
Iriana hanya tersenyum melihat laki-laki yang ada di depannya ini, "wah, aku harus kehilangan ibu tanpa sempat melihatnya, kira-kira hadiah apa yang akan kau berikan padaku sebagai ganti rugi?" tanya Iriana yang sudah bangun dari duduknya.
Deg, sekali lagi Ellia di kejutkan oleh beberapa fakta mengejutkan di depannya, "dia juga penyebab kejadian itu? aku memiliki firasat buruk tentang ini," pikir Ellia yang langsung begitu saja menatap Iriana yang sudah bangun dari duduknya.
Iriana berjalan mengitari Maheza seperti ingin segera memangsa laki-laki di depannya ini, "jika bang Ikram tidak mengajarkan aku untuk bersikap sopan pada orang yang lebih tua, aku sudah mengacak-acak rambut putih mu itu," ucapnya kesal.
Dengan masih berjalan memutari Maheza, Iriana memikirkan bagaimana laki-laki ini harus membayar hutang padanya atas masa kecil yang sudah di ambil secara paksa.
"Tidak perlu meminta ganti rugi padanya, dia sudah tidak memiliki apapun untuk di berikan padamu," tambah Ikram.
"Dia menarik rambutku saat itu bang, hanya saja aku juga tidak bisa menyentuh kepala orang lain terlebih yang sudah tua, itu adalah sopan santun yang selalu abang ajarkan padaku," tambah Iriana lagi.
Sesungguhnya Ellia bingung dengan arah pembicaraan Iriana yang menurutnya ambigu dan bukan titip persoalan, "apa yang sesungguhnya ingin ia katakan, dia seperti memberi teka-teki," batin Ellia dalam hati dengan bingung.
"Yang jadi pertanyaan ku sekarang? apakah anda juga tidak memiliki ibu atau seseorang yang bisa mengajarkan anda bahwa menarik rambut seseorang adalah perbuatan yang tidak sopan?" teriak Iriana dengan menarik rambut putih bercampur hitam milik Maheza.
"Ah, ah lepaskan aku," teriak Maheza begitu Iriana menarik rambutnya kasar.
Ellia saat itu hanya menatap pemandangan di depannya dengan ngeri, tangannya tanpa sengaja meremas lengan baju Ikram.
"Jika aku tanpa ibuku saja masih tau sopan santun itu, tapi kenapa anda tidak bisa tuan Maheza," teriak Iriana lagi mendorong tubuh tua itu ke lantai.
Ikram merasa perbuatan Iriana sudah cukup, laki-laki itu kini melepas lengannya yang semakin di pegang erat oleh Ellia.
"Sebentar," ucapnya saat itu dengan sebuah senyum.
Ikram mendekati Iriana yang masih dengan wajah gemas menatap Maheza setelah meletakkan snack favoritnya di atas meja, "oke, cukup Iriana, kamu tau abang nggak pernah ngajarin ini," tambahnya memeluk lembut tubuh itu kedalam pelukannya agar merasa lebih tenang.
"Ifraz tolong pergi bersama Iriana dan Ellia ke atas, jaga mereka dengan baik," ucapnya pada Ifraz.
Ifraz segera bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan pada Iriana agar adiknya itu segera mengikutinya untuk naik ke atas sesuai instruksi Ikram.
"Ayo kakak ipar," ucapnya.
"Ingat untuk tidak terluka bang," ucapnya.
Iriana masih tetap tidak rela meninggalkan laki-laki tua itu pada Ikram, jika bukan Ikram yang meminta mungkin ia tidak akan rela melepas laki-laki ini.
Setelah semua orang pergi dan menyisakan Ginanjar di sana, Ikram mulai duduk kembali di tempatnya semula.
"Bawa dia naik dan duduk kan di sana," ucapnya menunjuk sebuah kursi yang ada di depannya.
"Apa yang kau inginkan Ikram, kau sudah memiliki semuanya, bebaskan aku," tambahnya.
"Aku sedang memikirkan itu, apa yang bisa ku ambil dari mu untuk membayar luka selama lebih dari dua puluh tahun, dan tentunya duka setelah kehilangan anakku rasanya bukan main-main, ah aku lupa, bagaimana jika di bayar dengan kematian putramu juga," ucap Ikram memberi penawaran.
"Aku aku akan menghubungi ayah mu dan adikku, dia akan datang dan meminta maaf padamu atas perlakuannya padamu dulu, tapi tolong bebaskan aku, aku akan meminta apapun pada mereka sesuai yang kau katakan, tapi bebaskan aku,"
"Ho ho ini lebih dari apa yang kau bayangkan pak tua, aku juga tidak membutuhkan permintaan maaf dari mereka," tambahnya.
"Tidak aku akan menelfon mereka dan meminta mereka untuk datang," ucapnya yang sibuk mencari nomor di ponselnya dengan tangan gemetar.
"Tuan muda, presiden, kepala menteri Kehakiman dan juga Jaksa ada di sini, baru mendarat menggunakan helikopter militer," ucapnya berbisik pada Ikram.
"Biarkan saja dia masuk," ucapnya yang langsung di angguk hormat oleh laki-laki yang sebelumnya ada di sana.
Ginanjar yang sebelumnya duduk di sofa kini bangkit dan berdiri di belakang Ikram yang sedang duduk di atas sofa singel yang sebelumnya ia tempati bersama Ellia.
Tak lama derap langkah kaki beberapa orang datang memasuki mansion Ikram,
"Selamat datang di istanaku, ku harap kalian tidak salah arah ketika pertama kali datang kemari," ucapnya menatap semua orang dengan sebuah senyum khasnya.
Maheza semakin merinding begitu tau siapa yang datang ke sana saat itu, itu di luar dugaan nya sebelumnya.
"Saya merasa terhormat bisa datang ke istana anda tuan muda," ucap sosok yang kini menjabat sebagai presiden itu dengan kepala menunduk.
"Ah benarkah? silahkan duduk," ucap Ikram mempersilahkan.
"Mbak, mbak," panggilnya.
"Iya tuan muda," ucap kepala pelayan perempuan.
"Aku memiliki beberapa tamu penting, buatkan makanan yang layak, jangan sampai mereka kecewa dengan pelayanan kita.
"Disiapkan tuan muda,"
"Nando, siapkan vitaminnya," ucap Ikram kemudian.
"Baik tuan muda,"
"Dan jangan lupa untuk menyampaikan kepada istri dan adikku bahwa kita memiliki tamu, sebagai tuan rumah semua orang ini harus di sambut bukan,"
"Siap tuan muda,"
Semua orang masih menunggu Ikram menyelesaikan ucapannya dan tidak ada yang berani bicara, bahkan termasuk Maheza, laki-laki itu kini sedang bertarung dengan hati dan pikirannya sendiri.
"Ah, aku lupa, kenapa kalian semua bisa ada di sini?" tanyanya.
"Sebelumnya kami meminta maaf kepada Anda atas semua hal yang sudah terjadi pada anda, itu adalah keteledoran kami yang membiarkan manusia-manusia sepertinya tetap hidup dengan bebas di negara ini,"
"Lalu?"
"Kami ingin bertanya hukuman seperti apa yang anda inginkan untuknya? bersama ini saya juga membawa menteri Kehakiman dan kepala Jaksa yang akan menangani kasus itu," tambahnya.
Ikram beralih menatap Maheza di depannya, "Hukuman seperti apa yang kau inginkan tuan Maheza?" tanyanya pada Maheza.
Maheza semakin bergetar ketakutan, iya sudah tidak tau harus apa, ini seolah jebakan baginya, "jika kalian bertanya padaku, aku hanya menginginkan kedua tangan dan kakinya," jelas Ikram dengan tegas tanpa ragu.
"Tuan muda," ucap mereka semua tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
TO BE CONTINUE