
"Aku terlalu meremehkan mu," ucap Logan yang langsung Menyerang balik Iriana.
Dengan luka yang di berikan Iriana, gerakan Logan memang sedikit lebih lambat, namun laki-laki ini benar-benar bisa menggerakkan tubuhnya dengan baik.
Tapi bukan Iriana jika ia mudah kalah begitu saja, "sudah kubilang, aku memang tidak sekuat bang Ikram, tapi di banding Ifraz aku lebih baik," ucapnya lagi.
"Aku terkecoh oleh kepolosan bocah seperti mu,"
"Bocah ini yang sudah menusuk perutmu yang berharga," ucap Iriana semakin membuat laki-laki yang ada di depannya ini emosi.
"Kau," teriak Logan yang masih terus beradu fisik dengan Iriana, gadis ini sangat lincah, berbeda sekali dengan gadis polos yang sangat manja pada Ikram sebelumnya.
"Kau pandai mengecoh, jangan harap bisa lepas dariku setelah ini," ucap Logan semakin beringas.
Iriana mengeluarkan sebuah pistol yang cukup kecil dari saku celananya, "ah," teriak Logan.
"Itu senjata baruku yang akan ku berikan pada bang Ikram sebagai hadiah, bagaiamana sakit tidak?" tanyanya.
"Ah, kau," teriaknya lagi ketika Iriana kembali menembak bahunya di sisi yang lain.
"Itu untuk ledakan bom yang kau berikan di bahu abangku, aku sangat membenci semua luka yang kau berikan padanya," ucap Iriana.
Logan menatap sengit musuh di hadapannya ini dengan wajah tidak suka, ia menarik pisau yang masih menempel di perutnya, berjalan pelan ke arah Iriana, memegang lembut dagu Iriana.
"Aku juga tidak selemah yang kau bayangkan," ucapnya yang langsung menusuk perut Iriana dengan tiga kali tusukan.
Tubuh Iriana limbung, namun dia tidak merintih sama sekali. hanya sebuah senyuman yang terlihat jelas di wajah cantiknya.
"Ikram sepertinya sudah melatih mu sangat keras, bahkan tiga tusukan tidak bisa membuatmu berteriak kesakitan," ucap Logan.
Laki-laki buas ini hendak memberikan tusukan yang ke empat di tubuh Iriana yang sudah terduduk, namun tiba-tiba matanya buram, tubuhnya limbung dan terjatuh bawah.
"Anggur itu mengandung obat yang bisa menghilangkan kesadaran mu, dan dua peluru yang baru saja masuk ke dalam tubuhmu adalah modifikasi senjata buatanku yang baru, itu bisa menghentikan kerja sistem saraf dalam beberapa jam, karena pelurunya kecil dia akan sangat sulit di temukan di tubuhmu," ucap Iriana.
"Kau," teriak Logan sebelum hilang kesadaran.
Iriana bangkit, menggapai tubuh Logan yang dua kali lebih besar darinya, menariknya ke sebuah kursi yang sebelumnya ia duduk.
"Aku harus mengikatnya, aku takut saat aku sudah kehilangan kesadaran dia akan kabur begitu saja nanti," ucap Iriana.
Dengan sekuat tenaga Iriana menarik tubuh Logan ke atas kursi, ia jatuh berkali-kali namun tetap tidak tidak pantang menyerah.
"Abang, jika abang dengar aku sekarang, aku melakukan ini karena tidak suka melihat abang terluka setiap kali pulang ke rumah, aku selalu ingin abang baik-baik saja, tapi untuk yang satu ini adalah orang yang paling banyak membuat abang terluka, aku sudah tidak bisa menahannya lagi," ucap Iriana sebelum kemudian hilang kesadaran setelah berhasil mengikat Logan.
Ikram meletakkan ponselnya, ia sudah tidak sanggup lagi, bukan marah atas apa yang sudah di lakukan Iriana kali ini, tapi sesak yang sangat sulit di jelaskan bagaimana rasanya.
Perawat yang mengambil darah Ikram mulai tidak nyaman, Ikram sedang berusaha menahan air matanya, mata basah itu menarik nafas berkali-kali agar tetap kuat melewati semua ini.
"Tuan muda, darah yang di ambil dari tubuh anda sudah sangat banyak, saya akan mengambil dari orang yang lain,"
"Tidak apa-apa, ambil saja milikku dulu," ucap Ikram lagi.
"Anda akan sangat lemah jika terlalu banyak memberikan darah, akan berbahaya bagi kesehatan anda yang juga belum pulih sempurna, itu pesan yang di berikan oleh dokter Ifraz dan dokter William,"
"Tidak masalah,"
"Jangan membantahku," bentaknya cukup keras.
"Tuan muda, ada tiga orang yang memiliki darah yang sama dengan bos ketiga, mereka siap membantu,"
"Saya akan melepaskan jarumnya," ucap suster itu meminta izin.
Ellia beranjak keluar dengan Andara yang masih setia di sampingnya, "bolehkah aku meminta tolong,"
"Apa yang bisa saya bantu bu bos,"
"Tolong ambilkan jus buah untuk mas Ikram, buah apa saja yang ada di dapur saat ini, sementara jangan ada yang naik ke atas dulu," ucap Ellia sopan.
"Baik bos,"
Saat semua orang sudah pergi dari tempatnya, Ellia mendekati suaminya yang tengah duduk di sebuah kursi single dengan kepala menunduk.
Ellia menggenggam lembut tangan laki-laki yang sangat ia cintai ini sebelum kemudian mengecupnya pelan, "ada apa? " tanya Ikram.
Sebuah senyum terlihat di wajah Ellia, "mas, masih ada banyak sekali pundak yang harus kita kuatkan, dokter Ifraz bahkan masih butuh mas Ikram setelah nanti melakukan operasi, kuat ya, kita pasti bisa lewatin ini," ucap Ellia yang menarik lembut Ikram ke dalam pelukannya.
Ikram mempererat pelukannya, ia membenamkan seluruh wajahnya di perut Ellia, menangis tanpa suara di sana.
Tangan lembut Ellia menepuk pelan punggung Ikram, berusaha menenangkan suaminya yang sangat gusar saat ini.
Hampir tiga jam berlalu, tapi operasi masih belum juga selesai, wajah gusar semakin terlihat di wajah Ikram.
Sebuah jus yang berada tepat di meja bahkan belum di sentuh sama sekali oleh Ikram, kali ini ia berjalan mondar-mandir berusaha menghilangkan ketidak tenangan di hatinya.
Klik
Pintu terbuka, terlihat Ifraz sudah keluar dari sana dan langsung terduduk di lantai dengan wajah tidak berdaya.
"Bagaimana? bagaimana keadaan nya?" tanya Ikram yang juga tengah berlutut di depan Ifraz.
"Operasinya berhasil, tapi lukanya sempat menusuk rahim,"
"Apa?" sangat jelas sekali perasaan khawatir di wajah Ikram.
"Mungkin akan membuatnya sulit memiliki keturunan," ucap Ifraz
Ikram langsung terduduk, menatap Ifraz tidak percaya, "bagaimana bisa, dia, dia,"
Tangis kedua orang yang sangat mencintai adiknya itu pecah, berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain adalah hal yang bisa mereka lakukan saat ini.
"Abang bagaimana aku akan menemuinya nanti bang, aku, aku tidak bisa bertemu dengannya nanti, aku menghancurkan masa depannya abang aku tidak tau bagaimana menemuinya nanti," ucap Ifraz cukup terpukul dengan suara terisak yang sangat menyakitkan.
Ellia hanya menatap kedua orang yang sudah menjadi bagian penting di hidupnya dengan satu persatu butiran air mata jatuh dari kelopak matanya.
"Logan, cintamu benar-benar menghancurkan, dampak dari cintamu sangat luar bisa menyulitkan orang lain," gumam Ellia.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.