Ellia's Husband

Ellia's Husband
Puzzle



"Ellia, Ellia," panggil Toga lirih yang sudah mulai berangsur-angsur masuk ke dalam alam bawah sadar nya.


Semua orang melihat ke arah Toga yang baru saja masuk ke dalam alam bawah sadar di atas ranjang.


"Kenapa dia memanggil namaku?" tanya Ellia dengan heran.


"Tunggu tunggu, tapi dia kambuh karena melihat anda bukan karena mencintai Ellia," ucap Yuda pada Ifraz.


"Memangnya apa yang kulakukan padanya sampai takut seperti ini padaku ? kurasa dengan background keluarga yang dia miliki, dia tidak mungkin hanya sekali melihat kejadian seperti yang ku lakukan padanya di sini," ucap Ifraz.


"Tapi yang di lakukan Ifraz memang hanyalah memberi tamparan padanya, tidak ada hal lain yang harus membuatnya sampai kalut seperti ini," batin Ikram.


"Lalu hubungannya dengan Ellia? kami berteman cukup lama,"


"Dia tidak mengganggu karena kalian berteman, begitu tau Ellia bersama orang lain, apalagi Ikram Al Zaidan yang saat ini bersamanya, siapa yang tidak shock dan bisa menerima kenyataan ini dengan mudah, untukmu saja ini masih sangat sulit di terima," ucap Ifraz yang sudah bisa melihat bahwa semua orang yang ada di sini adalah orang yang sangat mencintai kakak iparnya.


Ellia sudah tidak mau perduli, ia membalikkan tubuhnya hendak kembali, namun Nadin baru saja datang ke sana.


"Ah Nadin, tolong bantu aku jaga dia, setelah terlihat lebih baik segera antar saja ke rumahnya,"


"Kan sudah ada Iraz kakak ipar,"


"Dia tidak cocok dengan dokter Ifraz, karena itu aku meminta bantuan mu," ucap Ellia.


"Oke,"


"Aku kembali dulu," ucap Ellia meninggalkan semua orang yang ada di sana.


"Ellia tunggu," ucap Yuda yang hendak menyusul Ellia, namun pergelangan tangannya di tahan oleh seseorang.


"Saya tidak memberikan izin untukmu menemuinya, kedepannya tidak perlu perhatian padanya, tidak perlu berbicara dengannya dan tidak perlu memperhatikan dia dari jauh," ucap Ikram.


"Ini tidak hanya berlaku untukmu, tapi juga untuknya," ucap Ikram menunjuk pada Toga.


Yuda hanya menundukkan kepalanya, dia masih bisa hidup sampai saat ini semua adalah kebaikan hati dari orang di hadapannya ini.


"Setelah menyelidiki siapa saya, artinya kalian faham betul siapa yang saat ini kalian hadapi, kami tidak akan mengusik, mengganggu atau melakukan apapun pada kalian selama kalian juga tidak melakukan apapun pada kami, tapi sedikit saja, sedikit saja sesuatu yang buruk terjadi dan kalian ada di baliknya, bahkan ke ujung dunia pun jangan berharap untuk bisa bebas," ucap Ikram.


Mode dosen, mode ketua kelompok mafia, mode saudara, mode suami dan mode mode yang lain, Ikram sangat baik dalam menjalankan perannya, ia bisa menempatkan situasi dan kondisi dengan baik, tau bagaimana bersikap, dan kali ini untuk kedua kalinya Yuda melihat sosok itu, sosok berbeda yang dulu juga sempat mengacau di rumah sakit karena Ellia keguguran.


"Saya akan membawanya," ucap Yuda hendak mendekati Toga.


"Dan Ellia, baik kamu ataupun dia, siapapun itu, tidak akan bisa mengambilnya dari saya," ucap Ikram lagi yang langsung meninggalkan kamar tamu dengan segera.


"Saat sudah masuk ke tempat ini, dia memang sudah tidak bisa kembali, selama dia bahagia, rasanya aku bisa menerimanya," batin Yuda sudah berlapang dada.


Ayahnya di kembalikan dengan utuh sudah sangat membuatnya berterima kasih, ia sudah tidak menginginkan hal lain, tapi fakta yang baru saja dia dengar sangat menarik perhatiannya kali ini.


Acara sudah selesai, makanan itu benar-benar habis tanpa sisa, beberapa bahkan ada yang membawanya pulang karena sangat menyukainya.


"Kami kembali dulu profesor, terimakasih makan siangnya," ucap mereka berpamitan.


Kali ini Ellia juga ikut kembali bersama bis karena masih ada kelas siang yang harus ia ikuti.


Ikram baru saja masuk ke dalam, bukan ke kamarnya atau ke ruang kerjanya, tapi langsung menuju laboratorium Ifraz.


Ikram langsung datang dan menarik telinga adiknya, tidak peduli dengan Iriana dan Nadin yang juga berada di sana.


"Ah, abang sakit abang," ucap Ifraz merintih.


"Menyuruhmu menjaganya buka berarti harus bersikap seperti itu pada istri abang," ucap Ikram.


"Astaga abang, kalau kakak ipar beneran makan itu permen karamel, bisa-bisa mansion ini udah kebalik dan terbelah jadi dua, harusnya abang berterima kasih," ucap Ifraz yang sudah berlari dan sembunyi di balik badan Iriana.


"Masalah apa lagi ?"


"Semua orang akan curiga antara hubunganmu dengan Ellia, bisa-bisa dia menjadi santapan wanita penggemar mu di kampus," ucap Ikram.


"Tidak masalah abang, nanti biar Iraz saja yang berpura-pura menjadi suami kakak ipar, rahasia kita aman, kakak ipar juga aman,"


"No, suaminya cuma abang, nggak ada yang lain sekalipun itu cuma pura-pura,"


"Kalian kembali bersiap, jangan sampai lupa kalau Zelin juga harus datang malam ini, abang ada di ruang kerja kalau kalian ada perlu,"


"Iya bang," ucap mereka semua.


Beberapa detik hening sampai Ikram benar-benar meninggalkan laboratorium, satu detik setelah di rasa aman, semua sudah heboh masing-masing.


"Iraz apakah sakit ?" tanya Nadin yang langsung segera mendekati Ifraz yang masih berada di belakang Iriana.


"Abang cinta banget sama kakak ipar," ucap Nadin lagi.


"Lu juga sih, ngapain pakai acara rayu kakak ipar di depan umum, udah tau abang over protect banget," ucap Iriana.


"Pengen jail aja, eh singa nya ngamuk beneran," jelas Ifraz.


***


Hari sudah sore, Ellia sampai ke mansion saat hari sudah mulai gelap, semua persiapan untuk pesta malam ini sudah siap dengan sempurna, mulai dari dekor dan makanan.


"Selamat datanya nyonya," sambut beberapa orang pelayan yang sudah bersiap di sana.


"Iya, malam semua," ucap Ellia malas, ini tidak biasanya terjadi, hari ini ia begitu tidak bersemangat seperti biasanya.


"Kenapa nyonya sangat murung hari ini?" tanya beberapa orang pelayan.


Ellia langsung naik ke atas dan membersihkan diri, malam ini ia hanya harus berada di dalam kamar, karena keadaan di luar akan sangat berbahaya dengan banyak sekali orang dan wartawan.


"Tuan muda," panggil salah seorang pelayan saat Ikram baru saja datang dengan Ifraz.


"Ada apa?"


"Sepertinya ada yang salah dengan nyonya muda tuan," ucap pelayan itu.


"Apa yang salah,"


"Biasanya nyonya selalu memanggil nama anda begitu datang, tapi hari ini beliau datang dengan tidak bersemangat dan terlihat sangat murung."


"Oke, aku yang akan mengurusnya, kalian semua kembali bekerja," ucap Ikram.


Ikram langsung bergegas masuk ke dalam kamar, "sayang," panggilnya, namun tidak ada seorang pun yang menjawab panggilannya.


"Ellia," panggil Ikram lagi.


"Aku di sini," ucap Ellia dari balkon.


"Sedang apa?" tanyanya membelai lembut rambut panjang istrinya.


"Mereka merusak foto mas Ikram," ucap Ellia tidak senang.


Sesungguhnya foto itu bukanlah foto, itu hanyalah gambar Ikram yang beredar di koran dan majalah cetak yang sudah tersebar di seluruh negeri.


Ikram mengernyitkan dahinya, "apa aku tidak memberinya cukup uang sampai harus menyimpan fotoku dari barang-barang bekas seperti itu," ucap Ikram dalam hati yang masih menyusun foto dirinya yang sudah terbagi menjadi beberapa bagian.


***