Ellia's Husband

Ellia's Husband
Perbedaan Jalan



Ellia keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya, ia hendak mengambil sebuah baju untuk di pakai namun terkejut ketika ada baju yang sudah siap di atas sebuah koper yang sudah berisi penuh dengan semua pakaian yang sudah di kemas oleh Ikram pagi tadi.


"Bagaimana aku bisa melupakannya dengan semua yang sudah ia lakukan ini," ucap Ellia yang kini berjongkok menatap koper di depannya.


Berusaha kuat, gadis ini bangkit dan mengambil pakaian yang sudah siap itu, setelah siap ia hendak meninggalkan kamar dengan sebuah koper di tangannya, namun mata itu terhenti pada sebuah ranjang dengan satu nampan makanan buatan Ikram untuknya.


Air mata ini kembali menetes, ia tak kuasa menahan tangisnya lagi, hatinya semakin sesak, ia mengambil makanan itu dan memakannya dengan air mata yang masih tetap menetes, ia berusaha tetap menelan semua ini sekalipun sulit di tengah isaknya dalam diam.


Tok tok tok


"Ellia apakah ada masalah ? kenapa masih belum keluar ?" tanya Yuda yang juga tengah khawatir terjadi sesuatu dengan Ellia.


Berusaha tenang Ellia menjawab, "sebentar lagi, aku sedang bersiap," teriaknya dengan suara sebiasa mungkin.


"Oke, aku nunggu di luar," tambah Yuda.


Setelah menghabiskan semua makanan dan susu itu tanpa sisa, Ellia menyusuri sudut kamar ini dengan ekor matanya, "bahkan dia membawa semua barang miliknya tanpa terkecuali, dia hanya tidak membawaku," ucapnya.


Selama perjalanan pulang Ellia dan Yuda, Ellia sempat dibuat bimbang oleh perasaanya sendiri, pertanyaan kenapa ia merasa sangat kehilangan dan sesak yang teramat sangat di bagian dadanya membuatnya bimbang, "apa aku sudah mencintainya atau hanya terbiasa dengannya ? kenapa rasanya sesakit ini ? apa ini memang cinta ?" tanyanya dalam hati.


"Ellia, kenapa selama satu minggu ini kamu tidak membalas pesan da menghubungi ku ?" tanya Yuda.


"Dia melarangku," tambahnya.


"Kenapa harus menurutinya Ellia, kau bisa mengambil ponselmu diam-diam ketika dia tidak ada," tambahnya yang semakin membuat Ellia berfikir keras.


"Kenapa aku menurutinya, seharusnya aku bisa saja menghubungi atau membalas pesan mereka, toh mas Ikram hanya melarangku, tidak memeriksa satu pun pesan di ponselku sampai akhir, artinya aku juga tidak ingin melihat mas Ikram kecewa dengan apa yang ku lakukan, apakah ini cinta ? aku tidak pernah merasakan perasaan aneh ini ketika bersama Yuda, bahkan ketika laki-laki ini membiarkanku menikah dengan ayahnya, atau saat kami berpisah dan aku harus menikah dengan mas Ikram aku tidak sesakit ini," ucapnya yang masih menatap jalanan yang ada di depannya.


"Ellia, kita langsung terbang atau mau makan dulu," tanya Yuda hati-hati, laki-laki ini tidak tau apa yang harus di lakukan untuk membuat suasana hati Ellia berubah.


"Langsung terbang saja, aku lelah, aku ingin segera pulang, apakah tidak masalah ?" tanya Ellia menatap Yuda yang semakin membuat hati Yuda teriris dengan tatapan itu.


Ellia yang biasanya selalu tersenyum di hadapannya kini dengan mata bengkak dan wajah pucat menatapnya, sesekali air mata menetes dengan sebuah senyum yang di paksakan, sangat jelas sekali perempuan di hadapannya ini sedang mengalami luka yang sangat hebat, itu seperti tertulis jelas di wajah Ellia.


"Sebentar lagi kita akan sampai di bandara,"


"Iya," jawab Ellia seadanya.


***


Di sisi lain, Ikram kini tengah mendarat di sebuah hutan dengan banyak sekali hutan rimbun di kanan kirinya, beruntungnya Ikram sudah sangat hafal dengan area ini, sehingga memudahkannya untuk mencari jalan keluar menuju benteng hitam.


Laki-laki ini sudah melihat benteng besar di depannya, bercak darah dan banyak sekali tubuh manusia tergeletak bahkan di luar benteng, "siapa di sana ?" tanya salah seorang yang tidak sengaja melihat Ikram mulai memasuki benteng.


"Kau siapa ?" tanya Ikram tanpa takut.


Bukan menjawab, laki-laki itu malah langsung menyerbu Ikram dengan sebuah pukulan, namun sayang karena Ikram bergerak lebih cepat, "gerakanmu saja masih salah tapi sudah berani mengacaukan bentengku," ucapnya keras.


"Benteng mu ? jangan mimpi," ucap laki-laki itu.


Beberapa orang yang melihat dari jauh mulai mendekati Ikram yang hanya datang seorang diri, sayangnya Ikram dengan semua kemampuan bela diri dan bertahan hidup yang paling hebat di tempat ini bukan tandingan mereka, satu demi satu orang berjatuhan di tangan Ikram dengan tangan kosong.


Ikram masih terus berjalan menuju tempat utama benteng ini, tentunya untuk mencari tetua dan seluruh anggota benteng ini, satu persatu ia menjatuhkan semua orang yang menghadangnya, bukan satuan, puluhan orang sudah jatuh dengan luka yang cukup berat, di tambah sebuah pistol yang berada di tangan Ikram, semakin membuat laki-laki ini brutal.


"Kalian hanya tidak beruntung karena menyerangku di saat aku sedang patah hati, suasana hatiku saat ini benar-benar buruk, aku ingin sekali membunuh orang dan kalian datang, welcome to death," ucapnya dengan masih melawan beberapa orang yang sejak tadi tidak berhenti menghadangnya.


Hingga sampai di sebuah pintu raksasa, Ikram membuka pintu itu dengan kedua tangannya.


Prok prok prok.


"Ikram Al Zaidan, calon pemimpin Alexander berikutnya sudah datang,"


"Ha ha ha ha ha," tawa semua orang yang ada di sana meremehkan.


Ikram menatap semua orang yang ia kenal tengah duduk di bawah dengan luka-luka yang cukup berat, mata itu tertuju pada Alexander yang sudah terbaring dengan banyak darah di pangkuan putrinya Zeline.


Ikram dan Zeline adalah rival dalam memperbutkan posisi ketua selanjutnya, lebih tepatnya penerus Alexander, kemampuan bertahan hidup dan bertarung mereka hampir sepadan, meskipun Ikram memang yang lebih unggul, namun Zeline adalah yang terkuat dan tehebat setelahnya di benteng ini, karena itu begitu suara Zeline yang secara langsung menghubunginya, artinya situasi di sini benar-benar mengkhawatirkan, dan dugaannya benar.


"Wah Hassel, kau sampai harus membawa pasukan sebanyak ini untuk datang kemari, untung saja benteng ini tidak roboh karena ulah nakalmu itu," ucap Ikram yang masih menampilkan sebuah senyum di wajah tampannya.


"Aku yakin kemampuan bela dirimu sudah banyak berkurang, kau fokus berbisnis akhir-akhir ini, jadi ini waktu yang tepat." sindir laki-laki yang menjadi pemimpin penyerbuan benteng ini.


"Ha ha ha ha ha,"


"Tapi sepertinya aku harus mengecewakanmu, sepertinya mereka semua sudah tidak bisa bangun dan membantumu, ah dan lagi," ucap Ikram melihat hampir ada lima belas orang yang berdiri di sana.


"Orang-orang itu, tentu tidak akan bisa mengalahkanku bahkan jika aku tanpa senjata," ucapnya dengan melempar sebuah pistol yang cukup mahal dengan desain terbaru dengan gaya khasnya yang elegan dan tentunya tetap tampan.


TO BE CONTINUE