
Hari ini Ellia bangun lebih pagi dari biasanya, ia menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuh Ikram yang masih tidak boleh terkena air, tak hanya itu, ia juga membongkar sebuah tas yang kemarin di kirim oleh orang suruhan Ifraz, mengambil sebuah kaos dan pakaian santai yang akan membuat suaminya leluasa bergerak, sebuah parfum khas suaminya itu juga tak ketinggalan ia bawa.
Sebelum membersihkan tubuh suaminya, Ellia terlebih dulu membersihkan wajahnya dan sikat gigi di kamar mandi, ia hendak membasuh mukanya dengan air kemudian menatap wajahnya yang berada di pantulan cermin.
Sebuah senyum terukir jelas di bibir itu, "dia mengobati lukaku," gumamnya terlihat sebuah salep berwarna putih membekas di sana.
Setelah semua selesai, dengan sebuah bak berisi air hangat dan handuk di tangannya Ellia mendekati Ikram.
Ikram mengerjapkan matanya ketika ada seseorang yang menyentuh tubuhnya, "Umm, Ellia ini jam berapa ?" tanyanya masih sangat mengantuk.
"Masih jam enam pagi, mas Ikram tidurlah lagi," ucap Ellia.
"Kau sedang apa ?" tanyanya yang masih setengah sadar, mungkin karena obat yang ia munum kemaren malam sehingga sangat sulit sekali matanya terbuka.
"Membersihkan tubuh mas Ikram,"
"Iya, tubuhku bau darah, tidak ada yang melakukannya selama beberapa hari, aku bahkan sangat takut untuk mandi,"
"Tentu saja, memang seharusnya hanya aku yang boleh membersihkannya," jawab Ellia keceplosan.
"Hehe," ucapnya ketika melihat Ikram sudah menatapnya dengan sebuah senyum yang semakin membuat tingkat ketampanannaya melonjak tajam.
Wajah itu sudah tidak pucat seperti sebelumnya, "aku akan mengajakmu jalan-jalan hari ini," ajak Ikram.
"Jangan, kita di sini saja, ah tapi aku ingat dokter Ifraz mengajakku naik kapal pesiar miliknya, kata Iriana pantai di tempat ini sangat indah,"
"Tidak seindah dirimu," ucap Ikram menggoda yang mana membuat pipi Ellia memerah.
"Hari ini makan apa ?" tanya Ellia mengubah topik pembicaraan.
"Ada yang memasak makanan di sini, kamu tidak perlu melakukan apapun,"
"Apakah enak ?" tanya Ellia.
Pertanyaan itu tidak di jawab oleh Ikram, pandangan Ikram saat ini terfokus pada bibir istrinya yang terluka.
"Bagaimana aku bisa tidak sadar saat bibirmu terluka sebelumnya, aku hampir telat mengobatinya," ucap Ikram yang masih menatap wajah cantik di depannya.
Ellia tersenyum, "kapan mas Ikram mengobati lukaku?" tanya Ellia.
"Semalam, saat kau tega meninggalkanku tidur setelah Ifraz berteriak," ucap Ikram.
"Tapi dia benar mas, tidak mungkin melakukannya dengan semua luka ini," ucap Ellia.
"Tapi milikmu tidak terluka, dia masih sangat kuat," ucap Ikram tanpa malu.
"Mas Ikram, sudah cukup, jangan di teruskan," ucap Ellia dengan wajah semakin merah, di tambah dengan tangan Ikram yang tidak bisa berhenti bergerak di wajah Ellia, seperti sebuah candu.
"Hahahah," tawa Ikram sangat puas melihat ekspresi istri kecilnya ini.
"Ellia, nanti jangan terlihat terlalu cantik, aku tidak mau kecantikan mu di nikmati semua orang yang ada di sini," pesan Ikram.
"Tidak ada yang melihatku, siapa yang berani melihatku ketika ada mas Ikram di sisiku," tambah Ellia.
"Tapi kan tidak menutup kemungkinan, pokoknya untuk jaga-jaga saja, jangan berdandan terlalu cantik, aku tidak mau membagi wajah ini dengan orang lain, semuanya ini milikku,"
"Mas Ikram juga jangan terlalu tampan bisa tidak?"
"Aku bahkan tidak mandi berhari-hari, bagaimana mungkin masih tampan," jawab Ikram.
Ellia diam, "dia tidak mandi berhari-hari dan pucat seperti ini saja masih terlihat tampan, bangun tidur pun tetap tampan, huft," batin Ellia.
Cup
Ellia membeku, "aku mendengar detak jantungmu," ucap Ikram.
"Mas Ikram kenapa jadi panas begini," ucap Ellia mengibaskan tangannya ke arah muka seolah hendak mengipasi wajahnya yang terasa panas.
"Kalau aku sembuh, hal pertama yang aku lakukan adalah memakan mu, aku sudah tidak sabar hari itu," ucap Ikram.
"Mas Ikram, mesum, kenapa pikirannya selalu ke arah sana," ucap Ellia dengan pipi sudah seperti kepiting rebus.
"Ha ha ha ha,"
Klik klik sebuah pintu terbuka.
"Wah, kalian sudah tertawa di pagi hari," ucap Ifraz yang baru saja datang dengan koper dokter yang entah isinya apa.
"Ah iya pagi," ucap Ellia semakin salah tingkah, khawatir apa yang di ucapkan suaminya sempat terdengar oleh Ifraz.
"Aku akan memeriksa abang lagi," ucap Ifraz yang lebih dulu memeriksa selang infus di tangan Ikram.
"Kakak ipar, bisakah ke kamar Iriana dan bantu akan memintanya mengambilkan makanan, ini sudah waktunya abang makan dan minum obat,"
"Oke," ucap Ellia menjulurkan lidahnya pada Ikram seolah berkata "yeay aku bebas,"
"Lihat saja nanti, aku benar-benar akan membawanya ke tengah laut agar dia tidak bisa kabur dan tidak ada yang mengganggu," batin Ikram.
"Demamnya sudah turun, tekanan darah sudah normal, tapi detak jantung abang sepertinya lebih cepat dari biasanya,"
"Benarkah? kenapa begitu," ucap Ikram pura-pura tidak tau, padahal sudah jelas jawabannya adalah Ellia.
"Aku akan melakukan cek darah lagi agar tidak ada sesuatu yang tidak di inginkan,"
"Sudah tidak perlu cek darah, sudah berapa kali kau melakukan semua cek itu dalam satu hari, padahal tanpa itu pun kau sudah memiliki catatan medis milikku," ucap Ikram.
"Hanya untuk memastikan abang, aku tidak percaya orang lain, khusus abang aku harus mengeceknya sendiri," jelas Ifraz.
Ikram masih memperhatikan adiknya cukup lama, "Kau sudah makan?" tanya Ikram.
"Belum,"
"Sudah berapa hari?"
"Lupa,"
"Astaga, huft," ucap Ikram menarik nafas panjang.
"Eh, kemaren pagi masih makan kok bang, kakak ipar yang menyiapkannya,"
"Kemaren pagi?"
Pluk
Sebuah tangan mendarat di kepala Ifraz seperti sebuah pentungan, "Abang sakit, suka sekali memukul kepalaku," teriak Ifraz.
"Makan saja harus di siapkan, bagaimana jika aku dan kakak ipar mu sudah tidak ada, kau tidak akan makan seumur hidup,"
"Hey jangan berkata seperti itu, mendengar nya saja aku tidak bisa," ucap Ifraz mulai menunjukkan sifat aslinya.
"Huft, setelah ini kita makan bersama,"
"Oke," ucap Ifraz singkat.
"Ifraz,"
"Hm,"
"Kau melepaskan Maheza?"
"Iya, aku bahkan menyiapkan sebuah rumah kecil untuk mereka," ucapnya.
"Adams?" tanya Ikram membuat kepala Ifraz terangkat.
"Hehe, sorry abang hutangnya sudah ku bayar," ucapnya sedikit terkekeh, khawatir Ikram akan marah.
"Tau tidak kenapa aku masih memintamu melakukan banyak sekali operasi dengan dokter-dokter hebat yang kualitasnya sangat jauh di banding dirimu?"
"Tidak,"
"Kita berdua sama Ifraz, bedanya abang lebih dulu melewati banyak hal di usia yang masih sangat kecil dengan banyak sekali keterbatasan dengan kalian menjadi tanggung jawab abang, karena itu abang sudah terlatih menelan banyak sekali kekecewaan, kegagalan, dan lebih bisa mengendalikan diri dari pada kalian,"
"Operasi itu, penyamaran yang bertahun-tahun kamu lakukan, bahkan setiap melakukan operasi abang hanya memintamu menjadi asisten dokter bedah utama, itu karena abang tidak suka melihatmu hilang kendali seperti kemaren," ucap Ikram mengingat betul saat adiknya menampar orang lain di mansion nya kala itu.
"Abang tau,"
"Iraz, nanti kamu cukup jadi dokter yang berkompeten saja, sisanya biar abang yang selesaikan," ucap Ikram mengacak pelan rambut di depannya.
***
Terimakasih untuk semua teman-teman yang masih mau melanjutkan membaca cerita yang hampir semua orang lupakan ini, juga untuk support dan waktu yang kalian luangkan saat memberi like, komentar dan vote.