Ellia's Husband

Ellia's Husband
Kamu



"Sudah puas belom ?" ucap Ikram dengan nada yang tidak kalah menggoda.


"Ah profesor, ini tidak baik, ini bukan sikap yang baik sebagai dosen. anda tidak boleh hanya memakai handuk di sembarang tempat," teriaknya sembari berusaha menutup matanya meskipun ia sedikit mengintip dari sela-sela jari tangannya.


"Bukankah sangat sia-sia jika hal ini di lewatkan, tubuh mas Ikram benar-benar indah,"batin Ellia tidak terkendali, siapapun pasti akan terlena dengan tubuh tidak manusiawi itu.


"Ini kamarku, aku sudah memilih tempat yang tepat, bahkan tidak ada salahnya jika aku tidak memakai apapun sekarang," jawab Ikram.


"Ah profesor, tapi ada saya di sini, seharusnya anda,"


"Aku suamimu, Ellia, aku bukan dosen saat ini, jangan memanggilku profesor, aku tidak menyukainya," tambahnya dengan wajah tidak suka, menurut Ikram itu merusak keintiman.


Ellia mengingatnya, gadis ini ingat tapi sering kali terlupa dan keceplosan memanggil Ikram dengan sebutan profesor, "tapi tetep saja mas, ini tetap tidak pantas, kemari, cepat cepat, aku akan memakaikan bajunya," ucap Ellia yang segera beralih mengambil baju yang sebelumnya berada di atas ranjang.


Ikram mendekati istri kecil yang tengah mengambil baju untuknya itu, ia sudah berdiri di belakang Ellia, gadis ini memasukkan baju di kepalanya, layaknya memakaikan baju untuk bayi, namun Ikram tidak keberatan , ini juga momen langka untuknya dan ia sangat senang, benar-benar senang ketika diperhatikan.


"Mas lapar tidak ?" tanya Ellia lagi yang kini tengah merapikan rambut basah Ikram dengan detak jantung yang tidak karuan.


"Ellia aku mendengar detak jantungmu, kau gugup ?" tanya Ikram yang semakin senang.


"Saya juga mendengar detak jantung anda," balasnya tidak ingin kalah.


"Sudah kubilang jangan berbicara dengan nada formal padaku, sudah lupa ?"


"Ini masih pembiasaan mas, bagaimana bisa merubah panggilan dan nada bicara dengan seseorang dalam waktu beberapa jam saja," sanggahnya.


"Kenapa sekarang jadi pintar sekali menjawab ku Ellia, aku jadi semakin senang mendengar mu banyak bicara,"


"Aku sudah pintar sejak dulu mas, jadi makan tidak ?" tanya Ellia lagi.


"Bagaimana ya, aku sudah tidak sabar memakan mu, bagaimana jika makan setelah memakan mu," tambah Ikram.


"Mas Ikram,"teriak Ellia malu.


"Apa sayang," jawab Ikram yang semakin membuat pipi Ellia memerah.


Ikram sengaja menarik suasana agar keduanya tidak canggung, ia ingin benar-benar menjadikan ini sebagai momen yang tidak akan pernah terlupakan baik di hidupnya maupun di hidup Ellia.


"Pipimu semakin memerah," goda Ikram semakin senang.


"Sudah sudah, kita harus makan dulu," ucap Ellia.


"Makan apa ?" tanya IKram yang kini berjalan menuju sebuah meja rias dan mengenakan parfum ke beberapa bagian tubuhnya.


"Pantas saja dia sangat wangi kapanpun dan di manapun, lah parfumnya nggak pernah ketinggalan," batin Ellia.


"Wangi bukan ? aku yakin suatu saat kau akan rindu dengan bau tubuhku, lihat saja," ucap Ikram percaya diri.


"Semua orang juga sudah tau jika anda sangat wangi, tapi saya tidak menyangka anda ternyata cukup narsis seperti ini," jawab Ellia menggelengkan kepala.


"Aku Ellia, pakai aku kamu ketika berbicara, bukan saya dan anda, usia kita tidak terlalu jauh, santai saja,"


"Iya iya,aku akan menyiapkan makanan dulu," ucapnya yang hendak pergi meninggalkan Ikram di dalam kamar


"Lalu makanan untukku ?"tanya IKram tanpa dosa.


"Makan dulu mas," tambah Ellia dengan nada lembut.


"Ingin dimasakkan apa ?" tanya Ellia lagi.


"Aku ingin tuna, bolehkah ?" tanya Ikram tidak ingin membebani Ellia.


"Sesuai yang mas Ikram inginkan," ucap Ellia sebelum pergi.


Ikram yang masih berada di dalam kamar segera melihat ponselnya, ada beberapa email masuk dari Ginanjar dan Nando di sana, satu persatu Ikram membuka email itu, semua tentang pekerjaan dan laporan orang-orang yang ia percayai untuk mengelola perusahaan atas namanya.


Tanpa lama laki-laki ini menelfon seseorang, "buat petunjuk palsu agar Mahez tidak bergerak terlalu jauh, jangan mengusiknya, mereka harus tetap bertahan," tambahnya.


Ikram menyandarkan tubuhnya yang tidak lelah ke sebuah sofa empuk yang berada di sudut ruangan, "rumah dan kehidupan sederhana yang Ellia inginkan, aku juga akan mewujudkan apapun yang ia inginkan untuk yang terakhir kalinya," ucapnya dengan memejamkan mata.


***


Ellia masih berkutat di dapur dengan beberapa bahan makanan yang entah dari mana sudah tersedia di dapur sesuai dengan keinginan suaminya, sempat berfikir siapa yang menyiapkan semua ini, namun ketika dia mengingat bagaimana Ikram dan kehidupan misteriusnya, ia sudah mulai faham jika ini bukanlah hal mustahil yang bisa dilakukan oleh Ikram.


"Apakah sudah ? kenapa lama sekali, apa kita pesan saja, banyak penjual makanan di sini," tanya Ikram yang tiba-tiba saja memeluk Ellia dari belakang.


Sangat terasa detak jantung Ikram yang menempel erat di punggung Ellia, "mas apa ini pantas ?" tanya Ellia.


"Bukankah suami istri memang biasanya begini Ellia ?" tanya Ikram yang tetap tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Ayah dan ibu tiri ku biasanya hanya bertengkar saja, aku jarang melihat mereka berpelukan," jawab Ellia polos.


"Kita tidak sama dengan mereka," tambah Ikram.


Tubuh sintal berisi itu bergerak ke sana kemari yang mana masih di ikuti oleh Ikram yang masih setia mengekor di belakangnya, "mas, aku tidak bisa memasak jika mas Ikram mengikuti kemanapun aku pergi,"


"Benarkah ? hehe," ucap IKram tanpa dosa.


Ellia kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur, "Ellia, ayo kita beli saja," rayu Ikram.


"Tidak mas, kita sedang menjadi suami istri sekarang, biarkan aku yang memasak dan tunggu aku di kamar, ayo ayo cepat pergi ke kamar dan tunggu aku di sana," ucap Ellia yang mendorong Ikram masuk ke dalam kamar agar tidak mengganggunya.


Ellia baru saja sampai di dapur dan hendak mengambil sebuah sutil untuk menggoreng, namun suara Ikram kembali mengganggunya, "Ellia apa sudah ?" tanya Ikram lagi dengan setengah berteriak.


"Belum mas, sabar sebentar lagi selesai," ucap Ellia dengan setengah berteriak juga.


Baru beberapa menit, suara IKram kembali terdengar di suasana pedesaan yang sepi, "Ellia apa sudah ?" tanyanya lagi dengan ucapan yang sama.


"Sedikit lagi," jawab Ellia.


"Ellia apakah sudah ?'


Ellia memutar bola matanya, "jika aku tidak menghampirinya, maka ia tidak akan pernah berhenti bertanya," gumam gadis ini pelan.


Ia tidak menyangka profesor yang sangat berwibawa di kelasnya menjadi seperti ini ketika bersamanya, Ellia menoleh dan betapa kagetnya ia melihat kepala Ikram yang mengintipnya di balik dinding, "astaga," ucapnya terkaget dengan badan muncul di belakang.


"Sudah selesai belum ?" tanyanya lagi seperti bayi.


Ellia menarik nafas perlahan kemudian mematikan kompor dan mendekati suaminya dengan sabar, "baiklah apa yang kamu inginkan ? kenapa mas Ikram terus bertanya, sekarang katakan ingin apa ?" tanya Ellia.


"Kamu," jawab Ikram singkat.


TO BE CONTINUE