
Berbeda dengan Adams, istrinya itu bahkan tidak bisa menutup mulutnya karena keindahan yang ia lihat dalam bentuk rumah, "ini sangat besar, aku akan sangat bahagia jika bisa tinggal dan menjadi nyonya rumah ini," batinnya dalam hati.
Mobil ini berhenti tepat di depan seorang wanita yang tanpa rasa takut menghadang jalannya dengan mengangkat sebuah tangan.
"Siapa dia ? beraninya menghentikan mobilku ?" ucap Adams kesal.
Laki-laki ini dengan tidak sabar membuka mobil dengan kasar kemudian menutupnya dnegan keras, "hey gadis kecil tidak sopan, kau tidak tau siapa aku sampai berani menghadang ku ?" Ucapnya yang masih tidak di jawab oleh Iriana.
Iriana masih mengamati wajah laki-laki yang merupakan ayahnya ini, "aku Adams, Ikram pemilik rumah ini adalah putraku, menyingkir dan jangan menghalangi jalan, atau aku akan memintanya untuk menyingkirkan mu," ucapnya.
"Aku juga ibunya, beri kami jalan dan kami akan memaafkan perilaku tidak sopan ini," tambah istri Adams yang tidak akan kuat jika tidak berbicara.
"Sombong," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Iriana.
"Kau," teriaknya yang sudah menjambak rambut panjang milik Iriana.
Namun sebuah peluru melesat sangat cantik tanpa suara di lengan Adam yang sudah terlepas dari rambut Iriana, "berani menyentuhnya ? kau ingin mati ?" tambah Ifraz yang baru saja datang dengan Ginanjar di sampingnya.
Adams melihat pada dua orang itu, terlihat adiknya di sana tengah berdiri dengan laki-laki muda yang ia juga tidak tau siapa.
"Ginanjar ? ah kau menghilang untuk menikmati semua kemewahan putraku, dasar bajingan adik tengik," ucapnya dengan tanpa kendali, ia bahkan melupakan tangannya yang sudah terluka karena peluru yang melesat di lengannya, memang bukan tempat yang vital namun cukup untuk membuat laki-laki tua ini menghentikan sikapnya yang kurang ajar pada Iriana.
Ginanjar bukannya menjawab, ia hanya menatap Iriana yang masih mematung melihat bagaimana sikap ayahnya yang sebenarnya, ayah yang mengalirkan darah yang sama di seluruh tubuhnya justru dengan sangat yakin menarik rambutnya.
Gadis ini dengan sengaja membiarkan, sakit di kepalanya bahkan tidak ada bandingan sedikitpun dengan semua perasaan yang ada di hatinya, ia berbohong, ia berbohong pada kedua abangnya jika dia tidak merindukan sosok ayah ini, ia sangat merindukannya, teramat sangat seperti putri-putri yang lain.
Ikram memang bisa menjadi ayah dan orang tua yang sempurna untuknya, namun ia tetap ingin ayahnya yang sebenarnya, bagaimana wajahnya, seperti apa sikapnya, ia ingin melihat sendiri, tapi untuk pertama kali sikapnya benar-benar di luar ekspektasi.
Pernah terbersit di dalam pikirannya, "aku kan juga putrinya, mungkin dia bisa sedikit lembut padaku," ucapnya berpikiran positif.
"iriana tidak apa-apa ?" tanya Ginanjar.
Gadis ini tersenyum, "ini bukan apa-apa ayah," ucapnya dengan jelas seolah ingin memberi tamparan pada dua manusia laknat di depannya.
"Dia, Iriana ?" ucap Adams merasa bersalah begitu gadis itu memanggil adiknya dengan sebutan ayah..
Ifraz yang sudah mulai mendekati adiknya ini masih menatap tajam pada Adams yang baru saja ia lewati, "Bang Ikram bahkan sangat berhati-hati menjaganya, tapi kau bahkan merusak mahkota yang sangat di jaga olehnya, dia adik kesayangan kami, jika tidak bisa menjaganya, jangan pernah menyakitinya," kesal Ifraz bergumam tanpa henti.
"Tunggu tunggu, Iriana, nak ayah tidak tau jika itu kau," ucapnya mencoba meraih wajah Iriana.
Sebelumnya rumah ini sangat jauh dari benda-benda berbau senjata atau sejenisnya, memang Ifraz dan Iriana di bekali oleh Ikram beladiri dan seni senjata, namun keduanya tidak di perbolehkan melakukan latihan di dalam mansion, karena menurutnya rumah adalah rumah, ia harus hangat terlepas seberapa dingin semua penghuninya di luar sana.
Namun beberapa bulan terakhir ini, masalah seolah datang bertubi-tubi di hidup Ikram, yang mana mau tidak mau semua orang di mansion ini memang harus bersiap dan mengantongi senjata sepanjang waktu, bahkan seluruh pelayan dan tukang kebun di rumah ini wajib untuk mengikuti pelatihan bersenjata dan bela diri.
Ini memiliki tujuan, jika nanti akan ada sebuah pertempuran yang tidak di inginkan, maka semua orang bisa bahu membahu menyelamatkan paling tidak Ifraz dan iriana di dalam rumah ini, Ikram tidak ingin kedua adiknya dalam bahaya.
"Ginanjar jaga sikapmu, dia putriku," teriaknya.
"Ifraz, Ifraz ayah minta maaf sebelumnya, tolong jangan bersikap seperti ini," ucapnya pada kedua anak yang masih mematung di tempatnya.
"Tu.... tuan besar... tuan besar... " teriak orang yang sudah penuh dengan luka cakaran dari atas hingga bawah tubuhnya.
Laki-laki yang sebelumnya berada di gudang itu kini tengah berlari pontang-panting menghindari hewan-hewan buas yang tidak berhenti mengejarnya.
"Tuan besar, segera pergi dari sini, Ikram lebih berbahaya dari apa yang kita pikirkan, dia bukan manusia," ucapnya yang sudah berlutut ketakutan meminta pertolongan.
Tak lama tiga ekor hewan buas itu berjalan senada dan seirama mendekati mereka, "tunggu, mereka? bagaimana bisa ada hewan-hewan itu di sini?" tanya Adams yang semakin panik.
Istrinya bahkan sudah bersembunyi di balik tubuh Adams dengan terburu-buru karena takut, hewan dengan wajah yang siap memangsa itu melihat semua orang dengan tatapan lapar, satu persatu orang sudah melangkah mundur agar memberi tempat yang lebih luas untuk hewan-hewan itu bergerak.
"Hendak lari kemana? mereka bisa lari lebih cepat dari mobil milikmu," teriak Ikram yang baru saja keluar dari hutan dengan sebuah jeep.
"Ikram,"
"Ikram, aku minta maaf aku minta maaf, lepaskan aku, minta mereka melepaskan aku," ucap laki-laki itu yang tengah berlari berlutut di kaki Ikram dengan banyak sekali darah di sana.
"Wah, seharusnya istriku ada di sini, kau harus meminta maaf sendiri padanya, dia yang ingin kalian celakai," ucapnya.
"Tidak, aku minta maaf, ini tidak akan terjadi lagi," ucapnya tetap memohon, tubuhnya terasa perih karena semua cakaran yang di berikan hewan-hewan itu di seluruh tubuhnya, beberapa pakaiannya juga sudah sobek dan tidak karuan bentuknya.
Ikram mengangkat tangannya, meminta hewan-hewan itu untuk berhenti dan diam.
"Dia hanya seorang anak tiri dengan keluarga yang berantakan, kenapa membelanya sampai begitu, kau bisa mencari wanita lain yang lebih baik seribu persen darinya nak, ayah akan mencarikan mu yang lainnya, dia tidak cocok untukmu, dia tidak pantas di perlakukan seperti ratu di istana ini," ucapnya masih dengan sikap arogan seperti sebelumnya.
"Aku memperlakukan dia seperti ratu karena aku terlahir dari rahim seorang ratu, dia bukan sepatu yang mana aku harus menggantinya ketika aku ingin,"
TO BE CONTINUE