrasi," jelasnya pada mereka semua.


"Ini bos,"


Ikram mengambil botol air itu, membukanya dan meminumnya pelan, "kalian punya tempat untuk istirahat yang sedikit layak? aku ingin rebahan sebentar," tambahnya.


"Ada bos, saya akan menunjukkan nya,"


Ikram menimbang dengan melihat jam yang ada di tangannya cukup lama, ini sudah cukup siang, ia harus kembali sebelum Ellia sampai di rumah.


"Aku akan pulang saja, jangan mengganggu dan datang jika tidak terdesak, tetap siaga dan siap sewaktu-waktu, jangan lengah, aku pergi dulu," ucapnya kemudian pergi begitu saja dengan kaki panjangnya.


***


Ellia sudah sampai di rumah ketika hari sudah cukup siang, ia khawatir Ikram terbangun dan tidak mendapati dirinya di rumah, namun ia sangat bersyukur ketika Ikram masih tidak bergerak di tempatnya, Laki-laki ini masih tidur nyenyak di sofa menghadap TV.


Setelah meletakkan semua yang ia kenakan, ia kembali ke tempat Ikram berada, ia melihat sebuah makanan sudah siap di meja makan minimalis seperti biasanya.


Menyadari Ikram belum makan sejak tadi, Ellia Membangunkan Ikram dengan lembut setelah menyiapkan makanan untuk Ikram ke dalam sebuah piring.


Ikram bergerak pelan, seolah tidak kuat membuka matanya, Ellia masih berusaha membangunkan suaminya ini hingga tanpa sadar menyentuh kulit tangan Ikram yang cukup panas dari suhu tubuh manusia normal pada umumnya.


"Prof, anda sakit?" tanya Ellia yang tanpa jawaban, gadis itu segera menggerakkan tangannya ke dahi Ikram yang tadi pagi masih normal dan baik-baik saja.


"Profesor, ayo bangun ya, kita makan dulu," ucap Ellia lagi.


Ikram yang memang baru saja tertidur masih malas untuk membuka matanya, "iya"


"Prof, ayo makan dulu ya, tidak baik jika sakit di biarkan tanpa makan," ucapnya yang juga membangunkan tubuh Ikram agar terbangun dan duduk.


Ikram berusaha membuka matanya pelan, "aku tidak lapar Ellia, kau makanlah dulu," ucapnya.


"Tidak tidak, aku akan makan setelah Anda makan," ucapnya yang dengan telaten menyuapi Ikram yang sudah menyandarkan tubuh dan kepalanya di sofa.


Gerakan Ellia sungguh sangat terampil untuk merawat seseorang, Ikram terus menatap tangan yang menggerakkan sendok ke dalam mulutnya.


"Tangan yang ia gunakan untuk merawat ku adalah tangan yang juga ia gunakan untuk menyentuh tangan kekasih nya,"


Hoek, hoek.


Ikram tiba-tiba merasakan mual ketika melihat tangan Ellia, Laki-laki ini berlari ke wastafel yang ada di dapur dan mengeluarkan semua yang baru saja ia makan ke dalam sana.


Kepalanya pusing, ia semakin pusing begitu mendengar pembicaraan antar istri dan mantan kekasihnya.


"Ellia, bisakah lakukan apa yang aku inginkan?"


TO BE CONTINUE