
Akhirnya Ikram kembali bersiap setelah tiga puluh menit kemudian, semua tamu bahkan sudah berdatangan dan tengah tidak sabar menunggu kedatangannya, bertemu pertama kali dengan pemilik sebenarnya dari Danial Group adalah sesuatu yang sangat di inginkan oleh semua orang yang ada di sini.
Entah untuk menjilat atau berusaha mendapatkan hati Ikram agar bisnis yang mereka kerjakan juga akan melonjak tinggi, tapi semua orang ini memang penuh ambisi, itu terlihat jelas dimata Ifraz yang saat ini tengah menemui mereka satu persatu menggantikan abangnya.
"Dokter muda seperti anda memang sangat di sayangkan jika tidak terjun di dunia bisnis, apalagi dengan wajah anda yang tampan," ucap salah seorang di sana.
Ifraz menghentikan seorang pelayan, mengambil sebuah gelas kaca berisi minuman yang terlihat sangat cantik, "bahkan jika hanya menjadi dokter, saya akan menjadi dokter yang berhasil," ucap Ifraz percaya diri.
"Saya ke atas dulu, melihat ke atas apa CEO kita sudah siap," ucap Ifraz yang kemudian menarik Iriana yang tidak jauh dari tempat ia berada saat ini.
"Baik, silahkan," ucap yang lain.
"Ada apa ?"
"Dimana kak Zelin ?'
"Di atas sedang menunggu abang," ucap Iriana.
"Panggil paman dan minta dia naik sekarang," ucap Ifraz.
Kedua kakak beradik itu tengah menaiki anak tangga dengan sangat anggun, jika bukan saudara Ifraz dan Iriana memang seperti pasangan yang sangat serasi, Ifraz yang terlihat tampan dengan jas yang ia kenakan dan Iriana terlihat sangat cantik dengan tatanan rambut istimewanya malam ini.
"Kak Zelin," panggil.
"Ikram lama sekali, ini hampir tiga puluh menit, tapi dia masih tidak keluar, aku bahkan sudah mengetuk pintunya berkali-kali," ucap Zelin yang hendak mengetuk pintu yang ada di depannya sekali lagi.
"Jangan kak, kita tunggu saja, mereka berdua mungkin sedang tidur," ucap Iriana.
"Tidur ? dia yang meminta untuk mengadakan acara ini Na, bagaimana mungkin dia sendiri yang tidur," ucap Zelin lagi.
"Kenapa ribut sekali di depan kamarku ?" tanya Ikram yang baru saja membuka pintu.
Wangi parfum miliknya sudah tersebar saat pintu kamar itu terbuka, sangat wangi, wanginya benar-benar membuat orang suka berada di dekatnya, "kau lama sekali," gerutu Zelin.
"Hanya tiga puluh menit, mereka yang butuh aku, biarkan saja menunggu sebentar," ucap Ikram.
"Kau juga membuatku menunggumu," jawab Zelin.
"Nah kan, mulai lagi mulai lagi, kenapa tidak bisa tenang sedikit saja sih kalian berdua, tiap ketemu selalu debat," ucap Ifraz malas.
"Ini juga karena mu," ucapnya yang memberi sentilan di dahi Ifraz tapi adiknya ini berhasil menghindar.
"Abang ini acar penting, aku tidak mau sampai dahi ku merah, itu membuatku tidak tampan, tau tidak ?" ucapnya kesal.
"Sudah ayo turun, semua orang menanyakan abang," ucap Iriana.
"Paman mana ?"
"Ada yang membuat kehebohan di luar, paman harus turun tangan langsung untuk mengatasinya," jawab Iriana.
"Oke sebentar," ucap Ikram yang masuk lebih dulu berpamitan pada Ellia.
"Sayang aku turun dulu, tunggu di sini dan jangan kemana-mana," ucapnya pada Ellia yang sudah setengah sadar karena benar-benar mengantuk.
Ikram mulai turun dengan Ifraz di sampingnya, Iriana dan Zelin tepat di belakang mereka, semua orang memandang takjub dengan sosok yang sedang turun dari tangga itu, ini pertama kalinya Ikram muncul di hadapan semua orang, dengan tuxedo berwarna biru tua sangat serasi dengan warna kulitnya yang bersih.
"Wah, industri hiburan akan ketar-ketir melihat visual CEO Danial group yang setampan ini,"
"Dia berbeda, sangat sempurna," ucapnya kemudian.
Hampir semuanya memuji Ikram dan membicarakan bisnisnya yang tiada tanding, beberapa yang lain bahkan memuji Ikram secara pribadi, "bos Ikram," panggil salah seorang yang cukup mengejutkan.
Panggilan ini adalah panggilan yang biasanya ia dengar saat berada di dunia bawah, bukan di sini, siapa yang memanggilnya begitu.
"Ah, ayah Toga ?'
"Anda tau ?"
"Tentu saja, bagaimana kondisi putra anda, saya sudah melakukan yang terbaik untuk mengobatinya, namun dia sangat takut saat saya dan adik saya mendekatinya, jadi kami harus mengirim dia pulang dalam keadaan seperti itu,"
"Siapa Ikram ?" tanya Zelin saat tau siapa orang yang ada di hadapan Ikram.
"Ah, dia salah satu ayah dari mahasiswaku, kau mengenalnya ?" tanya Ikram pada Zelin.
"Tentu saja, dia ketua organisasi yang pernah menyerang kita, dia yang bekerja sama dengan Hassel," ucap Zelin setengah berbisik.
"Benarkah ? menarik sekali," ucap Ikram yang masih dengan wajah biasa saja, sesekali wajah itu bahkan masih bisa tertawa.
"Siapa namanya Zelin ?"
"Dirgantara,"
"Ah, kenapa kalian tidak ada yang kreatif, bagaimana bisa memberi nama hampir sama, Yuda Maheza, sekarang Toga Dirgantara, semoga nasib kalian berdua tidak sama," ucap Ikram menepuk pundak sebelah kiri Dirgantara dengan tangannya.
"Mohon bimbingan anda pada putra saya," ucapnya penuh kebohongan.
"tentu saja, tapi aku tidak bisa pilih kasih kepada semua mahasiswaku," ucapnya kemudian.
"Sangat sulit membaca wajahnya, topengnya sempurna, dia bisa menjadi apa saja," ucap ayah Toga dalam hati.
Ikram hanya menatap laki-laki di depannya, "jangan pernah tanya bagaimana diriku, bahkan dengan musuhku pun aku bisa tertawa bersama," ucap Ikram dalam hati.
"Ambilkan anggur terbaik di gudang minum ku," ucap Ikram pada seorang pelayan.
"Baik tuan muda,"
Andara yang melihat dari jauh siapa yang ada bersama Ikram segera mendekat, "Dirgantara,"
"Tidak memanggilku tuan," ucap Dirgantara.
"Hey, dia sudah ikut denganku, kenapa masih harus memanggilmu tuan, lucu sekali," ucap Ikram sedikit tertawa.
"Saya akan mengambilkan anda minum tuan muda," ucap Andara.
"Kau juga sudah menikmatinya ?" tanya Dirgantara yang membuat Andara berhenti.
"Dia bukan Hassel yang mendorong saya pada semua laki-laki, mohon untuk bersikap lebih sopan," ucapnya mulai emosi.
Zelin melihat Andara yang mulai tidak nyaman, "jika ingin bertarung kita bertarung secara sportif di dunia kita, jika anda datang kemari karena status anda sebagai pengusaha, lawan kami dengan bisnis anda, jangan hanya menyelidiki kami diam-diam, itu menggelikan," ucap Zelin yang mana membuat tangan laki-laki ini terkepal.
"Dan lagi, semua wanita istimewa, kalau memang mahkotanya pernah jatuh, dia bisa mengambilnya dan meletakkan lagi di atas kepalanya, dengan berusaha menjadi lebih baik," ucapnya.
"Ini anggur yang anda inginkan tuan muda," ucap pelayan yang bersiap menuangkan botol anggur di sebuah gelas.
"Tidak perlu, ku berikan padanya sebagai hadiah, khawatir setelah ini dia akan merindukan rasa anggur mahal seperti ini," ucap Ikram yang langsung pergi dengan Zelin dan Andara.